Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.52


__ADS_3

Ekhem, seseorang itu masih berdehem berusaha menarik perhatian Geby yang sangat acuh padanya.


"Tidak ada teman nona?" ucap pria itu.


Geby mendongak mencari tahu siapa yang mengajaknya bicara.


"Tio?" Geby.


"Ya!" Tio.


"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Geby datar.


"Umm, ini adalah pesta ulang tahun adikku, jadi sudah sewajarnya aku ada di sini bukan," ucap Tio dengan mada terpaksa mengatakan kalau Sila adalah adiknya.


"Benarkah?" ucap Geby merasa ragu dan dia melihat secara bergantian antara Tio dan Sila. "Tidak mirip sama sekali!" ucap Geby kelewat santai.


"Uhuk uhuk," Tio tersedak air minumnya sendiri. "K-kau terlalu santai mengucapkannya. Apakah kau tidak takut kalau ada yang akan membencinya? Atau membuat maslah dengan perkataan itu?" Tio tak habis fikir dengan sikap acuh Geby.


"Apa yang harus di takutkan, kau tahu sendiri aku ini siapa kan, hanya kau yang tahu sih tapi tak apa. Lagi pula dari ekspresimu kau...," ucap Geby berhenti saat Tio menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Geby dengan memelankan suaranya.


"Kau akan tahu cepat atau lambat," jawab Tio yang membut Geby semakin penasaran, tapi Geby tak akan memaksa, karena setiap orang memiliki masalah pribadi.


"Tio, siapa gadis ini?" tanya seorang pria paruh baya kepada Tio.


Eskpresi Tio tiba-tiba berubah menjadi datar. Bukan seperti Tio yang barusan bercanda dengannya, tapi terlihat wajahnya tidak senang saat kedatangan pria paruh baya itu.


Tio tak menjawab pertanyaan pria paruh baya tersebut dan kemudian pria paruh baya itu pun beralih bertanya kepada Geby.


"Siapakah nama nona muda ini?" tanyanya.


"Saya Geby om, temannya Tio," jawab Geby ramah tapi tidak dengan senyum yang berlebih, hanya senyum tipis, bahkan sangat tipis.


"Oh teman? Perkenalkan nama om Satrio, ayahnya Tio. Om baru pertama kali melihat Tio bicara dengan seorang gadis loh, kamu yang pertama," ucap om Satrio.


"Hmm, benarkah?" ucap Geby berbasa basi.


Tio semakin merasa tak nyaman, begitu juga Geby yang tak biasa bicara masalah orang lain selain memperhatikan dirinya serta orang-orang terdekatnya.


"Yah, kami akan pergi dulu," ucap Tio langsung kemudian menarik lembut tangan Geby.


Satu jam, dua jam, akhirnya pesta selesai, tapi Angga tak kunjung kembali.


Geby menunggu taxi, tapi karena sudah sangat malam tak satupun taxi lewat. Selain terlalu malam, wilayahnya juga jarang di lewati taxi.


"Bagaimana pulangnya?" bingung Geby. "Apa jalan kaki saja, tapi pake ginian," lanjutnya sambil melihat keseluruh tubuhnya yang paatinya akan sangat menarik minat para penjahat untuk mendekatinya. Bukannya takit, hanya saja dia sangat lelah, belum lagi besoknya masuk kuliah.


Citttt


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Geby.


Kaca mobil turun dan menampilkan sosok tak asing bagi Geby.

__ADS_1


"Kenapa bengong? Cepat masuk," seseorang itu adalam Adam. Entah tahu dari mana dia bahwa Geby berada di sana.


Geby sadar dari kebingungannya dan langsung masuk.


Beralih pada sebuah bangunan mewah yang di dalamnya seorang pria tampan tergesa-gesa mengambil kunci mobil setelah melihat seseorang yang dikenalnya. Dia berniat untuk mengantarnya pulang.


"Mengapa dia tak mengatakannya padaku, kalau dia pulang sendiri? Disini jarang ada taxi," gerutunya.


Tapi gerutuannya menghilang dan digantikan keterdiaman dengan wajah marah.


