Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.45


__ADS_3

Tak mendapat respon dari Geby Adam pun mengambil sendiri tangan bekas menampar wajah Nina barusan dengan lembut.


"Merah," gumam Adam.


"Hah? Ada yang kau katakan?" tanya Geby yang tak mendengar gumaman Adam.


Bukannya menjawan Adam malah bertanya. "Apa sakit?"


Geby menggeleng. "Tidak! Tapi apa yang kau lakukan ini? Kau membuatku jadi lebih diperhatikan oleh orang lain," ucap Geby berbisik. Dia itu marah karena Adam tak memikirkan resiko dia bersikap seperti ini terhadapnya.


Tapi bukannya menanggapi ketidaksukaan Geby tiba-tiba wajah Adam berubah dingin tak terbantahkan. "Jangan lakukan itu sendiri kelak, wajahnya itu penuh dengan bedak yang sangat tebal. Tanganmu bisa kotor. Dan bagaimana kalau tanganmu terluka? Mungkin aku akan memotong lehernya," bisik Adam diakhir, tapi sayup-sayup masih terdengar oleh yang lain.


"Hiii, tuan Adam sangat menyeramkan!"


Geby pun berusaha mengembalikan suasana yang menegangkan dengan menenangkan Adam. "Tanganku tidak sakit! Jangan sembarangan berucap," ucap Geby berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adam.


PoV Adam On


Satu jam yang lalu aku berencana untuk menjemput Geby di kampusnya mengajaknya makan malam di sebuah restauran.


"Kau bilang Geby sering di tindas di kampus?" tanya Adam kepada Jai yang duduk disampingnya. Karena saat ini mereka berada di dalam mobil menuju ke sebuah cafe mebemui clien sebelum pergi ke kampus Geby.


"Iya, sejenis intimidasi dalam sebuah universitas," jawab Jai.


"Nona Geby sering dikucilkan di lingkungan kampus karena dianggap miskin dan tak memiliki kekuatan dibelakangnya. Dengar-dengar baru-baru ini dia baru memprovokasi seorang anak dari pemegang saham terbesar di kampus tersebut yang bernama Nina. Dan baru saja ku terima laporan dari pengawal tersembunyi nona Geby, bahwa " jelas Jai.


"Mengapa kau baru mengatakannya sekarang!" ucap Adam dingin dengan wajah marah.


Jai berkeringat dingin. "M-maaf tuan, nona Geby melarang saya memberitahukan kepada tuan," ucap Jai gugup.


"Cepat kita ke kampusnya," ucap Adam mutlak.


Langsung saja Jai memutar arah mobil dan melaju. Aku benar-benar marah sekarang, mengapa Geby tak memberitahukan masalah seperti ini padaku? Apakah dia masih tak mempercayaiku? Ah aku frustasi kalau seperti ini.


Sesampainya di kampus aku langsung menuju ke kelas Geby yang aku tahu dari Jai.


Saat aku telah dekat dengan kelasnya aku sedikit heran mengapa di depan kelas Geby banyak sekali orang. "Ada apa?"


"Mungkin mereka yang membuat masalah dengan nona Geby sudah datang," jawab Jai.


Setelah mendengar Jai aku langsung menerobos kerumunan itu dan tak kuduga, yang kulihat tamparan keras dari Geby. Memang aku tahu dia hebat dalam hal berkelahi dan yang berbau kekerasan, tapi di tanpa ragu menampar sesamanya?

__ADS_1


PoV Adam Off


"Bisa lepas? Kau sudah lama memegang tanganku," ucap Geby.


"Jai, salep," ucap Adam tanpa mengindahkan ucapan Geby.


Jai menyerahkan salep yang diminta dan Adam pun mengoleskan salep itu ke telapak tangan Geby.


"Eh, dia ingin mengobatiku? Wah jari-jarinya begitu halus, mengobatiku dengan penuh kehati-hatian. Dia mengolesinya dengan sangat lembut. Aku jadi ragu kalau dia itu bos mafia. Tapi perasaan apa ini? Aku tak mengartikannya," batin Geby sambil menatap tangannya yang di olesi salep dan pipi yang mulai bersemu.


"Saat ini dia, dia memegang tanganku dengan penuh kehati-hatian seolah-olah seperti memegang benda yang sangat berharga," lanjut batin Geby. "Eh, tapi mengapa tangannya begitu dingin?" Geby menatap wajah Adam.


"Mengapa tanganmu sangat dingin? Kau sakit?" tanya Geby yang tak bisa membendung penasarannya. "Aku tak pernah benar-benar tahu tentangnya, jadi aku tidak tahu mengapa tangannya sangat dingin, dan dinginnya itu bukanlah dingin biasa," batin Geby.


