Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.27


__ADS_3

Pagi ini Geby lumayan telat bangun, karena memang badannya pegal-pegal, apalagi kakinya yang sebelumnya berjalan hampir satu jam.


"Hoaammmm.... Baiklah, sekarang waktunya hidup tenang," ucap Geby masih lemas.


Geby mandi, setelah itu berpakaian santai, hoodie abu-abu dipadukan dengan celana hitam panjang. Tak lupa rambut diikat ekor kuda, menaburkan bedak setipis mungkin dan terakhir pelemban bibir.


Yang pertama, dia makan terlebih dulu dengan membelinya di warung bu Sumi, karena memang bu Sumi berjualan makanan seperti, nasi, sayur, ikan daan sebagainya, sejenis warung makan.


"Pagi bu," sapa Geby.


"Eh nak Geby?" ucap bu Sumi terkejut dengan kecantikan alami Geby.


"Iya bu? Oh bu saya pesan makan satu ya, makan di sini aja," ucap Geby yang duduk di kursi dengan meja yang memanjang.


"Bu?" panggil Geby yang melihat Bu Sumi tak bergeming.


"Eh ya ya? Oh astaga ibu sampai pangling ngeliat nak Geby, cantik banget," ucap Bu Sumi.


"Ibu bisa aja,"


Makanan telah tersedia dan Geby pun mulai memakannya. Hanya Geby yang ada di warung tersebut karena memang hari masih terbilang pagi dan juga niat Geby agar tak banyak orang yang tahu keberadaannya cukup ketua RT, bu Sumi, pak Antro dan para tetangga sekitar saja yang tahu keberadananya.


Setelah kembali dari warung bu Sumi. Geby pun mulai merapikan pakaiannya. Setelah selesai dengan itu Geby pun mulai menyapu mengepel serta mengatur perabotan yang dapat dia pindahkan sendiri.



"Bagaimana?" tanya Adam pada Jai dengan datar.



"Kembali lagi seperti semula," batin Jai jengah. "Tidak ada kabar, Dikha dan Ardikha pun takemberitahukan keberadaannya, katanya setelah pergi dari villa tersebut mereka tak kontak lagi," ucap Jai.



"Cari terus!" perintah Adam.



"Baik," sahut Jai.


Hari berikutnya Geby terbangun dengan dengan perasaan senang. Geby tak sabar untuk menjalani kehidupan normalnya.


"Tapi bagaimana sekarang? Aku kan juga perlu uang untuk makan dan bayar uang sewa? Aku harus bekerja, tapi bagaimana mencari pekerjaan, aku tak memiliki surat-surat untuk melamar kerja. Kalau bikin akan sulit dan akan ketahuan," Geby terus berfikir dan berfikir.


"Ah bagaimana kalau aku diam-diam menemui keluargaku. Aku harus menghubungi Dikha atau Ardikha dulu, tapi ponselku...ah sial gara-gara Adam aku tak bisa hidup tenang," ucap Geby frustasi.


Celana jins hitam, kemeja armi, rambutnya di sanggul tinggi, dengan masker hitam terpasang diwajahnya menampilkan gadis muda pada umumnya.


"Siap, sekarang kita harus mencari telepon umum," ucap Geby semangat.

__ADS_1


Geby berjalan melewati gang-gang untuk menuju kejalan raya. Setelah Sekian lama akhirnya dia menemukan telpon umum.


Geby pun langsung menelpon Dikha, hanya nomor itu yang dia ingat.


"Hallo," Suara di seberang sana.


"Hallo Dik, ini aku Geby," ucap Geby.


"Geby? Kemana saja kau? Kami sangat khawatir," ucap Dikha di seberang.


"Maaf tidak menghubungi kalian sebelumnya," ucap Geby.


"Tidak, itu kalah bagus, karena pamanku selalu mengawasi kami. Ini pun baru kami dapat bebas. Sekarang Ardikha sedang mencarimu, aku akan menelponnya untuk memberitahukanmu. Kau sekarang dimana?" Dikha diseberang.


"Kau datang saja ke telpon umum di jalan XX," ucap Geby.


"Baiklah! Tunggu disana, kami akan segera sampai," ucap Dikha.


Sambungan telpon pun terputus, Geby menunggu di pinggir jalan yang tak terlalu nampak dari jalan raya.


Tin tin


"Geby,"


Geby yang namanya dipanggil langsung keluar dari balik tembok.


