Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.26


__ADS_3

Sawah, pegunungan, sungai memanjakan mata yang memang tahu caranya menikmati anugerah yang tuhan berikan pada setiap mata yang bersyukur.


Sekarang Geby tinggal di sebuah desa terpencil tapi dengan keterpencilannya itu membuat pemandangan alamnya masihlah sangat asri.


Udara segar dapat dirasakan setiap waktu, aroma pohon dedaunan sangat tercium. Sungguh menenangkan jiwa yang sedang merasa gundah.


"Bagaimana sekarang?" tanya Dikha.


"Apa?" tanya balik Geby karena dia tak paham maksud pertanyaan Dikha.


"Ya sekarang kau akan berbuat apa? Kau tahu sendiri hampir di setiap sudut kota anak buah pamanku selalu ada. Entah itu menyamar sebagai penjual, preman bahkan polisi pun ikut dalam pencarian," Dikha.


"Menunggu!" ucap Geby.


"Menunggu? Maksudmu?" tanya Dikha tak mengerti.


"Ya tunggu sampai sedikit tenang baru aku akan menemui keluargaku diam-diam. Tunggu beberapa hari lagi," ucap Geby.


Sekarang ini Geby tinggal di salah satu villa keluarga Williams yang terletak di pedesaan, villa yang bahkan keluarga Williams pun kemungkinan lupa memilikinya.


"Baiklah! Kalau begitu aku akan kembali ke kota dulu, aku tak bisa terlalu lama pergi. Aku beralasan kesini hanya untuk liburan jadi tak ada yang curiga dan kami akan berganti untuk datang, tapi tak bisa sering-sering, takutnya ada yang curiga. Karena aku yakin paman Adam telah tahu kalau aku dan Ardikha adalah temanmu," Dikha.


"Ya! Kalau pergilah! Hati-hati di jalan dan terimakasih atas segala bantuan kalian. Aku tak tahu kalau tak bertemu kalian?" ucap Geby.


Dikha tersenyum, ingin rasanya dia memeluk Geby tapi dia tahu batasannya. "Sama-sama, kita kan teman, jadi wajar saja saling bantu," ucap Dikha.


Keseharian Geby sangat tenang selama satu minggu ini sampai saat Dikha menelpon dan memberitahunya kalau keberadaannya telah di ketahui oleh Adam.


"Cepat pergi dari sana, saat ini kami tak bisa membantu, karena kami dikurung," ucap Dikha khawatir.


"Apa? Baiklah, aku akan pergi. Kau jangan memaksakan dirimu hanya untuk membantuku. Aku tak ingin terjadi apa-apa pada kalian, jadi tenanglah percayakan semuanya padaku, bye," sambungan telpon terputus.


Geby langsung berkemas dengan pakaian seadanya serta uang yang tersisa.


Geby pergi dengan tergesa-gesa. Berlari, waspada dan sebagainya seperti hal yang biasa dia lakukan.


Hampir satu jam lamanya Geby berjalan kaki sambil melihat jalan kalau-kalau ada anak buah Adam yang telah menyusul, untungnya tidak ada. Sebelum sampai ke halte bus, Geby menaiki ojek terlebih dahulu. Karena memang tidak ada yang namanya taxi di pelosok desa seperti ini hanya ada ojek yang nangkring di pangkalan ojeknya.


Sangat beruntung, saat Geby baru sampai di halte bus, busnya datang. Setelah membayar ongkos ojek kembali lagi Geby menaiki bus menuju ke kota, kata orang tempat paling berbahaya itulah yang paling aman.


"Untung Dikha cepat memberitahu ku kalau anak buah Adam telah mengetahui keberadaan ku," gumam Geby.


Di Villa tempat tinggal Geby sebelumnya.


"Tidak ada tuan! Kemungkinan nona telah pergi satu jam yang lalu," ucap bawahan Adam.


"Dam, lihat ini!" ucap Jai sambil menunjukkan sebuah surat yang sengaja ditinggalkan Geby.


Isinya


Terimakasih atas segalanya, tapi maaf aku masih belum bisa menerimamu. Aku masih perlu mengembalikan ingatanku, aku tidak bisa langsung percaya begitu saja dengan apa yang kau ucapkan, Karena aku telah mengetahui fakta tentang diriku, jadi aku merasa kecewa dengan kebohongan mu. Aku tidak tahu alasanmu berbohong, tapi tolong jangan ganggu aku, karena kalau kita memang berjodoh maka kita akan bertemu kembali. Jangan cari aku. Jangan hubungkan masalah ini dengan kedua keponakanmu serta keluargaku. Aku sangat memohon akan itu!


