Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.54


__ADS_3

Di suatu tempat yang sangat gelap saat ini Geby tak sadarkan diri. "Ughh leherku sakit," keluh Geby memijit-mijit pelan lehernya yang sakit saat dia tersadar.


Matanya terbelalak saat melihat keberadaannya saat ini. Dia sekarang berada di sebuah ruangan yang sangat gelap, lembap dan bau amis darah sangat tercium.


Pat


Ruangan yang mulanya gelap menjadi sangat terang sampai membuat Geby memejamkan matanya karena silau.


Dia membuka matanya dan mendapati seorang perempuan dengan sangat-sangat mengkhawatirkan dan seorang pria berada di hadapannya siap untuk menyiksanya kembali. Mengapa kembali? Karena sebelumnya dia mendengar jeritan seseorang.


Ternyata dia berada di sebuah tempat yang mirip sebuah gudang atau bangunan tak terpakai. Perhatian Geby teralihkan dari melihat-lihat ruangan itu.


"To-tolong se-selamatkan a-aku." ujar perempuan itu memelas. Matanya membengkak, wajahnya penuh dengan lebam bekas kekerasan fisik, disudut bibirnya terdapat bekas luka.


Geby hanya menatapnya dengan datar, tapi tidak ada yang tahu apa isi hati Geby. Pria itu menatap tajam Geby yang ditanggapi acuh oleh Geby dan datar oleh Geby yanhmg tanpa ada rasa takut melihat penyiksaan di depannya.


Seperti angin yang berhembus, kaki Geby berlari dengan sangat cepat kearah pria itu dan kini sudah berada persis dibelakangnya. Dengan pecahan kaca yang di dapat oleh Geby di bangunan tua tersebut, dengan cepat Geby menggores pergelangan tangan pria itu dan lagsung menarik wanita tersebut dengan cepat.


Arghh, teriak pria itu dengan kencang membuat teman-temannya yang di kuar masuk.


Bahkan pria itu tak menyadari kapan gadis itu berpindah, apa lagi wanita yang menjadi sandera pria itu, dia sangat terkejut sampai mematung akibat ulah Geby yang membuat dirinya berada di posisi lain dalam waktu yang sangat cepat.


"Apa yang terjadi?" dua orang pria berbadan kekar masuk bersamaan.


Axila terlihat seram saat ini, namun senyum sinis menghiasi wajahnya. Kedua pria yang baru masuk tadi menatap marah kearah Geby disisi kanan dan kiri mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya pada gadis itu, namun tak membuat Axila takut. Pria yang mendapat goresan ditangannya menyingkir membiarkan kedua temannya membereskan Geby yang ternyata telah mengambil belati ditangannya.


Dorr!!


Dor!!


Keduanya menyerang Axila, namun gadis itu dengan santainya menangkis timah panas itu dengan belatinya.


Prangg!!


Prangg!


Mata mereka membulat melihat bagaimana dengan santainya Geby itu menangkis peluru yang sudah pasti akan merobek kulitnya.


"Monster!" ujar seseorang dan mengalihkan perhatian mereka pada pria yang entah apa jabatannya.


"Angga?" Geby tak percaya kalau. Di tempat itu juga ada Angga.

__ADS_1


"Ya, ini aku, Angga. Kenapa?" ucapnya sombong. Sangat berbeda dari hari-hari biasa saat mereka bersama.


Geby telah faham dengan siatuasi yang ada. "Penghianat!" ucap Geby dengan nada dingin dan menatap tajam Angga.


"Hiii, takuttt!" ledek Angga dengan Geby.


Geby sudah muak dengan yang namanya penghianat.


Kedua anak buah yang menyerang Geby sebelumnya kembali menyerangnya hingga belati itu terlepas dari tangan Geby.


Namun bukan terjatuh kelantai, tapi malah tertancap di ulu hati salah satu dari mereka.


Mata yang terkena serangan Geby terbelalak kaget, tangannya melepas pistol yang dia pegang. "Kau!" marah tekan satunya dan yang lainnya yang baru datang lagi.


