Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.31


__ADS_3

PoV Kenan on


Aku sangat terkejut saat mendengar suara yang begitu ku rindukan. Apakah ini benar-benar dia? Di saat aku mulai memikirkannya kenapa dia berubah? Menjauh? Sampai-sampai membatalkan pertunangan kami. Apakah dia benar-benar Geby, gadis yang dulunya ku benci karena kerisihanku saat dia selalu menempeliku dan membully Keyza?


Tapi sekarang aku tahu semuanya, semua yang membuatnya seperti itu. Aku hanya tak mengira mengapa dia bisa berubah, apakah karena dia telah menyerah, aku tak menginginkan itu, tapi kenyataannya?


Aku ingin dia kembali seperti dulu agar aku dapat menebus segala kesalahanku yang selalu menganggapnya gadis yang tak baik yang kenyataannya bukan dia yang menginginkannya untuk mengganggu Keyza, tapi Keyza sendiri yang memprovokasi Geby. Aku baru tahu hal itu setelah pertunangan kami dibatalkan. Menyesal? Tentu saja aku sangat sangat menyesal. Setelah mengetahui itu, tapi nasi telah menjadi bubur, semuanya telah terlambat, dia telah pergi dariku, aku telah sangat banyak berbuat salah padanya.


Aku benar-benar menyia-nyiakan berlian yang masih tertutup. Aku benar-benar lelaki yang bodoh, tak bisa dimaafkan, tapi ku harap aku mempunyai kesempatan untuk mengulang dari awal. Tapi harapan hanyalah harapan, aku terlalu egois untuk meminta maaf padanya.


PoV Kenan end


"Ku harap ini benar-benar kau," gumam Kenan menatap Geby sendu.


"Aku akan pergi!" ucap Geby kemudian pergi akan pergi, tapi Kenan mencegahnya.


"Maaf, boleh bicara sebentar?" tanya Kenan. Saat ini Kenan ingin memastikan perempuan di depannya ini adalah Geby.


"Apakah kita saling kenal?" ucap Geby tanpa berpaling.


"Bukan seperti itu, hanya saja aku ingin bicara sebentar. Ada yang ingin ku tanyakan," ucap Kenan.


"Tidak ada yang ingin ku dengar!" ucap Geby yang akan melangkah pergi tapi lagi-lagi di cegah Kenan.


"Please, ku mohon," ucap Kenan penuh harap.


Terdengar Geby menghela nafas dan. "Baiklah, 5 menit," ucap Geby pergi duluan lalu di susul oleh Kenan.


Mereka berdua telah berhadapan, tapi Kenan tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"3 menit," ucap Geby.


"Baik baik. Apakah kau Geby?" Kenan langsung bertanya pertanyaan yang dia sangat ingin jawabannya 'ya'


"Kalau ya kenapa dan kalau bukan kenapa?" ucap Geby.


"Jawab saja, ya atau bukan," ucap Kenan tak sabar.


"Kau tak perlu tahu aku siapa, entah aku Geby atau bukan, karena kau tahu sendiri aku tidak akan memberitahu pada siapa pun siapa aku," ucap Geby. "Karena waktu habis aku akan pergi," Geby pergi meninggalkan Kenan sendiri berdiri bak patung karena tergelam dengan fikirannya sendiri.


"Dimana dia?" sekian menit Kenan baru sadar kalau lawan bicaranya telah pergi.


Dia mencari ketempat balap tapi tak ada dia bertanya pada Alex, kata Alex mereka telah pergi.

__ADS_1


"Haaah, kuharap aku dapat bertemu denganmu Geby, tanpa masker yang menutupi wajahmu," gumam Kenan sambil memandangi foto Geby ditangannya.


Beralih pada Geby yang sekarang telah kembali ke kediaman Pradita.


"Membuat moodku buruk saja bertemu dengannya, tapi kenapa hati ini merasa sakit ya, seingatku aku yang meminta pertunangan kami dibatalkan. Ah sudahlah tak perlu di fikirkan," Geby pun tidur setelah sebelumnya mandi dan lainnya.


Flashback end


"Pagi semuanya," sapa Geby pada semua orang yang ada di meja makan.


"Pagi Cantik," ucap Hana tersenyum.


"Pagi," Danu.


"Pagi Geby," Farel.


"Pagi adikku kecilku," Yoga.


"Adik kecil? Orang segede ini dikatain kecil," ucap Geby.