Geby yang tadinya ingin bertanya tak jadi dan langsung masuk saja.


Ardikha langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat yang kemungkinan telah tercium oleh anak buah Adam.


Mereka bertiga berhenti di sebuah rumah makan tertutup.


"Ada apa? Apakah ada yang mengikuti kalian?" tanya Geby.


"Kuharap tidak," ucap Ardikha. "Oh ya ada apa kau menghubungi kami?" lanjutnya.


Geby pun menjelaskan semua rencananya untuk menemui keluarganya secara diam-diam. Dia pun nantinya akan menyamar untuk mengelabuhi anak buah Adam yang kemungkinan besar ada disetiap sudut jalan.


"Kau yakin?" tanya Dikha. "Atau kami saja yang mengatur pertemuan kalian, atau hubungi saja mereka," lanjutnya.


"Tidak, itu akan membuat Adam curiga melihat kalian datang kerumah keluargaku bukan? Kalau pun menghubungi mereka itu juga akan ketahuan, kau tahu sendiri seberapa hebatnya pamanmu itu, aku yang baru mengenalnya saja sudah tahu akan hal itu. Dan alasanku bertemu mereka juga karena aku tidak bisa terus begini, aku harus cepat mengembalikan ingatanku dan menyusun rencana kembali untuk kedepannya," ucap Geby.


"Benar juga! Jadi sekarang apa rencanamu?" tanya Dikha.


"Aku akan menyamar," ucap Geby dengan seringaian.


Geby pun pergi ke pasar biasa untuk membeli pakaian yang bukanlah gayanya.


Long dress dengan lengan panjang berwarna biru tua, topi lebar berwarna yang sama tak lupa kaca mata hitam. Penampilan ibu-ibu sosiolita.

__ADS_1


"Geby? Itu kau?" tanya Ardikha yang paneling tak mengenal Geby karena penampilannya.


"hehehe, kau tak kenal bukan? Itu artinya mereka akan terkecoh," ucap Geby percaya diri. "Sekarang giliran kalian," lanjutnya.


Sekarang ini mereka sedang berada di toko baju dan sedang mencoba-coba baju untuk penyamaran.


Ardikha dan Dikha keluar dari ruang ganti. Ardikha dan Dikha menyamar sebagai bodyguard seorang nyonya.


"Sangat cocok," ucap Geby memberikan dua jempol.


Mereka tak menggunakan mobil yang dibawa oleh Ardikha, tapi menggunakan taxi.


Satu jam kemudian mereka sampai di pintu gerbang kediaman keluarga Pradita.


"Permisi," ucap Ardikha pada satpam.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam.


Geby maju menghadapi satpam itu langsung. "Katakan pada pemilik rumah, kalau kami memiliki informasi mengenai puteri yang hilang dikediaman ini," ucap Geby sedikit berbisik.


"Apa maksudmu? Kau jangan bercanda. Tuan dan nyonya sudah sangat putus asa mencari nona, dan baru sekarang ada yang mengetahui informasinya? Kau jangan berbohong, kau bisa masuk penjara," ucap satpam.


"Kau fikir aku bercanda," nada bicara Geby mulai berubah menjadi dingin membuat satpam dan kedua temannya merinding.


"B-baik! Saya akan menyampaikannya kepada tuan rumah, kalian tunggulah di sini," ucap satpam bergegas masuk pos dan menelpon orang rumah.


Beberapa saat kemudian satpam itu keluar. "Tunggulah sebentar, akan ada yang datang kemari," ucap satpam kemudian masuk ke posnya.


Tak lama menunggu sebuah mobil hitam muncul dari dalam gerbang dan seorang pemuda turun dari mobil.


"Dimana orangnya pak?" tanyanya pada satpam.


"Disana tuan muda," jawab satpam menunjukkan kearah Geby dan lainnya.


Pemuda itu langsung menghampirinya. "Informasi apa yang kalian ketahui?" tanyanya tak sabar.


"Tenang kak Farel ini aku Ardikha," ucap Ardikha menenangkan Farel.


"Ardikha? kau tahu itu? Mengapa kau berpenampilan seperti ini?" ya dia Farel kakak tetua Geby.


"Nanti saja menjelaskannya, sekarang cepat bawa kami masuk dulu," ucap Ardikha.


Tanpa bertanya lagi Farel langsung membawa mereka bertiga masuk.




Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2