Dari atas lantai dua dibalik kaca jendela, terlihat ekspresi tidak senang dari Tio. "Untuk yang sekarang aku tidak akan menyerah! Tunggu saja nanti!" ya, seseorang yang tergesa-gesa tadi adalah Tio.



The Next Day



Sayup-Sayup suara kicauan burung membangunkan seorang gadis yang sedang tertidur lelap. Cahaya mentari perlahan masuk dari celah-celah gorden, Menyinari sebagian wajah sang gadis. Sesaat raut wajah itu merengut merasa agak terganggu dengan cahaya mentari yang mengenai wajahnya. Perlahan kelopak mata itu terbuka memperlihatkan mata indah berairnya. Dia perlahan bangun masih dengan ekspresi mengantuk, Menguap kecil dan merenggangkan badannya sesaat.



Dia meranjak dari kasur, Berjalan mendekati gorden dan membukanya. Tak lupa membuka jendela agar udara pagi masuk ke kamarnya.



Rambutnya sedikit acak-acakan khas bangun tidur. Sesaat netra Geby melirik taman yang berada di halaman depan




Dengan malas dia berjalan menuju kamar mandi, mengabaikan keberadaan Adam yang entah sedang apa.



Tak sampai 15 menit Geby sudah berpakaian rapi dengan wajah yang tampak segar dari sebelumnya setelah mandi.



Sweater lengan panjang berwarna coklat dan celana panjang berwarna hitam sedikit longgar. Dia mengikat rambut panjangnya tinggi.



Geby menuruni tangga dengan santainya, berjalan menuju ruang makan.



Klak


Pintu terbuka dan di dalam sudah ada Adam? Tumben?


__ADS_1


"Pagi!" sapa Geby.



"Pagi!" sahut Adam.



Geby duduk di tempat nya menunggu hidangan yang masih belum selesai.



Tak lama makanan telah selesai di masak dam di susun rapi di atas meja.



Mereka makn dengan tenang tanpa ada sedikitpun suara, kecuali suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.



"Hari ini apakah kau akan ke kampus?" tanya Adam.



"Hmm, ya! Kenapa?" Geby.



"Tidak... Hanya saja aku merasa tidak enak. Seperti akan terjadi sesuatu, tapi tidak tahu," ucap Adam dengan wajah penuh ke khawatiran.



Geby menjadi bingung. "Tenanglah, aku akan baik-baik saja! Kalau begitu aku permisi duluan takut telat," ucap Geby yang kemudian pergi dari ruang tamu.


Lagi-lagi di kampus ada yang mencari masalah dengan Geby. Kali ini seorang pria dengan teman-temannya. Mereka senua babak belur sampai ada yang masuk rumah sakit. Geby mendapat hukuman membersihkan lapangan kampus selama satu minggu.


Dan hari ini adalah hari terakhir Geby menjalani hukuman. Yah meski tiap harinya Geby akan mendapat hukuman tambahan, karena tidak selesai menjalankan tugasnya.


Sekarang dihadapan Geby daun kering berguguran, berterbangan ke sana kemari membuat lapangan kembali penuh daun setelah sebelumnya telah di bersihkan dengan susah payah.


Keadaan yang sepi membuat suasana hati menjadi gundah tatkala mengingat kenangan-kenangan masa lalu bersama teman-teman.


"Aahhh mengapa jadi mellow gini sih," gumam Geby seraya menyeka setitik air mata yang jatuh dari mata indahnya.


Geby telah membersihkan lapangan ini sedari sore dan sekarang sudah hampir malam dan pekerjaannya belum juga selesai.


"Huh, bagaimana semua ini bisa selesai kalau daun-daun kering itu tidak berhenti gugur," kesal Geby. "Ah biarkan sajalah, yang penting aku sudah berusaha mengerjakannya toh kalau pun sekarang bersih belum tentu besok. Biarkan saja besok dapat hukuman lagi, lagi pula bukan salahku juga, jadi dengan senang hati aku akan mengerjakan hukumannya sekedar untuk membuat suasana baru dan melupakan masalah lainnya," ucap Geby bicara dengan dirinya sendiri.


Geby pun mengambil sapu dan serok yang telah dia gunakan untuk menyapu halaman dan mengembalikannya ke gudang.



__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2