"Yeh marah dia. Oh iya kan sudah di lamar," ucap Yoga.


Geby baru ingat tentang kedatangan Adam serta keluarga nya kemarin.


"Bagaimana? Diterima?" tanya Geby.


"Iya, ayah mamanya nak Adam juga tidak keberatan menunggu keputusanmu," sambung Hana.


Huuuhhh...Geby menghela nafas. "Kenapa? Menyesal tak langsung diterima?" ucap Yoga menggoda Geby, tapi Geby tak tergoda malah mukanya menjadi datar dan menatap tajam Yoga.


"Oh oh aku akan diam," ucap Yoga seraya menutup mulutnya karena merasakan tekanan yang kuat dari Geby.


"Mana ada! Malahan aku ingin menolak tapi tak bisa," batin Geby berusaha mengontrol kemarahnnya. Bukan marah seperti kepada Yoga, tapu marah terhadap Adam yang seenaknya.


"Sudah sudah ayo makan, nanti makanannya dingin tak enak lagi," ucap Hana menengahi.


Mereka sekeluargapun makan dengan tenang. Setelah acara makan selesai Geby pun bersiap pergi ke kantornya.


Di depan sudah ada Sasa yang menjemputnya untuk pergi ke kantor.


"Yuk pergi!" ucap Geby kepada Sasa.


Hanya dia yang tersisa di rumah besar itu, karena yang lain telah melakukan aktivitas masing-masing.

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Sudah kau fikirkan mau masuk universitas mana?" tanya Sasa.


"Oh iya, aku sampai lupa. Kamu cariin gih, aku ngikut aja, yang pasti aku ingin mengambil jurusan bisnis," ucap Geby.


"Ok nanti ku kabari info lanjutnya. Kita masih punya banyak waktu, kan kita bertahan setahun untuk tidak kuliah," Sasa.


"Benar! Cari benar-benar kalau begitu. Tak perlu universitas elit yang penting bagus sistemnya," ucap Geby.


"Siap!" Sasa.


Mereka sampai di kantor dan masuk ke ruang masing-masing.


Jam istirahat datang Sasa mendatangi ruangan Geby dan berkata. "Sekarang aku harus pergi ke markas, ada masalah sedikit yang harus di selesaikan,"


"Tak perlu tergesa-gesa yang penting bersih," ucap Geby.


Memang tugas Sasa di BS yaitu sebagai ketua keamanan.


"Siap!" ucap Sasa kemudian pergi.


Geby pun pergi ke kantin sendiri karena Sasa tak ada. Memang pada dasarnya tak ada selain Sasa yang berani berada di dekat Geby sekertarisnya pun tak berani. Bukan berarti Geby itu kejam hanya saja sikap dinginnya seperti pagar es yang tak dapat di tembus oleh orang yang tak di inginkannya.


Saat ini Geby sedang menikmati makanan yang di pesannya. Setiap karyawan kantor yang melewati Geby selalu menunduk hormat.


Dan saat jam istirahat hampir selesai Geby akan kembali ke ruang kerjanya tapi... Dia melihat sesosok pria tampan sedang tersenyum padanya dengan sebuket bungan mawar merah di tangannya.


Saat itu juga moodnya anjlok, dia mendesah pasrah.


Pria itu tak lain adalah Adam dengan dua bodyguard yang berjaga di pintu masuk.


Geby mendesah lagi, bagaimana orang yang tak di harapkannya sama sekali untuk muncul di hadapannya, sekarang berdiri tegak dengan senyum yang membuat semua penghuni kantin berteriak histeris.


Siapa yang tak mengenal seorang Adam Williams. Pengusaha sulses di usia muda dan banyak lagi yang membuatnya tak luput dari pembicaraan dunia.


Adam maju kedepan mengikis jarak antara mereka. "Selamat siang sayang," ucapnya.


Geby semakin mendesah lelah. "Mengapa kau kesini?" tanyanya datar.


"Menjemputmu untuk mengajakmu keluar," ucap Adam.


Geby tak dapat berkata-kata. Bukankah dia seorang pemimpin perusahaan terbesar di dunia? Apakah tidak sibuk. Geby yang hanya CEO di perusahaannya yang masih di bawah dari perusahaan sepuluh keluarga terkaya pun sangat banyak pekerjaan. Dia? Wah, apakah sebagai bos dia hanya duduk santai dan anak buahnya saja yang mengurus semuanya?

__ADS_1



Happy Reading


__ADS_2