Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.43


__ADS_3

Wajah bak besi dipanaskan, Nina sangat-sangat marah, hampir dia lupa caranya bernafas dengan benar.


"Beraninya memanggilku binatang?!" ucap Nina marah sambil menunjuk Geby yang berdiri dengan santainya. "Sini biar kurobek mulut kotormu itu!" ucap Nina seraya ingin maju mendatangi Geby, tapi ditahan oleh Hani.


"Nina, tenangkan dirimu! Dia hanya berkata sembarangan, sabarlah," ucap Hani sambil menahan lengan Nina agar tak lebih mendekat kepada Geby.


"Tidak! Dia harus menerima ganjarannya, tapi tidak sekarang," ucap Nina berontak melepas cekalan dari Hani dan Feni.


"Aku akan membalas semua penghinaamu ini. Tunggu saja nanti!" ucap Nina menunjuk Geby seraya pergi meninggalkan diikuti Hani dan Feni.


Tersisa Geby di taman sendirian. Dia menghela nafas. "Huuhh! Semakin banyak saja masalah. Aku sudah menghindarinya tapi selalu saja ada yang datang," ucap Geby meratapi nasibnya yang selalu dikelilingi masalah yang terus menghampirinya.


Geby tak memiliki jam kuliah lagi dan diapun memilih pulang.


Merasa sangat bosan karena tak ada yang bisa dikerjakan Geby sekarang. Pasalnya dia tak lagi berurusan dengan dunia bawah, misi atau apapun itu, jadi apakah sekarang dia harus keluar untuk bersenang-senang?


"Apakah aku harus meminta ijin dengan Adam? Ku rasa harus deh, karena kalau diingat hari itu, hiih...hukumannya ngeri. Apa aku beritahu melalui pesan singkat saja ya? Ya itu saja deh, dari pada tak sama sekali kan,"


Geby pun mengetik pesan untuk meminta ijin pada Adam.


'Aku akan keluar, jadi jangan mencariku, aku tidak akan pulang larut malam,' isi pesan yang akan dikirimkan Geby kepada Adam.


Tak...


Geby langsung memasukkan ponselnya kedalam tas kecilnya tanpa menunggu balasan dari Adam.


Geby keluar mension Adam dengan senang dan...


"Maaf nona, nona mau kemana? Apakah sudah memberi tahu tuan kalau nona ingin keluar mension?" tanya Roi kepala keamanan mension Adam. Orang terpercaya untuk menjaga mension dan sekaligus anggota mafia yang di ketuai Adam. Dia sudah diperintahkan Adam selain menjaga keamanan mension dia juga harus mengawasi kemana pun Geby akan pergi.


"Em, aku sudah mengirim pesan padanya, tapi...oh tunggu...," Geby mengeluarkan ponselnya mencek apakah ada balasan dari Adam atau tidak. "Nah ini, dia mengijinkanku untuk keluar," ucap Geby sambil menunjukkan isi pesan balasan dari Adam.


"Baiklah nona, kalau begitu apakah nona memerlukan supir?" tanya Roi.


"Tidak perlu, aku akan naik taxi saja," ucap Geby.


"Tapi...," ucapan Roi berhenti seketika saat Geby menaruh jari telunjuknya dibibirnya sendiri. "Suuutt, tak ada tapi-tapian, kalau Adam marah aku yang akan bertanggung jawab, kau tenang saja," ucap Geby yang langsung pergi tanpa ingin mendengar bantahan dari Roi lagi.

__ADS_1


Geby manaiki taxi yang diberhentikannya. "Menuju jalan X ya pak," ucap Geby. Ya Geby baru saja mendengar dari pekerja rumah bahwa akan ada pasar malam, dan karena hari masih siang dia memilih jalan-jalan dan melihat-lihat tempat yang tak jauh dari pasa malam tersebut.


"Baik non," ucap pak satpam yang kemudian melakukan taxi nya.


Tak berapa lama Geby sampai karena jalanan masih tak terlalu banyak pengendara.


"Jadi ini tempatnya. Sayangnya hanya malam hari bukannya ya, kalau siang hari bakalan rame nih," gumam Geby sambil melihat pasar malam yang masih tutup karena masih siang.


