Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.13


__ADS_3

Sekolah pun bubar, para murid pulang ke rumah mereka masing-masing dan ada juga yang menyimpang, kalian tahu lah tidak semua anak SMA adapah anak baik yang patuh akan waktu pulang ya pulang ke rumah.


"Aku mau ke kediaman dulu deh, toh gak ada orang juga di rumah selain para pembantu," batin Geby.


Geby pun melajukan sepeda motornya membelah jalanan yang lumayan macet, tapi tak menyurutkan semangat Geby untuk menemui para keluarga barunya.


Sesampainya di dikediamannya, Geby membuka pintu dan


"Hallo everyone I am coming," teriak Geby, mengejutkan seisi kediaman.


Tap tap tap tap tap


Langkah kaki terdengar tergesa-gesa mendekat ke arah Geby.


"Hah hah hah, ada apa nona?" tanya seseorang yang paling pertama sampai di depan Geby dengan terengah-engah. Dia adalah Susan, pembantu di kediaman besar itu yang bertugas memastikan kebersihan kediaman Geby.


Bukannya menjawab, Geby malah berjalan melawati Susan yang merasa kesal di abaikan, tapi dia juga sudah biasa akan hal itu, mengingat memang sifat Geby yang suka berubah-ubah.


Susan bergegas mengikuti arah tuju Geby.


Saat berjalan tak tentu arah Geby menanyakan keberadaan Fino dan sebelum Susan menjawab, Fino telah terlihat dari kejauhan menuju kearah mereka.


"Nona? Kapan datang?"


"Baru saja. Kau sudah siap dengan rencana kita? Kau juga Susan?"


"Siap nona," jawab mereka tegas.


"Bagus, Dimana yang lain?"


"Ada yang bersiap dan ada yang masih mengerjakan tugas mereka masing-masing," jawab Fino.


"Baiklah, kumpulkan mereka malam ini, aku akan datang. Untuk sekarang aku akan pulang dulu, menyelesaikan masalahku," ucap Geby kemudian pergi.


Geby pun menaiki motornya dan melaju menuju rumahnya. Sesaat kemudian dia sampai di rumah dan masuk, dan betapa terkejutnya seperti melihat hantu tiba-tiba saat dia membuka pintu muncul seorang laki-laki dengan mata pandanya. "Oh astaga, ku kira hantu dari mana," ucap Geby sambil mengelus dadanya menenangkan jantung yang berdetak kencang.


Dia adalah Yoga dengan mata panda, badan lesu, mungkin kurang tidur dan kelelahan, begadang? Balapan? Atau mungkin..... Entahlah.


Yoga tak menghiraukan ucapan Geby, dia melewatinya keluar rumah lalu menuju bagasi mengmbil motornya dan melajulannya, entahlah mau kemana.


"Cih, punya kakak, gak ada akhlak. Eh tunggu, dia mau kemana dengan keadaan ngantuk gitu? Kan bahaya mengendara dalam keadaan ngantuk. Sudahlah kapan-kapan ku ikuti dia,"


Geby pun masuk ke kamarnya, mandi, mengganti bajunya kemudian turun ke dapur mencari makan.


Seperti biasa dia akan selalu sendiri saat makan sepulang sekolah.

__ADS_1


...


Malam tiba, saat ini Geby sedang makan malam bersama dengan anggota keluarga Geby. Seperti sebelumnya, keadaan pastinya hening tanpa ada percakapan saat makan berlangsung. Tapi kali ini sedikit memcekam, pasalnya wajah Hana dan Danu tak bersahabat.


Setelah lama diam, makan pun juga selesai Danu pun berbicara "Aku akan ke luar negeri untuk bekerja,"


"Bekerja?" sinis Hana.


"Ya, kenapa?" ucap Danu datar.


"Bekerja atau liburan dengan selingkuhanmu?" Hana.


"Bekerja, aku tak memiliki selingkuhan," ucap Danu sedikit santai tanpa wajah datarnya.


"Huh," Hana berdiri dari kursinya, membuat ketiga anaknya menoleh kearahnya "Aku tak percaya," kemudian dia pergi meninggalkan ruang makan.


Keadaan kembali hening, terlihat sekali wajah Danu frustasi. "Arghh," teriak Danu sambil mengacak rambutnya kemudian pergi.