Tertanda Geby.


"Dia telah mengetahui namanya," batin Adam sambil meremas surat Geby dan langsung pergi.



Bus telah sampai di halte bus di ibu kota, tempat paling berbahaya, tempat yang paling memungkinkan Adam menemukannya tapi tempat yang paling aman untuk bersembunyi.



"Taxi...," panggil Geby pada sebuah taxi yang lewat di halte bus.



Taxi berhenti di depannya dan keluarlah pria paruh baya yang merupakan supir taxi.

__ADS_1



"Mari saya bantu nona," ucapnya mengambil koper kecil di samping Geby dan memasukkannya ke bagasi mobil taxi.



"Terimakasih pak," ucap Geby dengan tersenyum ramah.



"Sama-sama nona. Nona akan pergi kemana?" tanya pak supir taxi.



"Ummm, saya tidak tahu, tapi apakah bapak tahu rumah yang dapat saya sewa?" tanya Geby. Memang sekarang ini dia tak memiliki tujuan setelah dengan tiba-tiba dihubungi oleh Dikha jika keberadaannya diketahui.



"Oh ya non, Mari bapak antarkan," ucap pak supir ramah.



"Sekali lagi terimakasih pak," ucap Geby yang sangat berterimakasih, pasalnya ini sudah malam akan sulit mendapatkan tempat tinggal kecuali hotel, tapi kalau hotel keberadaannya akan dengan cepat diketahui jadi di memilih mencari kontrakan saja.



"Ya non, sama-sama," ucap pak supir.



Perjalanan cukup jauh, karena memang halte bus pemberhentian Geby itu masih terletak jauh dari kota.



"Nona, kita sudah sampai!" ucap pak supir yang mengagetkan Geby, karena Geby sedang melamun.




"Kita sudah sampai Nona, mari saya antar kan kepada pemiliknya," ucap pak supir.



"Baik pak," Geby.



Pak supir pun menunjukkan rumah pemilik dari rumah yang akan disewa oleh Geby.



Tok...tok...tok...



Pak supir itu mengetuk pintu dan pintu pun terbuka menampilkan seorang wanita paruh baya.



"Pak, sudah pulang?"



Geby kalau kebingungan dengan panggilan wanita paruh baya didepannya ini.


__ADS_1


"Eh, maaf nona saya lupa memberitahu kalau rumah yang akan di kontrak itu rumah keluarga saya, dan ini istri saya," ucap pak supir tak enak.



"Oh begitu! Tidak apa-apa pak, akan lebih bagus seperti itu, karena saya orang baru tak mengenal siapa pun, untungnya saya tadi menaiki taxi bapak," ucap Geby ramah.



"Baguslah kalau begitu! Bu, nona ini ingin mencari rumah kontrakan dan kebetulan rumah keluarga kita kan kosong tu dan dikontrakkan juga jadi bapak bawa saja nona ini kesini," jelas pak supir pada istrinya.



"Oh! Kalau begitu ayo, saya akan ambilkan kunci rumahnya dulu," ucap istri pak supir.



Geby mengikuti sepasang suami istri ini menuju rumah yang di kontrakan.



Hanya perlu berjalan 100 meter mereka telah sampai di rumah yang akan disewa Geby.



"Nahhh, ini no...," ucapan istri pak supir terhenti saat Geby berkata.



"Pak, bu, panggil saya sesuka kalian, tapi jangan nona ya. Namaku Geby," ucap Geby.



"Oh iya, kita kan belum saling berkenalan ya pak," ucap istrinya.



"Iya! Nah sekarang perkenalkan nama bapak ini, Suyantro, panggil saja pak Antro. Sedangkan istri bapak ini Sumiarti panggil saja bu sumi. Semua orang mengetahuinya," jelas pak Antro.



"Nah baiklah nak Geby, sekarang kita akan melihat isi rumahnya," ucap Bu Sumi membukakan pintu.



**Skip**



Proses akad terjalinnya persetujuan untuk mengontrak rumah telah terjadi.



Geby pun langsung mengistirahatkan tubuhnya.



Brugh


Geby menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang tak terlalu empuk, tapi lumayanlah.



Tanpa mandi, berganti pakaian Geby langsung tertidur karena kelelahan.



Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2