Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.48


__ADS_3

Kuk kuk


Suara burung hantu terdengar di dimana-mana. Hewan kecil saling bersahutan. Pepohonan mengelilingi disetiap sudut.


"Ugh! Hah dimana ini? Gelapnya," gumam Geby lemah.


Saat Geby menetralkan sedikit sakit kepalanya dia teringat dengan kegiatan terakhir kalinya sebelum dia tak sadarkan diri.


"Mereka!" geram Geby. "Tunggu saja saat aku keluar dari sini,"


Geby mulai berdiri, berjalan mencari arah jalan keluar dari yang Geby duga adalah hutan kecil atau bisa juga perkebunan, entahlah, tapi terlihat seperti hutan tak berujung, karena sedari tadi Geby tak kunjung menemukan jalan menuju jalan raya hanya terdapat jalan-jalan yang yang tak banyak pohon tapi setelah Geby mencoba menjalaninya, lagi-lagi dia kembali ketempat semula.


"Ahhh lelahnya, aku harus mencari bantuan saja," Geby mencari sesuatu di sakunya dan menemukan ponselnya.


"Apa aku telpon Adam aja ya? Aku masih kurang tahu wilayah ini, kalau sembarangan jalan arah nanti bisa tersesat atau kembali ketempat semula lagi," gumam Geby yang berdebat dengan dirinya sendiri harus minta bantuan adam atau tidak.


"Telpon saja deh, kebanyakan berfikir nanti semakin malam lagi,"


Geby pun memanggil Adam dengan ponselnya.


Klak...


"Hallo?" Adam.


"Adam... Apa kamu bisa datang menjemputku?" Geby.


"!!!Geby, dimana kamu sekarang?" teriak panik Adam dari seberang sana.


Geby terdiam dan berbicara melalui batinnya yang isinya. "Mengapa dia panik sekali? Apakah nada bicaraku seperti orang ketakutan atau apa?"


"Geby," panggil Adam.


"Y-ya, aku di mana ya...oh aku juga tidak tahu pasti, tapi saat ini aku sedang berada di hutan. Sebelumnya aku sedang berada di festival kampus...tut...tut...tut...," sambungan telpon terputus tiba-tiba.


"Eh? Mengapa putus, apakah disini tak ada sinyal?" Geby kesana kemari berharap sinyal muncul.


Merasa tak ada hasilnya Geby pun memilih duduk, karena kakinya mati rasa akibat kelamaan berjalan mencari arah dan sinyal.


"Huuhhh, apa dia bisa menemukanku?" gumam Geby setelah menghela nafas.


Satu jam telah berlalu, masih tak ada tanda-tanda kedatangan seseorang yang datang.


"Apa aku coba lagi mencari jalan raya ya!" gumam Geby yang mulai berdiri membersihkan pakaiannya....


Sshhhht


Sshhhht


"Suara apa itu?"


"Ular? Eh banyak sekali, darimana semua ular ini datang?"


Geby semakin mundur karena ular-ular semakin banyak keluar dari semak-semak maupun turun dari atas pohon.


Geby siap dengan ranting kayu yang dia dapat. Satu ular akan mematuk kakinya dia dapat menangkisnya dan melemparkan ular itu, tapu satu telah di usir dua, tiga ular kembali mendekat.


"Mengapa ular ini tak habis-habisnya?"


Sampai saat Geby hampir kewalahan...

__ADS_1


Brum brum


Terdengar dari kejauhan suara mobil mendekat.


Citt


Prekk


Tiga, empat ular terlindas ban mobil yang berhenti di depan Geby yang masih mengusir beberapa ular yang belum labur setelah terkena cahaya lampu mobil.


Clak!


Pintu mobil terbuka. "Geby, kau baik-baik saja?"


"Adam...mati kau," ucap Geby kemudian saat ular mendekat kembali dia pukul dengan sepatunya.


Keadaan Geby sudah sangat memprihatinkan sepatu terlepas yang digunakannya untuk memukul dan menghalau ular yang mendekat.


"Bunuh semua ular," perintah Adam pada bawahannya yang dia bawa.


Adam mendekati Geby yang terlihat gemetar.


"Lama banget sih datangnya, ku kira kau tak akan datang, karena ku fikir kau sangat sibuk akhir-akhir ini," ucap Geby kesal kemudian dia duduk di atas tanah.


