Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.28


__ADS_3

Sesampainya mereka di rumah, Danu, Hana, dan Yoga telah menunggu kedatangan mereka, pasalnya setelah mendengar kabar dari satpam depan gerbang mereka langsung meninggalkan pekerjaan masing-masing dan menyuruh Farel untuk menjemput orang tersebut. Mereka sangat tak sabar mendengar kabar yang akan mereka dengar nanti. Apakah itu baik atau buruk mereka telah menyiapkan mental.


"Tante, bolehkah teman saya meminjam kamar mandi?" tanya Dikha yang memang diminta Geby mengatakannya, karena dia kan berganti baju.


"Silahkan!" ucap Hana.


Geby pun meninggalkan ruang tamu dengan di pandu oleh pembantu ke kamar mandi.


"Silahkan!" ucap pembantu itu dengan ramah.


"Terimakasih," ucap Geby.


Setelah Geby masuk pembantu itu pun pergi, tapi apa yang membuatnya penasaran. "Suaranya seperti pernah dengar? Tapi dimana ya? Ah lupakan,"


Pembantu itu pun benar-benar telah pergi.


Diruang tamu Ardikha dan Dikha sudah diserang oleh banyaknya pertanyaan yang dilakukan pada mereka. Mereka hanya menjawab seperlunya saja, sisanya terserah pada Geby.


"Lebih baik kita menunggu teman kami kembali, dia yang akan memberitahukan semua yang kalian ingin ketahui," ucap Ardikha.


Mereka pun mengiyakan dan menunggu kedatangan Geby.


"Ekhem," Geby berdehem memberitahukan keberadaannya.


Semua orang langsung berdiri, Hana langsung mendekati Geby dan menangis bahagia.


"Geby Benarkan itu kau nak? Mama sangat khawatir," ucap Hana yang langsung memeluk Geby sesaat setelah Geby mengganti pakaiannya.


Geby tak membalas pelukan Hana, membuat Hana merasa bingung, tidak biasanya Geby seperti ini.


"Ada apa? Kau tak merindukan mamamu ini?" tanya Hana yang tak mendapat respon dari Geby.


Ayah, serta kedua kakaknya juga merasa aneh dan langsung saja meminta penjelasan dari Ardikha dan Dikha melalui tatapan.


Dikha menjelaskan bahwa Geby kehilangan ingatannya selama ini, membuatnya tak pulang. Selain itu dia ingin mengatakan bahwa dia sedang menjadi yah bisa dikatakan buronan tapi oleh Adam yang sangat aneh menurutnya.


Keluarga Geby pun paham dan tak memaksakan lagi. Malam hampir tiba Ardikha dan Dikha pun pamit pulang. Sedangkan Geby tinggal di rumah Pradita.


Dia masih merasa canggung dengan situasi sekarang. Pasalnya dia merasa asing, masih belum ada ingatan yang melintas di kepalanya.


Satu keluarga yang satu bulan terakhir ini telah kehilangan salah satu anggotanya sekarang telah telah bersatu kembali.


Mereka telah duduk di ruang keluarga dengan perasaan campur aduk. "Geb, benaran kau hilang ingatan? Apakah tak ada sedikit ingatan yang tersisa?" tanya Farel.


"Emm, akhir-akhir ini ada lintasan ingatan yang masuk, tapi hanya samar-samar," jawab Geby.


"Tidak apa, pelan-pelan saja. Jangan terlalu dipaksakan," ucap Danu.


Geby mengangguk. "Emm bisa ceritakan tentang diriku sebelum aku hilang ingatan? Mungkin itu akan membantu memulihkan ingatanku?" ucap Geby.


"Baiklah!" satu-satu mereka menceritakan tentang Geby. Mulai dari renggangnya hubungan mereka sampai kejadian yang membuat Geby hilang ingatan. Tak lupa mereka juga memberitahukan mengenai organisasi blue scorpio.


"Lalu sekarang siapa yang menjalankannya?" tanya Geby.


