
Clak
Pak pak pak
Setelah menutup pintu, Geby menepuk kedua tangannya membersihkan debu yang menempel.
"Nak baru pulang? Ngapain di sini?" tanya pak Santo, si penjaga kampus.
"Ah bapak ngagetin saja," ucap Geby mengelus dadanya dan mendapat kekehan dari pak Santo. "Ini pak baru selesai nyapu lapangan,"
"Eh, nyapu lapangan? Apa berhasil nak?" tanya pak Santo.
"Maksudnya berhasil apa pak?" tanya Geby bingung.
"Ya itu, kan daun terus saja gugur, apakah gak gugur lagi tuh daun?" pak Santo.
"Ya tetep gugur lah pak, saya juga menyerah jadi sekarang ingin pulang saja, toh biarpun berhasil sekarang belum tentu besok bersih seperti semula," jelas Geby.
Hahahahaha
Mereka berdua tertawa bersama mengingat hukuman yang tak wajar diberikan pada mahasiswa.
"Pak saya pulang dulu," ucap Geby.
"Ya, hati-hati!" ucap pak Santo kemudian diangguki oleh Geby yang telah berjalan cukup jauh.
Seperti biasa Geby menaiki bus untuk pulang. Hari yang sudah malam membuat penumpang bus tidak terlalu banyak. Hanya beberapa orang yang ada itupun kebanyakan orang yang baru pulang kerja ataupun hanya sekedar cari angin.
Bus berhenti di perhentian bus. Geby turun dan dia tidak langsung pulang, dia memilih duduk sejenak di kursi tunggu halte bus.
"Ah...beda dengan saat di kampus dalam keadaan sepi tadi. Disini sangat ribut dengan suara-suara kendaraan. Udaranya pun tak sesegar tadi," gumam Geby sambil menghirup udara yang penuh polusi sambil memejamkan matanya merasakan semilir angin menyapu wajahnya.
Tin tin
Suara klakson mobil mengagetkan Geby yang sedang bersantai.
"Adam?"
Itu mobil Adam yang mana dia berhenti di depan Geby.
"Kenapa masih di sini? Tidak pulang?" tanya Adam.
"Ini baru mau pulang," jawab Geby seraya bangkit dari duduknya. "Kamu mau pulang juga?" tanya Geby yang melihat arah mobil Adam menuju arah japan ke mension.
"Ya, cepat masuk," ucap Adam.
Di dalam mobil hanya ada keheningan yang ada sampai Adam membuka suara.
"Sudah makan?" tanya Adam tanpa menoleh.
__ADS_1
"Belum!" jawab Geby seadanya.
"Kalau begitu kita makan dulu. Kau ingin makan dimana?" ucap Adam.
"Di pinggir jalan saja," putus Geby.
"Hah? Dipinggir jalan?" sekarang Adam baru menoleh tatkala mendengar keinginan Geby yang ingin mkan dipinggiran jalan.
"Kalau tidak mau tidak usah," ucap Geby cuek. Lapar sih lapar, tapi kalau makan di resto Geby tak berselera. Dia ingin merasakan makanan pinggiran.
"Baiklah!" ucap Adam.
Mobil mewah berwarna hitam itu pun berhenti di pinggir jalan, atau tepatnya di warung makan pinggiran jalan.
Geby tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya dia terus saja tersenyum kecil. Inginnya tersenyum lebar, tapi tidak sesuai dengan dirinya yang selalu berekspresi datar, menurutnya.
Perut mereka telah kenyang. Adam keluar setelah mendapat sebuah panggilan diponselnya. Dan saat masuk ekspresinya menjadi dingin dan memanggil Geby untuk bicara.
Geby mengikuti dan berhenti saat Adam juga berhenti.
"Mau bicara apa?" tanya Geby.
"Apakah kuliahnya lancar?" tanyanya.
"Iya! Lancar kok," Geby.
"Apakah ada yang mengganggumu?" Adam.
"Sudah ku duga!" gumam Adam berbalik membelakangi Geby. Kemudian Adam kembali berbalik menghadap Geby.