"Apakah kau mengkhawatirkanku?" bisik Adam.


"Aku serius! Apakah kau terkena racun es?" ucap Geby dengan serius. Meski lupa akan hal fantasi yang pernah dilalui Geby, tapi kemampuannya tidak lah hilang. Salah satunya ilmu pengobatannya yang lumayan.


Saat Geby menyebutkan tentang racun es bola mata Adam membulat dan sekian detik kembali seperti semula.


"Tidak masalah," ucap Adam dengan tersenyum.


"Gila nih orang. Orang atau bukan sih, yang ku ingat seseorang yang terkena racun es itu tubuhnya akan sedingin es dan setiap satu bulan sekali akan mengalami sakit yang luar biasa. Apakah ini waktunya?" batin Geby menatap tak percaya pada Adam.


"Ikut aku!" ucap Geby kemudian menarik Adam.


Sekarang mereka berdua sedang berada di ruang uks kampus.


"Racunnya sudah sangat ganas! Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?" tanya Geby sambil memeriksa suhu badan Adam dengan menempelkan punggu tanggannya ke dahi Adam.


"Apakah kau memiliki obat untuk menekan racunnya?"


Tidak seperti orang kesakitan, malahan Adam terus saja tersenyum sambil menatap Geby yang terlihat panik dan khawatir.


"Mengapa kau tersenyum? Mana obatnya? Apakah kau sudah memakannya?"


"Sudah kumakan...," ucap Adam terdengar ragu.


Kembali Geby mengecek suhu tubuh Adam melalui dengan menyentuh dahi Adam.


Dan sangat terlihat kalau pipi Adam bersemu. "Entah mengapa hanya dengan di sentuh oleh tangannya membuatku lebih rileks," batin Adam. "Mungkin ini merupakan salah satu aku lebih tertarik padanya waktu itu," lanjutnya.

__ADS_1


"Tapi obat itu juga tak ada gunanya. Karena selama bertahun-tahun setelah aku mendapat racun itu dari salah satu musuhku, baik itu obat tradisional maupun obat modern, tidak ada pengaruhnya sama sekali kecuali mengurangi sakitnya sedikit, sangat sedikit, karena rasa sakit yang kurasakan tetaplah terasa sangat sakit," ucap Adam.


"Jika belum ada obat yang berfungsi penuh, lalu apa yang kau lakukan selama ini, ketika racunnya kambuh seperti ini?" tanya Geby. Dia terlihat sangat khawatir, karena memang sifatnya selalu baik terhadap orang lain, meski itu musuh yang masih dapat dia toleransi kalau moodnya lagi baik.


"Menahan," jawab Adam singkat. Tapi jawaban itu mampu membuat Geby terhenyak seperti merasakan sakit yang diarasakan Adam.


Geby menjauhkan dirinya dari Adam tapi... "Jangan jauh dariku," pinta Adam.


"Eh, kau kenapa manja sekali, aku hanya ingin pergi ke perpustakaan sebentar, mencari buku yang menerangkan racun es itu," bingung Geby.


"Apakah kau ingin membantuku?" tanya Adam.


"Ya!" jawab Geby yakin.


"Tidak perlu dicari, karena kalau kau ingin membantuku kau hanya perlu berada di sisiku dan sentuhlah aku. Contohnya seperti pegang tanganku atau pun dahiku seperti tadi," ucap Adam.


"Memang bisa begitu?" Geby.


"Ya bisa! Aku juga tidak tahu rasa sakit yang kurasakan sedikit mereda dan perlaham berkurang sesaat kau memegang dagiku barusan," Adam.


"Benarkah?" Geby.


"Ya," Adam.


"Hmm baiklah kalau begitu, tapi ini benerankan? Jangan berani-berani kau menipuku dan mengambil kesempatan," peringat Geby.


"Benar, ini sungguhan. Aku juga tidak tahu akan sangat bekerja hanya dengan bersentuhan denganmu. Kalau kau tidak percaya setelah ini ikut aku menemui dokterku," ucap Adam meyakinkan.


"Baiklah,"


Geby pun duduk di sisi ranjang uks, sedangkan Adam merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Geby mulain meletakkan tangannya di dahi Adam sambil mengusapnya, berharap sakitnya benar-benar berkurang.


Adam memejamkan mata dan tak sengaja tertidur karena merasa rileks dan nyaman dengan elusan Geby.


Di dalam tidurnya entah apa yang dimimpikannya membuatnya merintih kesakitan membuat Geby ingin membangunkannya, tapi ketika Geby lebih mengusap, menenangkan Adam, Adam pun menjadi lebih tenang.



__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2