
Untuk mengalihkan perhatian Geby juga ikut menaruh barang berharga miliknya.
"Sangat berani para preman di kota ini, ini baru memasuki jalan sunyi, mereka sudah berani beraksi?" batin Geby.
Saat para preman mengambil barang-barang penumpang saat itulah mereka lengah. Hanya tersisa satu orang yang menodongkan pistol sedangkan yang lainnya memasukkan pistol mereka ke saku mereka.
Dengan pelan dan tanpa disadari oleh penumpang atau preman Geby sedikit demi sedikit mendekat kepada preman yang memegang pistol. Perhatian preman itu juga tidak fokus pada lainnya karena dia terlihat memperhatikan teman-temannya untuk memungut barang-barang berharga para penumpang bus.
Puk...
Pukulan pelan tapi tepat pada titik saraf yang membuat preman pingsan. Geby langsung menaruh jari telunjuk di bibirnya menuruh para penumpang yang menyadari aksinya diam sambil menopang tubuh si preman.
Dengan perlahan Geby menaruh tubuh pingsan preman.
"E, kau awasi mereka dengan benar, jangan sampai lengah," ucap preman yang kemungkinan ketua mereka tanpa berbalik.
Tak ada sahutan, merasa curiga preman itu pun menoleh dan bughh. Pukulan telak mendarat di wajahnya membuatnya tersungkur. Geby langsung meringkusnya sebelum sempat mengambil pistol.
Penumpang lain pun meringkus tiga lainnya dengan strategi yang telah di arahkan Geby melalui isyarat.
Tanpa mampu melawan lagi para preman di ikat dengan tali seadanya dan semua pistol mereka telah di sita.
Suara sirine mobil polisi semakin mendekat.
"Terimakasih telah meringkus mereka. Para preman ini sudah lama jadi incaran kami," ucap pak polisi.
"Sama-sama pak, ini juga berkat nak i...," ucap pak supir yang terhenti saat sosok yang dicari tidak ada. "Dimana anak perempuan tadi?" tanya pak supir pada penumpang lainnya.
Penumpang lainnya celingukan mencari, tak ada yang menyadari jika sosok yang dicari telah pergi.
"Baiklah kalau begitu kami permisi," ucap pak polisi.
Bus pun melaju meninggalkan tempat kejadian yang membekas diingatan para penumpang serta supir. Dan satu lagi hal yang membuat mereka penasaran yaitu perginya dua orang penumpang yang tadinya membantu mereka dan satunya yang duduk disampingnya. Mereka berfikir kalau mereka berdua merupakan teman padahal...
Beralih tempat, tepatnya dia sebuah jalanan beraspal dengan dua sosok berbeda jenis yaitu satu perempuan dan satunya pria.
Terlihat sang perempuan terlihat kesal yang sangat jelas terpampang di wajahnya yang memberengut.
"Kenapa kau mengikutiku? Kenapa tidak tinggal di bus dan pergi ke tempat tujuanmu?" tanya Geby. Ya dia Geby yang setelah moodnya menurun akibat insiden barusan membuatnya turun sendiri.
"Kau kan orang yang ku kenal, jadi tidak baik jika aku yang seorang pria sejati ini membiarkan seorang gadis berjalan sendirian ditempat sunyi seperti ini," ucap pria itu.
__ADS_1
"Hah...aku saja tidak kenal kau," ucap Geby.
"Oh benar! Kan hanya kau yang memperkenalkan diri saat dikelas, tapi kan pak Anwar sudah menyebutkan namaku," ucapnya.
"Oh kau Angga?" ucap Geby.
"Ya ya, itu namaku," ucap Angga senang karena Geby mengingat namanya.
Jalan terus berjalan santai melewati tempat sunyi tak membuat Geby takut, karena dia telah terbiasa akan hal itu. Berbeda dengan Angga yang sebentar-sebentar berteriak karena suara-suara yang Geby tebak itu hanya binatang-binatang kecil maupun burung hantu.
