
"Tenanglah, kau tak perlu cemas karena aku adalah pemilik mension ini," ucap Adam sombong.
Frrrtt...
Hampir Geby tertawa nyaring, kalau tak ingat mereka berada dimana, Geby sudah tertawa terpingkal-pingkal.
"Hei kenapa tertawa?" tanya Adam bingung.
"Tidak tidak, aku tidak! Ekhem, jangan mengkhayal terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit. Aku tahu kau telah terbiasa dengan polisi selalu diatas, tapi sadarlah," ucap Geby menasehati.
Sebelah alis Adam terangkat. "Kau tak percaya?" tanyanya dengan nada datar.
"Ya ya terserah kau saja," jawab Geby.
"Sekali lagi ku tanya, kau tak percaya kalau aku pemilik mension ini?" nada suara Adam semakin dingin.
"Ya ya aku percaya," ucap Geby masih dengan nada bercanda.
Adam mulai berdiri dari posisi nyamannya dan berjalan pelan kearah Geby berdiri. "Kau masih tidak percaya? Mari kita buktikan," ucapnya seraya menarik lembut tangan Geby membawanya ke luar dari ruangan, bukan dari tempat Geby masuk, tapi melalui pintu menuju dalam mension.
"Hei hei kau mau membawaku kemana? Nanti kita ketahuan, baru tahu rasa. Berhenti aku tak ingin ikut-ikutan terseret masalah denganmu," ucap Geby dengan nada berbisik.
Dapat dilihat Geby semua penjaga mension ataupun anggota mafia yang terkenal itu berbaris di lantai satu tepatnya ditengah-tengah aula yang sangat luas. Seberapa luas mension mafia ini?
"Hei hei berhenti, ku rasa mereka menunggu ketua mereka yang akan datang. Kau cari mati mendekatinya?" Geby tak habis fikir dengan apa yang akan dilakukan pria yang menyeretnya ini.
Adam membawa Geby menuruni tangga menuju barisan anggota mafia atau penghuni mension yang dia masuki ini.
"Selamat datang tuan," ucap mereka semua yang membuat gemaan di seluruh penjuru ruangan luas itu.
Geby menegang seketika. Badannya meremang. Apakah ini waktunya dia mati, fikirnya. Tapi ini bukan apa-apa, karena setelah kalimat yang akan segera di dengarnya.
"Bagus! Kalian melakukannya dengan baik," ucap Adam.
Geby langsung mendongak kesamping menatap Adam yang jauh tinggi darinya.
Adam menatap Geby dengan seringaian kemenangan. Tapi wajahnya tiba-tiba beribah saat melihat tatapan dingin Geby. "Apa maksudnya ini?" tanya Geby datar. "Kau sungguh ketua dari organisasi mafia ini?" lanjutnya. "Awalnya ku kira kau hanya bercanda, tapi...," Geby membuang muka. "Kalau begitu aku akan pergi...Jika kau berkenan membiarkan aku keluar dari sini dengan selamat," ucap Geby kemudian berjalan pergi.
Anak buah Adam menghalangi jalan Geby. "Boleh aku meminta satu hal?" tanya Geby pada Adam tanoa berbalik.
"Apa?" sahut Adam.
"Bisakah kau membunuhku dengan sekali serang? Agar aku tak merasa sakit. Aku tahu aku tidak berhak meminta, tapi berilah keringanan karena kita saling kenal," ucap Geby tenang.
Langlah kaki terdengar semakin mendengati Geby. Itu merupakan langkah kaki Adam yang mendekati Geby dan menarik lengan Geby untuk menghadap padanya.
__ADS_1
Geby menatap berani mata Adam tanpa rasa takut. "Apakah aku bilang aku akan menghabisimu atau menyiksamu karena kau masuk ke markas utamaku? Apakah aku akan melakukan itu padamu?....Tidak! Aku tidak ingin melakukan itu, tapi aku ingin kau tetap disini setelah kau resmi menjadi milikku,"
Perkataan yang membuat wajah Geby memerah marah. Karena meskipun dia bersyukur kalau Adam tak akan menghabisinya, tapi dia juga tidak mau menjadi milik pria di depanya ini.
"Terimaksih kau tidak akan menghabisiku. Tapi maaf... Aku tidak menyukaimu," ucap Geby.