Tak ingin membuang waktu, Geby pun berjalan-jalan santai menyusuri pertokoan yang berjejer di pinggir jalan. Ada toko pakaian, ide cream, dan sebagainya.


Dan yang tak Geby duga ada bar. "Masuk apa tidak ya?" batin Geby yang ragu. "Masuk aja deh,"


Geby pun memutuskan masuk, dan sebelum masuk pun para penjaga pintu meminta kartu identitas bahwa Geby telah diatas 18 tahun dan setelah selesai Geby pun di izinkan masuk.


Yah meskipun Geby lama bekerja di dunia bawah, tapi dia masihkah anak baik yang tak pernah masuk bar untuk bersenang-senang atau pun iseng, kecuali untuk misi.


Saat di dalam Geby merasa tak nyamab dengan suara musik yang keras, dia akan pergi tapi.


"Hei manis mau kemana?" seorang pria setengah sadar merangkul Geby.


"Lepas!" ucap Geby dingin masih dalam keadaan sabar.


Krak krak


Bunyi tulang geser terdengar, karena memang suasana masih hening karena si pemain musik tak memainkan musiknya.


"Hei bajingan, kau tak sepantasnya memaksa seorang gadis untuk menemanimu minum," ucap seorang pria dengan gagahnya berbadan tinggi berambut silver.


"Memangnya apa hubungan dengan gadis ini, sehingga kau melarangku mengajaknya?" tanya pria itu dengan kesadaran yang mulai memilih karena rasa sakit yang diadakannya.


"Hubungan teman baru," ucap pria silver sambil merangkul pundak Geby. "Jadi, jika kau ingin mengajaknya dan dia tidak mau maka kau akan berhadapan dengan ku," ucapnya sambil menunjuk dirinya dengan percaya diri.


Pria mabuk itu marah dan mengata-ngatai Geby. "Mana ada wanita baik yang masuk kedalam bar. Wanita jalang tetap saja wanita jalang!" lagi saat pria mabuk akan berkata-kata kasar terhadap Geby...


Bughhh...


Bruukkk...

__ADS_1


Uhuk uhuk...


"Pria bajingan, tetap saja bajingan!" ucap Geby setelah menendang tepat di wajah pria mabuk hingga menabrak dinding bangunan.


Ekspresi semua yang melihat seketika pucat pasi..."Ganas sekali," mungkin itu fikiran mereka semua.


"Heh!" setelah cukup membuat kekacauan Geby pun keluar dari bar. "Seru juga! Sudah lama tak memukul orang hehe," batin Geby.


Malam tiba dan pasar malam pun telah dibuka. Tapi sayangnya mood Geby buruk karena seorang penguntit terus menempelinya. "Bisakah kau tak mengikutiku?"


"Kan kita teman baru, jadi bolehlah ini jalan-jalan untuk merayakan pertemanan kita,"


"Tio!" Geby benar-benar kehilangan moodnya untuk bersenang-senang sekarang.


"Ya? Itu namaku!"


Geby menatap kesal Tio yang di balas Tio dengan tatapan cerah dan senyuman senang.


"Ekhem," siapa lagi itu yang berdehem?


Geby berbalik dan matanya membulat sempurna. "Adam? Ngapain disini?" tanya Geby.


"Nyusul kamu! Tapi kulihat kau sudah memiliki teman untuk bersenang-senang," ucap Adam sinis.


"Ahhhh, bakal runyam nih. Tapi dibanding Tio, Adam lebih tenang, tidak seperti Tio yang banyak bicara dan membuat kepalaku pusing," batin Geby.


"Tidak tidak, dia orang yang baru kenal juga. Kalau kau ada waktu mau meminum aku main disini?" tanya Geby.


Bagai bunga bermekaran dengan ribuan kupu-kupu memenuhi dada Adam. Dia begitu senang, karena pertama kali Geby mengajaknya, tapi kesenangan itu di tutupinya dengan wajah datarnya.


"Baik!" ucap Adam setuju.


Geby berbalik dan akan bicara tapi...


"Baiklah aku mengalah sekarang, tapi lain kali tidak," ucap Rio yang wajahnya telah berubah datar saat menatap Adam dan saat menatap Geby masih ramah dengan senyuman.


__ADS_1



Happy Reading


__ADS_2