"Bisa berhenti berteriak?" Geby kelewat kesal dengan tingkah Angga ini. Katanya pria sejati, faktanya dengan suara begitu saja berteriak.
"T-tapi aku kan terkejut," ucap Angga berusaha terlihat berani, padahal wajahnya sudah mulai memucat.
"Kalau begitu kenapa tidak pergi saja sana, kan banyak taxi lewat tadi. Hari semakin sore, akan lebih banyak lagi suara seperti itu. Apakah kau akan berteriak sepanjang jalan sampai suaramu habis?" ucap Geby yang tak berusaha menakuti tapi mengatakan yang sebenarnya.
"Hiihh, kau jangan menakutiku," ucap Angga bergidik kebetulan angin berhembus membuat suasana semakin mencekam, itu bagi Angga sendiri.
"Aku tidak menakutimu! Itu faktanya. Kau lihat saja sendiri, hari semakin gelap," ucap Geby yang mempercepat laju jalannya.
"H-hei tunggu aku," ucap Angga berlari mengejar Geby.
"Aku akan pulang. Kalau kau masih ingin jalan-jalan tinggallah," ucap Geby kemudian masuk ke dalam taxi.
"Aku ikut," ucap Angga langsung masuk ke taxi yang sama dengan Geby. "Turunkan aku di stasiun bus saja," lanjutnya.
"Hmm," Geby hanya berdehem untuk mengiyakan.
Clek
Geby membuka pintu. Lampu di ruang tamu sudah mati. Tak ada terdengar aktifitas para pekerja.
Saat memasuki lebih dalam yang tujuan Geby naik ke lantai dua menuju kamarnya tiba-tiba lampu menyala.
"Darimana?" suara berat nan dingin membuat buku kuduk Geby meremang.
__ADS_1
Geby membalik badannya menghadap sofa di ruang tamu.
"Maaf tak memberi kabar, sepulang kuliah aku jalan-jalan dan tak terasa malam saja," jelas Geby tenang. Tak ada rasa takut dengan suara Adam yang terdengar marah.
"Kemana?" tanya Adam lagi.
"Jalan-jalan tak tentu arah saja," jawab Geby. "Aku akan naik kalau tidak ada lagi pertanyaan," ucap Geby kemudian melangkah pergi meninggalkan Adam yang mungkin sebentar lagi akan meledak dan kalau saja yang membantahnya itu bukanlah wanita yang dicintainya, mungkin orang tersebut sudah tak bernyawa.
Hari hari dilalui Geby dengan rutinitas kuliahnya. Meski ada saja hal-hal yang mengganggu, tapi dapat dengan mudah terselesaikan, meski itu dengancara halus maupun kasar.
Seperti hari yang cerah dengan langit biru dan udara pagi yang masih sejuk membimbing Geby untuk duduk ditaman kampus menikmati udara segar pagi sambil membaca buku.
Dan tamu yang tak di harapkan datang tanpa di undang membuat mood Geby menjadi buruk.
"Wah, mau diperlihatkan kepada siapa kerajinan ini?" ucap Nina dengan nada mengejek.
"Apakah kau akan mengerti setelah membacanya? Dengan kecerdasan yang seperti itu?" lanjutnya.
"Kurasa tidak! Karena bahkan omongan kita saja, aku rasa belum tentu dimengerti olehnya!" sambung Hani.
Geby menoleh. "Ya?...Heh untuk apa aku rajin? Itu juga bukan urusan kalian kan. Aku rajin untuk diriku sendiri, bukan di tunjukkan pada siapa pun," batin Geby.
Sebuah ide muncul di kepala cantiknya dia pun berdiri dan berpaling menghadap tiga sekawan itu dan hanya di batasi oleh kursi yang di duduki Geby sebelumnya.
"Aku menunjukkannya pada manusia! Bagaimana bisa seekor binatang mengerti akan hal ini?" ucap Geby dengan senyum mengejeknya.
Tiga sekawan yang terdiri dari Nina, Hani, Feni, marah tak terkira. Wajah mereka memerah padam karena marah. "Kamu...,"
Happy Reading
__ADS_1