"Kenapa kamu harus melakukan ini? Kau bisa memintaku atau anak buah ku untuk melakukan sesuatu untukmu menyelesaikan masalah, ahar tak berkelanjutan. Aku tidak ingin melihat kau terluka atau pun sakit. Kau tahu kan aku banyak musuh, mungkin saja salah satu yang mengganggumu itu adalah suruhan dari musuhku. Kau tidak tahu siapa saja mereka," ucap Adam dengan nada sedih.
Tak ada orang lain selain mereka berdua di sana. karena Adam telah meminta kepada bawahannya untuk menjaga daerah setempat agar tak ada pengganggu saat mereka berdua berbicara.
Geby tertegun dengan pemandangan baru yang di tunjukkan oleh Adam pada dirinya. "Adam? Kenapa dia seperti ini, aku jadi tidak enak selalu mengabaikannya kalau dia seperhatian ini terus padaku," batin Geby.
"Jawab aku, apakah kau sebegitu tak percayanya padaku? Apakah tidak ada sedikit pun rasa padaku? Aku...aku...sudahlah...aku akan pergi," Adam pun meninggalkan Geby tanpa menunggu jawaban dari Geby. Dia tidak siap dengan setiap kata-kata yang akan dikeluarkan Geby yang selalu akan menolak dirinya.
"Tung...," Geby berhenti saat ingin memanggil Adam. "Sudahlah...biarkan dia sendiri dulu, nanti aku akan bicara padanya," gumam Geby yang akan mengejar Adam setelah sadar dari ketertegunannya, tapi...
Puk
Tepat di tengkuk Geby, ada seseorang yang memukulnya membuatnya tak sadarkan diri setelah sosok Adam tak terlihat lagi.
Lain hal nya dengan Geby yang dibawa kemana oleh seseorang, lain lagi dengan seorang pria yang sedang mengamuk melempar apapun di hadapannya kepada para bawahannya yang ketakutan.
Setelah berpisah dengan Geby, Adam mendapat laporan bahwa Geby tak di temukan dimanapun setelah Jai menunggu lama di mobil yang diminta Adam untuk mengantarnya.
"Bagaimana bisa kalian lengah? Kalian benar-benar tidak becus, keluar!" teriak Adam marah.
__ADS_1
Bawahannya yang sudah babak belur dipapah keluar untuk diobati.
"Jai, Ronald, Mario, cari tahu siapa yang menculiknya," perintah Adam.
"Baik!" jawab mereka serempak.
Ting ting ting ting
Ponsel Adam berbunyi. "Nomor siapa ini?" ucap Adam. Lalu dia mengangkatnya.
"Siapa ini?" Adam.
"Hei yo, lama tak berbincang ya?" ucap seseorang dari seberang.
"Siapa kau? Apa maumu?" tanya Adam semakin dingin.
"Santailah! Aku hanya ingin memberitahu kalau gadis yang kau cari itu ada bersamaku," ucapnya.
Adam menatap ketiga orang sahabatnya itu dan mengkode mereka untuk meretas nomor panggilan itu.
"Jangan main-main!" nada suara Adam semakin dingin.
"Oh oh, aku tidak main-main. Aku hanya ingin membalas rasa sakitku padamu, kau tahu? Aku adalah seorang adik yang di tinggal seorang kakak perempuan mati, hanya karrna sang kakak di tolak oleh seorang pria angkuh," ucap orang diseberang dengan nada marah.
"Kau tahu, aku akan membuatnya menghilang dari dunia ini juga kalau kau tidak mati hahahaha. Itu akan lebih menyenangkan untukku melihatmu lebih menderita hahahaha," tawa gila terdengar dari seberang.
"Siapa kau?" tanya Adam lagi dengan menahan amarahnya.
"Ho kau tak kenal suaraku? Aku Angga adik Tania, perempuan yang selalu meminta perhatian dan kasih sayangmu,"
Adam mengingat-ingat perempuan yang bernama Tania, tapi. Sungguh dia tak ingat.
"Jangan bilang kau melupakannya," ucap Angga marah.
"Lalu apa maumu kalau aku memang aku lupa? Aku merasa tak pernah mengenal yang namanya Tania ataupun Angga," ucap Adam berusaha mengukur waktu untuk mencari lokasi si penelepon.
"Kau! Aku akan membunuhnya lihat saja,"
Tut
Tut
Tut
Sambungan telepon terputus. "Bagaimana hasilnya?" tanya Adam. Dan diancungi jempol oleh Mario.
__ADS_1
Happy Reading