"Sahabatmu, Sasa. Dia sering kesini untuk mendiskusikan percarianmu bersama kakak-kakakmu, mungkin besok juga dia akan kesini," jelas Danu.


"Apakah kau ingat?" tanya Hana.


"Ti...," belum sempat Geby menjawab tiba-tiba kilasan-kilasan ingatan berputar, seperti film rusak. "Argh," Geby berteriak kesakitan sambil menjambak rambutnya.

__ADS_1


"Geby? Tenanglah, jangan dipaksakan. Farel bawa adikmu ke kamarnya, ayah akan memanggil Dokter pribadi kita," perintah Danu khawatir.


Tanpa bantahan Farel langsung membopong Geby membawanya ke kamarnya yang berada dilantai dua.


Hana sangat cemas. Dokter pun belum datang yang datang hanya Danu yang mengatakan kalau Dokternya masih di jalan.


Sepuluh menit kemudian Dokter datang diantarkan oleh seorang pembantu.


Tanpa diminta Dokter langsung memeriksa keadaan Geby. Beberapa saat kemudian Dokter selesai memeriksanya.


"Bagaimana keadaan puteri saya Dok?" tanya Hana.


"Otaknya mengalami kejutan, membuat kepalanya sakit dan pingsan karena tak dapat menahan rasa saikitnya, tapi jangan khawatir, keadaannya baik-baik saja. Saya akan meresepkan obat untuk jaga-jaga kalau sakitnya kembali," jelas Dokter.


"Baik Dok, terimakasih," Hana.


"Sama-sama," Dokter.


"Yoga antarkan Dokter," pintar Danu.


"Baik ayah," Yoga.


Pagi cerah menyambut hari yang cukup melegakan. Matahari belum keluar dari tempat persembunyiannya karena masihlah jam 05:00 am, tapi seorang gadis dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya berlari-lari kecil mengelilingi halaman kediaman Pradita.


Sekarang ini Geby sedang meregangkan otot-ototnya yang kaku, akibat telah lama hanya berdiam diri karena efek hilang ingatan.


"Mengapa aku merasa masih ada yang terlupakan ya?" gumam Geby.


Ingatan Geby telah hampir sepenuhnya kembali, karena mendengar semua yang di ceritakan oleh keluarganya, kecuali ingatan-ingatan yang memang tak seharusnya manusia biasa mengetahuinya.


"Lupakan! Yang penting sekarang aku sudah mengingat bagian-bagian pentingnya," ucap Geby bahagia.


"Bisa datang seperti manusia gak sih kak?" ucap Geby kesal. Tapi bukan kekesalan Geby yang membuat Yoga terpaku.


"Kau memanggilku apa tadi? Coba ulangi," ucap Yoga.


"Enggak, capek!" ucap Geby meninggalkan Yoga, tapi sebelum benar-benar pergi Geby menoleh. "Kak Yoga," ucap Geby kemudian langsung berlari masuk kedalam rumah.


Yoga terpaku dan menatap kepergian Geby. "Dia sudah ingat? Ya ingatan Geby telah kembali," heboh Yoga menyusul Geby.


Semua mendengar teriakan Yoga langsung berkumpul. Ada yang baru bangun, gosok gigi, bahkan sampoan. Semua berkumpul. "Yoga, Kenapa kau teriak-teriak sepagi ini?" ucap Hana meliril kearah Geby yang tidak seperti malam tadi yaitu canggung, tapi sekarang dia seperti Geby sebelumnya, ceria.


"Mah, Yah, kak, ingatan Geby telah kembali," ucap Yoga tak bisa tidak berteriak mengumumkannya.


"Benarkah? Benarkah itu nak?" tanya Hana.


Geby mengangguk dan semua orang langsung memeluknya.


"Uhuk uhuk, bisa longgarkan pelukan kalian? Aku hampir tak bisa bernafas," ucap Geby yang terjepit oleh semuanya.


