Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.29


__ADS_3

Aktivitas Geby kembali seperti sebelum dia kehilangan ingatannya.


Kesibukan di kantor membuatnya tak bisa istirahat dengan benar.


"Istirahatlah Geb," pinta Sasa.


"Eh kau? Nanggung sedikit lagi selesai," ucap geby.


Sasa selalu tak mampu membujuk Geby untuk beristirahat. Dia selalu memiliki alasan yang tak dapat di tolak.


"Haahh, baiklah, tapi sekarang kita harus pergi dari ruangan pengekang ini!" ucap Sasa seraya merapikan semua berkas yang berserakan diatas meja kerja Geby.


"Iiih kok, kerjaanku belum selesai Sa, dan lagi setelah istirahat ini aku harus ketemu dengan klien, lagian kamu mau bawa aku kemana sih?" Geby masih kerasa kepala untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Bisa batalkan dulu pertemuanmu itu? ini sangat penting, karena sebelumnya kau harus berdandan dulu," pinta Sasa dengan wajah memelas.


"Tidak bisa! Pertemuan ini sangat penting bagi perusahaan kita," sahut Geby.


"Huh baiklah, kau selesaikan pertemuanmu dulu, setelah itu kau langsung datang ke butiknya Roni ya," ucap Sasa berhenti membereskan semua berkasnya Geby.


"Untuk apa kesana?" tanya Geby.


"Ada lah.... kau datang saja, aku akan duluan kesana," ucap Sasa kemudian pergi dari ruang kerja Geby.


"Huuuh, punya sahabat begitu amat," keluh Geby.


Setelah istirahat sebentar seperti yang telah dikatakan oleh Geby bahwa dia akan bertemu klien di sebuah cafe.


Geby selalu datang awal jika melakukan pertemuan dengan klien.


"Maaf, apakah anda telah lama menunggu?" tanya seorang pria yang berdiri didepan Geby.


"Bukan masalah memang saya yang datang lebih awal," ucap Geby datar. Itu lah ciri khas dari Geby sebagai seorang CEO perempuan. Geby di kenal sebagai CEO dingin oleh semua karyawannya tak terkecuali di blue scorpio.


"Perkenalkan nama saya Denis CEO dari perusahaan berlian di kota B," ucap Denis memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan.


"Geby, CEO dari perusahaan perhiasan," sahut Geby menerima uluran tangan Denis.


Mereka berdua pun membahas kerjasama antar perusahaan mereka.


Tak terasa mereka telah berdiskusi selama satu jam setengah. "Ah aku sampai lupa waktu. Berbicara dengan nona Geby sungguh sangat asyik meski itu membicarakan masalah pekerjaan," ucap Denis.

__ADS_1


"Biasa saja, tuan Denis juga sangat nyambung untuk diajak bicara," ucap Geby sedikit hilang kedatarannya.


"Kalau begitu terimakasih atas waktu anda nona Geby," ucap Denis seraya berdiri dan mengulurkan tangannya untuk salam perpisahan dan disambut hangat oleh Geby.


Geby mengendarai mobilnya menuju butik Roni, butik yang sebenarnya milik Geby, hanya saja Roni yang menjalankannya. Roni merupakan anggota dari blue scorpio. Sudah di jelaskan bahwa setiap perusahaan, bisnis apa pun yang Geby dirikan selalu anggota bule scorpio yang terpercaya untuk menjalankannya, tapi tentunya dengan keahlian mereka masing-masing.


Tin tin


Geby membunyikan klakson untuk memberitahukan orang-orang di dalam butik kalau dia sudah datang.


Ya seperti yang di harapkan Sasa dan Roni keluar dari dalam butik. "Oh astaga kau baru datang sekarang?" ucap Sasa frustasi menghadapi sahabatnya yang gila kerja ini. Tidak sesuai dengan umurnya yang baru 18 tahun lebih. Baru juga lulus SMA sudah gila kerja.


Sebelum keluar Geby menyimpan topengnya memastikan tidak ada yang melihat dirinya. "Hehe maaf, tapi aku datang kan," ucap Geby cengengesan.


"Ya iya datang, tapi ah sudahlah, cepat masuk saja," ucap Sasa menarik Geby masuk.