Belum sempat menyerang yang satunya kembali kena serangan dari Geby yang telah berhasil mengambil alih pistol.


Dor!!


Dor!!


"Ka-kau! Monster!!" pekik pria itu, masih tersisa dia yang sadar dan bernafas.


Sedangkan perempuan yang di tolong Geby sebelumnya itu terus ketakutan, ia melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana semua orang didalam sana tumbang tatkala Geby dengan kejamnya menghabisi anak buah Angga dan sekarang hanya menyisakan Angga seorang.


"K-kau!" Angga meraih senjatanya dan mengarah pada Geby.


"Jangan mendekat kalau kau tak ini peluru ini menembus kepalamu!" bentaknya pada Geby.


Geby tersenyum sinis kepada Angga, tidak terlihat sama sekali rasa takut di matanya.


"Kau mengancam seorang monster hanya menggunakan pistol itu?.. apa kau yakin?!" ucap Geby.


Angga sekarang sedang menggigil, bukan karena dingin melainkan karena ketakutan. Dia tak menyangka kalau Geby yang sudah di dekatinya untuk mencari informasi semenakutkan ini.


Tubuhnya tak dapat digerakkan, dia gemetar ketakutan tapi dia berusaha tak menampakkan itu, meski tetap lah tampak dimata Geby.


"Aku tidak tahu apa salahku padamu Angga, sehingga kau melakukan ini terhadapku. Tapi jikapun kau menyesal maka itu sudah terlambat karena aku sangat membenci yang namanya penghianat," ucap Geby penuh penekanan.


"S-salahkan pasanganmu," ujar Angga gagap.


Pasangan? "Siapa maksudmu?"

__ADS_1


"Adam!...Dia adalah orang yang menyebabkan kakak perempuan ku bunuh diri dan aku ingin dia juga merasakan ditinggal orang terkasih," jelas Angga.


Geby tak bisa berkata-kata. Dia bingung di bagian mana dia yang salah. Benar dia adalah istrinya Adam tapi benarkah dia spesial bagi Adam?


Wajh Geby yang awalnya dingin mulai melemah karena sekarang dia faham dengan semua sikap baik Adam terhadapnya. "Jadi selama ini dia peduli padaku dan emm men-mencintaiku? Apakah itu yang dilihat orang-orang?" batin Geby.


"Oh! Itu sih bukan salahku maupun salah Adam. Kakakmu saja yang tidak dapat menerima... Oh memangnya kakakmu mati kenapa? Di tolak Adam?" Geby.


Grrr Angga benar-benar marah melihat Geby yang begitu tenang dan santai menanggapi kematian kakaknya.


"Kau!"


Dor!!


Dor!!


Angga menembak Geby dan untungnya Geby dapat menghindar dengan enarik perempuan yang menggigil ketakutan dibelakangnya.


"Jangan salahkan aku tidak memandangmu temanku lagi kecuali penghianat Angga," marah Geby.


Dor!!


Dor!!


Kaki kanan serta tangan Angga yang memegang pistol di tembus oleh peluru Geby.


Arghhh.


Geby langsung mengambil pistol pada Angga dan meninggalkan Angga begitu saja dalam keadaan kesakitan.


Dia mengambil Jas milik pria yang sudah tak bernyawa dan memberikannya pada wanita tadi, bahkan Geby mendudukkannya dengan perlahan diatas kursi sambil memakaikan jas pada tubuhnya dan merobek kemeja para pria itu untuk mengikat luka-luka yang di derita perempuan itu.


Semua perlakuan Geby tak luput dari tatapan perempuan itu, meskipun merasa takut namun ia sangat kagum dengan cara Geby memperlakukannya.


Geby menatap wanita itu. "Ayo pergi!" ucapnya tanpa mau membantu perempuan tadi berjalan ataupun sekedar, yah tau saja sendiri. Karena menurutnya perempuan itu masihlah kuat hanya sekedar untuk berjalan.


Saat langkah kakinya sudah berada tepat di depan pintu, terdengar suara seseorang yang terjatuh dan segera Geby berbalik.


Bruggg!


__ADS_1



Happy Reading


__ADS_2