"Hahaha, maaf maaf,"


Keseharian Geby pun kembali seperti semula. Dia tak takut lagi untuk keluar rumah.


"Geb, kemarin kan kita tak sempat tujuan datang ke pesta perpisahan sekolah, jadi hanya ijazahnya saja yang kita terima, itu pun dilain hari," ucap Sasa sedih.


"Ah bukan masalah, mari kita rayakan berdua," ucap Geby semangat.


"Hanya berdua?" tanya Sasa.

__ADS_1


"Tentu! Memangnya dengan siapa lagi?" tanya Geby.


"Tidak, tidak ada yuk kita cari tempat," Sasa.


Mereka pun pergi menaiki motor sportnya masing-masing.


Broom broom...


Mereka berdua berhenti dilampu merah. Mereka asik bercanda sampai tak menyadari kalau ada yang memperhatikan mereka, tapi ketika rambu-rambu akan berubah menjadi hijau, Geby langsung menatap mobil disampingnya. Tidak tahu siapa, karena kaca mobilnya berwarna hitam, tapi Geby merasa diawasi oleh orang yang berada di dalam mobil hitam itu.


Tak memikirkannya terlalu dalam Geby pun melajukan motornya mendahului mobil tersebut.


Mereka berhenti di depan rumah makan sederhana bernama rumah makan Mentari yang tertera di atas pintu sebelum masuk,"Kita merayakannya disini saja!" ucap Geby.


"Baiklah! Yang penting kita merayakannya," ucap Sasa.


Mereka masuk dan langsung diam sapa oleh pelayan rumah makan tersebut.


Treng, lonceng diatas pintu berbunyi menandakan mereka telah masuk.


"Selamat datang di rumah makan Mentari. Silahkan duduk di tempat yang pengunjung inginkan," ucapnya ramah.


Geby dan Sasa pun memilih tempat duduk di dekat kaca bertepatan di samping jalan. Tak ada pengunjung lain selain mereka berdua membuat mereka lebih menikmati kebersamaan.


"Mau pesan apa nona-nona?" tanya pelayan laki-laki dengan ramah.


Geby dan Sasa pun memesan makanan dan minuman yang sama.


"Ditunggu ya," ucap pelayan itu lagi sebelum dia pergi meninggalkan pesanan.


Sembari menunggu mereka pun membicarakan macam-macam hal. Mulai dari rencana mereka untuk kuliah sampai pembicaraan rahasia mengenai blue scorpio.


Treng, lonceng di atas pintu berbunyi kembali. Geby dan Sasa masih asik berdua. Mereka tak menyadari dua orang masuk dan duduk tak jauh dari mereka berdua.


Pramusaji datang menghidangkan semua pesanan Geby dan Sasa.


"Selamat menikmati," ucap pramusaji tersebut kemudian pergi menghampiri dua pengunjung lainnya yang memanggilnya.


Setelah makanan mereka telah habis mereka memanggil pelayan untuk meminta tagihannya dan pramusaji tadilah yang datang.


"Tolong tagihannya," ucap geby.


Pramusaji itu pun menghitung dan menyerahkan selembar kertas. Tapi kertas tersebut bukan tagihan mereka, tapi sebuah surat.


Geby membukanya. Surat itu berisikan:


Apakah tunanganku ini sudah puas jalan-jalannya? Atau masih mau jalan-jalan kelain tempat?


Geby langsung melihat kesana kemari, tapi tak di depannya satu orang pun selain para pelayan rumah makan.


"Mungkinkah orang yang masuk setelah kami?" batin Geby.


"Geby, ada apa?" tanya Sasa merasa ada yang aneh dari Geby.


"Tidak ada! Mari pergi!" ucap Geby mengajak Sasa untuk pergi sebelum bertemu lagi dengan orang yang benar-benar dihindari. Geby tak mau melibatkan keluarga, teman serta organisasinya dalam hal pribadinya. Geby sudah tahu pasti akibatnya kalau melawan satu orang ini.



Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2