"Selamat datang nona," sapa Roni.


"Yoo Roni lama tak jumpa," sapa Geby dengan gaya tomboinya mengangkat tangannya.


"Kalem napa," kesal Sasa.


"Astaga Sa, kau gila? Aku bisa mati kelelahan kalau mencoba semua pakaian ini," keluh Geby.


"Lelah apanya, giliran kerja gak ada keluhan lelah tuh, masa gini doang lelah," ucap Sasa tak menghiraukan keluhan Geby. Dia tetap memaksa Geby untuk mencoba semua pakaian tersebut mengabaikan semua keluhan serta gerutuan dari Geby.


Geby bolak balik keluar masuk ruang ganti dengan wajah cemberut.


"Nah itu cocok untukmu," teriak Sasa membuat Roni dan Geby terlonjak kaget.


"Sa? Kau membuatku hampir serangan jantung tau," ucap Geby sambil mengelus dadanya. "Apakah sudah selesai?" tanya Geby berharap semuanya telah selesai tapi harapan hanyalah harapan.


"Tunggulah sebentar lagi, dandan dulu napa," ucap Sasa kemudian memaksa Geby menghadap cermin.


Roni mengaplikasikan foundasion dan bedak setipis mungkin di wajah putih nan mulus Geby dan terakhir Roni mengoleskan lipstik pink ke bibir mungil Geby. "Selesai," ucapnya. "Cantik! Sungguh benar-benar cantik," lanjutnya terpesona dengan kecantikan Geby.


"Benar sangat cantik," sambung Sasa.


"Memang dari lahir cantik bukan?" ucap Geby percaya diri.


Roni hanya tersenyum berbeda dengan Sasa yang jengah mendengar ucapan percaya diri Geby. "Ya ya, kau cantik dari lahir, tapi sekarang waktunya kita pergi," ucap Sasa kemudian membawa Geby masuk ke mobilnya.

__ADS_1


"Ron, terimakasih untuk hari ini," ucap Sasa.


"Suatu kesempatan langka bagiku untuk mendandani nona Geby," ucap Roni.


"Baiklah bye," Sasa pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Setelah setengah jam berlalu Geby telah selesai di dandani oleh Sasa. Sasa mengajak Geby turun ke ryang tamu. Di sana terlihat banyak orang berpakaian hitam berdiri berjejer sampai keluar ruangan dan beberapa duduk sofa. Perasaan Geby semakin tak enak karena firasatnya ini bukan hal yang baik.


Setelah pakaian telah dipilih dan Geby telah di dandani Sasa pun membawa Geby menaiki mobilnya.


Sasa membawa Geby ke suatu tempat yang tak lain adalah arah tujuan rumah Geby, kediaman pradita.


Geby bingung karena banyaknya mobil berjejer di depan kediaman. "Ada acara apa Sa?" tanya Geby.


"Masuk aja dulu, nanti kau juga akan tahu," ucap Sasa yang bukannya membuat penasaran Geby hilang malah semakin membuat Geby penasaran.


"Selamat sore, maaf datang nya telat," sapa Sasa pada semua orang yang ada di ruang tamu.


"Eh kalian sudah datang? Tidak apa, ayo duduk," ucap Hana.


"Wah cantiknya," ucap seorang wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik.


"Benar, pintar juga anak itu memilih gadis ya," ucap seorang pria paruh baya yang terlihat masih gagah.


Mereka bedua berbicara hampir berbisik tapi masih dapat di dengar oleh telinga Geby yang tajam. "Siapa? Sasa?" batin Geby.


Geby melihat satu-persatu orang yang ada di ruang tamu dengan wajah penasaran. Kebetelulan Yoga duduk tak jauh darinya. "Siapa mereka? Calon mertua kak Farel ya?" tanya ngawur Geby.


"Ngawur kamu, tunggu ada satu orang yang tadi keluar," ucap Yoga sambil mengedipkan matanya.


"Hmmm?" Geby bertanya-tanya.


"Maaf lama," ucap seseorang yang masuk.


Geby mendongak dan matanya terbelalak setelah melihat siapa kah orang itu. "Adam?" ucap Geby pelan, tapi sepelan apa pun suaranya tetap masih terdengar.




Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2