"Eh Geby, kau tak apa-apa?" panik Adam menggapai Geby.


"Ya, tak apa. Hanya saja kakiku gemetar. Kau tahu berapa lama aku menyingkirkan ular-ular itu? Hampir satu jam lebih tahu. Belum lagi aku berjalan mencari arah jalan raya yang tak kunjung ketemu," keluh Geby kemudian bersandar pada lengan Adam yang berjongkok di sampingnya.


Aaaa, teriak Geby lemah, pasalnya Adam mengangkatnya dan membawanya ke dalam mobil, merebahkannya di kursi belakang dengan paha Adam sebagai bantalnya. Ingin menolak tapi badan Geby terasa sangat lelah dan dia pun memilih memejamkan matanya.


"Tuan, ular-ular ini bukanlah ular biasa. Ular ini sepertinya sengaja di lepas dan sebelumnya telah diberi obat yang membuat mereka hilang kendali," jelas salah satu bawahan Adam.


Meski mata Geby terpejam, tapi dia tidak tidur. "Sepertinya aku sudah memberi kelonggaran pada gadis itu?" batin Geby.


"Adam," panggil Geby.


"Kau tidak tidur?" Adam terkejut saat mendapati Geby tidak tidur.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku minta kau jangan bertindak, aku akan membereskannya sendiri," ucap Geby tanpa membuka matanya.


"Baiklah! Kuserahkan padamu, tapi satu pintaku, kau jangan sampai terluka," ucap Adam.


"Hmmm," Geby.


"Kita kembali," perintah Adam pada Jai diikuti bawahannya yang lain.



Keesokan harinya seperti hari kemarin, hari ini pun festival masih berlangsung ramai.



Geby telah datang dan siap untuk membalas semua perbuatan Nina dan kawan-kawannya.



Brakk...


__ADS_1


"Geby?" terkejut mereka saat siapa pelaku yang menggertak meja stand mereka dan membuat barang dagangan mereka berantakan.



"Ya ini aku! Kalian terlihat tak senang melihatku," ucap Geby.



"A-an tentu kami senang kan, kan," jawab Nina gugup dan langsung diiyakan oleh yang lain.



"Tunggu festival berakhir, habis kalian," ancam Geby, kemudian dia pergi.



Jam menujukkan pukul 4 sore, featival berakhir untuk hari ini dan besok adalah hari terakhir.



Aaaaaaa



Teriakan di sebuah stand menarik perhatian semua orang untuk mendekat melihat apa yang terjadi.



"Ada apa?"



"Ular-ular... ularnya banyak sekali," teriak Hani yang lari kocar-kacir keluar dari stan begitu juga dengan yang lain. Kecuali Nina yang telah di lilit seekor ular yang tak berbisa di kakinya membuat dia kencing.



Semua yang menyaksikan tertawa. Dan setelah semua ular telah di tangkap, untuk menghilangkan malunya karena kencing dia pun pura-pura pingsan dan langsung yang lain membawakan tandu untuk mengangkatnya.



"Kenapa kau melakukan itu sendiri? Kenapa kau tak minta bantuanku, kan sudah ku katakan aku akan melakukan apa pun yang kau minta, meski itu untuk memberimu seiisi dunia ini," ucap Adam kecewa, Geby yang kaget berbalik menatap Adam yang tanpa dia sadari ada di belakangnya.



Geby mendengarkan sampai selesai. dan setelah Adam telah selesai berbicara Geby pun menjawab. "Aku bukan perempuan yang hanya bersembunyi di belakang seorang pria," ucap Geby.



Adam menatap intens Geby tanpa ada niat mengalihkan pandangannya dengan tangannya yang masih menggenggam erat tangan Geby.



"Hei Dam, bisa lepaskan tanganku? Bagaimana kalau ada yang melihatnya?" bisik Geby.



"Geby, apakah kau benar-benar masih tidak ingin orang lain tahu hubungan kita?" Adam. 'Dari kecil sampai sekarang banyak orang-orang berlomba-lomba mendekatiku, apalagi perempuan. Mereka rela naik keranjang untuk mencapai tujuan mereka. Tapi Geby? Justru berfikir sebaliknya. Malah aku yang sangat ingin mengejarnya. Apakah ini rasanya mengejar seseorang yang tidak menginginkan kita?' batin Adam.


__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2