
"Haahhh! Apa ini?" betapa terkejutnya Geby saat masuk kedalam kamar peristirahatannya yang telah di sediakan oleh pihak hotel. "Ini pasti ulah mama," gumam Geby.
Bagaimana tak terkejut, pasalnya di kasur terdapat banyak kelopak mawar merah serta dua angsa yang terbuat dari handuk sedang emmm, ya itulah.
"Haihh, ngapain juga kesal, toh tak akan ada yang mengerti. Lebih baik cepat mandi saja, berendam menenangkan fikiran, dan setelah itu makan dan tidur deh,"
Geby pun ingin melepas gaunnya, tapi ya ampum betapa susahnya melepas pengaitnya yang banyak dan lagi berada di punggungnya.
"Ih, bagaimana melepasnya? Apa aku sobek aja, tapi nanti bilang apa?" gumam Geby masih berusaha meraih pengait gaunnya yang sisa setengah lagi.
Clek
Pintu terbuka secara tak terduga, Geby langsung berpaling menghadap sang pelaku pembuka pintu yang ternyata Adam.
"Ada apa?" tanya Adam bingung, pasalnya saat ini Geby menatapnya kesal, marah, malu, bercampur menjadi satu, sangat terlihat diwajahnya.
"Biasakan kalau masuk ketuklah pintu terlebih dulu," ucap Geby datar.
"Maaf!" ucap Adam.
Geby meninggalkan Adam di kamar, sedangkan dia masuk ke kamar mandi.
Adam menaruh makanan yang dia bawa ke atas meja dan duduk pada sofa. Menyusun dan merapikannya.
Geby masih sibuk dengan pengait gaunnya yang sampai sekarang masih tak dapat di raihnya.
"Grrrr, sulitnya...," ucap nyaring Geby yang gregetan dengan gaunnya sendiri, ingin rasanya dia merobeknya.
"Mau di bantu?"
"Oh astaga kau mengagetkanku," ucap Geby yang terlonjak kaget saat Adam tanpa suara membuka kamar mandi.
Geby langsung menutupi punggungnya yang setengah dari pengaitnya telah terbukan dan menampakkan punggungnya.
"Emm, bisa bantu bukakan pengait gaun ini," ucap Geby pelan.
"Hng? Aku?" tunjuk Adam pada dirinya.
Geby mengangguk pelan dengan muka yang memerah. "Cepat! Mau banti tidak," Geby kesal, dia menganggap kalau Adam ini sedang mengejeknya.
"Baiklah!" Geby pun memunggungi Adam dengan ragu. Ya pasalnya dia akan risih apabila ada yang melihat tubuhnya. Yah Geby kan anak baik, dia jarang bahkan dapat di hitung berpakaian minim.
Satu persatu pengait dilepaskan oleh Adam, semakin dag dig dug pula pengantin baru ini.
"Sudah!" ucap Adam yang membuat Geby langsung membuka matanya dan berbalik menghadap Adam.
"Makasih! Lalu sekarang bisa keluar?" ucap Geby.
Tanpa kata-kata Adam langsung keluar. Sedangkan Geby melanjutkan berganti pakaian.
Adam merasa kalau Geby sudah lumayan lama di dalam kamar mandi, dia pun akan mengetuk pintu kamar mandi namun saat maju bertepatan itu pula Geby membuka pintu dan saat itu Geby sendiri menunduk.
Merasa seseorang didepannya Geby pun mendongak dan bertepatan Adam juga menunduk.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka berdua saat mendapati sosok masing-masing saling berhadapan dan sangat-sangat dekat.
Bahkan bibir mereka sudah bersentuhan, Geby mengedipkan beberapa kali matanya untuk menyadarkan mencerna apa yang terjadi pada nya.
Tepat saat itu juga, Adam juga mencerna apa yang terjadi pada mereka. Berfikir kesempatan langka Adam pun tersenyum tipis dan menarik leher Geby memperdalam ciuman mereka, Geby sendiri tersentak dengan perlakuan Adam pada nya namun ia tidak bisa melepas, karena tangan Adam yang menahan lehernya dengan kuat. Namun setelah beberapa saat dan usaha ekstra akhirnya Geby mampu melepasnya, itu pun karena mereka kehabisan nafas.