Adam masih diam, tak ada niat untuk menyahut, tapi dia menatap kepada semua bawahannya untuk kembali kepekerjaan mereka masing-masing.
Mereka pun pergi dan Adam membawa Geby ke kamar khusus nya untuk beristirahat.
Mendorongnya ke tembok dan mengapitnya dengan tubuhnya yang besar berusaha meredam emosi.
"Apakah sebegitunya kau tak menyukaiku? Apakah aku memiliki kekurangan yang membuatmu tak tertarik padaku? Atau apakah kau memiliki pria yang kau sukai? Apakah itu Dikha? Atau Ardikha? Kalau iya meski mereka keponakanku, maka jangan salahkan aku kalau aku berbuat nekat," ucap Adam dengan suara beratnya.
"Jangan kau berani-berani menyakiti mereka. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan siapa pun termasuk mereka. Aku hanya tak ingin menikah muda, umurku baru ingin 19 tahun. Aku masih ingin menjalani kesendirianku tanpa ada pengekang dalam hidupku," ucap Geby dengan intonasi tinggi dengan mata memerah.
Geby mengatur nafasnya yang tersengal karena terlalu mengeluarkan banyak tenaga.
"Kau sempurna dalam segala hal, ku akui itu. Tapi bisakah kau mengerti keinginan seorang gadis berusia 19 tahun yang masih ingin bersenang-senang dan menikmati kesendirian?" lanjut Geby.
Adam masih diam menatap lekat wajah Geby yang terlihat putus asa.
"Baiklah!" ucap Adam.
"Aku akan menunggumu sampai kau mau menerimaku," ucap Adam.
"Menugguku? Apakah kau tak takut selamanya sendiri sampai tua? Aku tidak janji akan menerimamu bukan. Tapi aku juga tidak tahu aku akan tetap sendiri sampai tua atau kalau mendapat seseorang yang ku suka apakah kau tak keberatan melepasku?" ucap Geby.
"Kau pasti akan menyukaiku," ucap Adam percaya diri. "Meski umurku semakin tua, tapi aku akan semakin tampan,"
"Heh kau terlalu percaya diri," ucap Geby tertawa dengan kepercayaan diri Adam.
Di Mansion! Ya kemarin malam sepulang dari misi pencarian informasi yang menghasilkan informasi tak terduga, Geby tak sanggup lagi untuk pulang kerumah keluarganya karena sangat kelelahan, membuatnya tertidur di mensionnya.
Semua orang sudah bangun dan telah melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Tapi tidak dengan Geby yang masih terdengar dengkurannya.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
"Hmmm," sahut Geby dengan gumaman.
"Geb, sudah bangun belum?" tanya seseorang dari luar kamar.
"Hmmm," sahut Geby lagi.
"Geby....bangun....aku mendapatkan universitas yang bagus dan cocok untuk kita. Apakah kau tak ingin tahu universitas apa itu?" ternyata dia adalah Sasa.
"Hmmm, iya, aku akan keluar," sahut Geby masih berbaring dengan mata terpejam. "Kau tunggu di bawah, aku akan bersiap dulu," lanjutnya.
"Baiklah kutunggu dibawah. Jangan lama!" ucap Sasa memperingati.
Geby pun bangun dari kasurnya menuju kamar mandi dengan mata terpejam.
Dugh
"Auw," jerit Geby yang terjedot tembok kamarnya. "Siapa sih yang naroh tembok disini?" gerutu Geby sambil memukul tembok. "Oh iya memang dari sananya temboknya ada disini hehe, lupa aku," Geby pun masuk ke kamar mandi dengan mata terbuka.
Setelah keluar dari kamar mandi, sekarang Geby sedang memilih baju yang akan dia gunakan. "Sepertinya kemeja putih dan celana hitam panjang akan pas untukku membuat alasan yang tepat kepada orang-orang di rumah!" ucap Geby.
Sesudah memutuskan baju yang akan dipakainya kemudian Geby berjalan menuju meja riasnya untuk menambah sedikit polesan make up pada wajahnya untuk menaturalkan wajahnya. Walaupun hanya sedikit polesan make up yang di berikan pada wajahnya tetapi itu berhasil membuat wajahnya tambah segar, jadi dia menggunakan maka up ini hanya untuk menaturalkan kalau dia itu begadang dan sepanjang malam menatap layar laptop dan membaca laporan.
Happy Reading
__ADS_1