"Apa yang kau lakukan!" Geby benar-benar marah, belum lagi dia sangat lelah akibat seharian menyambut tamu dan sekarang Adam yang membuat moodnya semakin buruk.
Adam tak menjawab, dia kembali duduk ke sofa dan menepuk sofa disampingnya dengan muka yang biasa saja. Geby pun menurutinya meski dia enggan, tapi perutnya sudah berdemo karena lapar.
"Makanlah!" ucap Adam tanpa banyak kata.
Perut sudah sangat lapar, Geby pun memilih makan dengan diam meski dia masih sangat kesal. Mereka makan dengan tenang dan setelah makan mereka istirahat tanpa terjadi apapun yang sebagaimana pengantin baru.
Pagi menjelang siang, dan kini Geby dan Adam sedang bersiap untuk pergi. Pergi keluar kota, dimana tak ada yang mengenal Geby, dan Adam yang hanya sebagai orang biasa atau seorang pengusaha.
Sebuah pesawat pribadi sudah tersedia di bandara. Kedua keluarga juga ikut mengantar keberangkatan mereka.
Adam menjauh, karena ada panggilan masuk di ponselnya.
"Baik-baik ya disana," ucap Hana.
"Baiklah!" jawab keduanya.
Adam kembali dari acara telponnya, menghampiri keluarganya dan keluarga Geby.
"Jaga Geby baik-baik ya," pinta Hana.
"Tentu ma," jawab Adam. "Kalau begitu kami berangkat, ayo," ajak Adam pada Geby.
"Kami berangkat," ucap Geby pada semuanya dan mereka pun menghilnag di pintu pesawat yang tertutup.
__ADS_1
Geby duduk di samping Adam. "Dingin ya," gumam Geby sambil memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya. "Hg?" Geby tersentak saat sebuah mantel mendarat di depannya menutupi tubuhnya yang kedinginan. Geby menatap sang pelaku, siapa lagi, kalau bukan Adam.
"Ada apa?" tanya Adam yang menyadari kalau Geby menatapnya. "Makasih!" ucap Geby.
"Tidur lah! Perjalanan kita akan lama, kalau sudah sampai akan kubangunkan," ucap Adam dengan memeluk Geby dan membawa nya ke dalam dekapan nya. Awalnya Geby ingin menolak, tapi karena merasa sangat nyaman dan membuat nya hangat sehingga Geby pun tak kuasa untuk tidak memejamkan matanya.
Adam yang merasa pelukan nya tidak di tolak oleh Geby membuat dirinya senang, bahkan Geby sudah tertidur hanya dalam beberapa menit saja.
Pesawat lepas landas dengan lancar. Hampir lima jam akhirnya mereka mendarat di bandara kota Z.
Tidak hanya bodyguard nya yang terkejut, bahkan para anak buah Adam di mafia juga terkejut melihat penampakan yang mereka pun merasa itu hanya ilusi. Mereka tahu kalau bos mereka telah menikah, tapi mereka tidak tahu kalau bos mereka itu menikah dengan kehendak sendiri, atau lebih tepatnya memaksa.
"Selamat datang bos," ucap Romy. Orang kepercayaan Adam yang mengurua markas di kota Z.
"Bagaimana semua persiapannya?" tanya Adam.
"Semua telah selesai, bos. Tapi ada sedikit kendala di mension jadi, kami telah menyediakan kamar di hotel anda," jelas Romy gemetar. Bagaimana tidak, dia tahu tidak ada namanya kesalahan sedikit dihadapan bos mereka itu, kalau tidak berdoa lah besok dapat melihat matahari.
"Baiklah! Antarkan kami!" ucap Adam.
"Baik! Hah?" Romy kira dia akan masuk rumah sakit atau apalah, tapi tidak. Dia tak menyangka dia akan terlepas dari kemarahan bos nya.
"Romy, jangan sampai aku mengulangi kata-kataku," ucap Adam dingin.
Romy segera membukakan pintu mobil dan masuk menjadi supirnya.
Dia sangat penasaran, apakah gadis yang di gendongan bos mereka itu adalah istrinya bos? Bukan hanya Romy yang penasaran bahkan semua orang yang menyaksikan kejadian langka tersebut pun penasaran. Tapi rasa penasaran itu mereka pendam dalam-dalam, kalau tidak ingin mendapat hal yang sudah pasti menyakitkan.
__ADS_1
Happy Reading