"Kenapa mereka berdua?" ucap Yoga dan mendapat gedikan bahu oleh Farel dan tatapan tak dapat diartikan dari Geby.


Acara makan malam yang di warnai keadaan mencekam pun berakhir. Geby kembali ke kamarnya, niat untuk bersiap pergi.


"Sempurna," ucapnya melihat pantulan bayangannya dari cermin.


Tanpa ada yang curiga maupun tahu dengan lancarnya Geby keluar dengan memanjat tembok pagar rumah.


Citttt


Sepeda motor di depan Geby tiba-tiba berhenti mendadak, untungnya Geby mengendarai motornya dengan santai, jadi dia dapat dengan cepat menghentikan laju motornya.


Setelah menetralkan keterkejutannya, Geby tersentak mendengar umpatan-umpatan pengendara motor di depannya.


Penasaran, Geby pun menepikan motornya dan maju ke depan, dia juga ingin tahu apa yang membuat sang pengendara motor marah-marah.


"Sial minggir kau, dasar gelandangan, buta lagi," ucap kasar sang pengendara motor lalu melajukan kendaraannya lagi meninggalkan sesosok bocah laki-laki sekitar umur 10 tahun, dengan pakaian lusuh dan luka pada siku dan lututnya yang sedang terduduk kesakitan di jalanan aspal.


Geby segera membantunya berdiri dan menepi, karena saat itu dia terduduk di hampir tengah jalanan, untungnya jalanan itu tidak banyak di lalui oleh pengendara motor maupun mobil. Entahlah, apa yang membuat bocah laki-laki itu mau menyeberang.


"Dek, adek gak apa-apa? Apa ada yang luka selain siku dan lutut adek, sakit gitu?"


Bocah itu hanya menggeleng sebagai tanggapan, karena dia terlihat sangat terburu-buru mencari-cari sesuatu dengan perlahan dan meraba-raba jalanan beraspal itu.


"Adek cari apa?"


"Makanan,"

__ADS_1


"Makanan?"


Geby baru sadar ternyata saat dia terjatuh akibat pengendara motor sebelumnya makanan atau roti yang di bawanya jatuh ke aspal dan di lindas oleh ban motor pengendara tadi.


Geby merasa iba, karena roti itu juga terlihat seperti sisa dan terihat kotor.


"Adek mau makan?"


"Iya, tapi makanan itu untuk adik saya,"


"Adik?"


"Iya,"


Bocah itu berdiri berusaha berjalan menuju aspal dan meraba-raba tempat dia jatuh tadi.


Geby tak tega pun mengangkatnya, terasa badannya sangat ringan, seperti kurang gizi, jadi Geby dengan mudahnya mengangkatnya.


Bocah itu berusaha turun tapi berhenti saat Geby berkata "Tenanglah, Dimana adikmu? Kakak akan membelikan makanan untuk kalian, tidak perlu memungut makanan itu lagi,"


Dengan ragu bocah laki-laki itu menunjuk keseberang jalan. Geby pun menyeberang dan mengikuti setiap arahan dari bocah laki-laki itu.


Tak jauh dan tak sulit di temukan, pantas saja bocah laki-laki itu bisa sampai sejauh itu meskipun dia tak dapat melihat.


Terlihat di pojokan gang sempit beralaskan kardus, seorang bocah laki-laki yang masih kecil, berumur sekitar 5 tahun dengan pakaian tak kalah lusuhnya seperti yang di pakai bocah di gendongan Geby, duduk sambil memegang perutnya.


Geby menurunkan bocah di gendongannya, karena dia meminta di turunkan.


"Kakak," panggil bocah berumur lima tahun saat melihat kakaknya (bocah 10 tahun)


Berjalan dengan pelan sambil meraba-raba tembok semen sebuah bangunan, akhirnya bocah laki-laki berumur 10 tahun itu pun sampai dan memeluk adiknya.


Terdengar sang adik mengeluh perutnya sangat lapar sambil mengusap perutnya dan terlihat pula wajah sang kakat terlihat sedih sambil menenangkan adiknya.


"Tahan sebentar lagi ya," ucap sang kakak lalu berbalik, tapi bukan ke arah Geby, tapi Geby tahu jika sang bocah itu mencari dia.


Geby mendekati dua bocah kakak beradik itu dan berkata "Ikut kakak ya, kakak akan belikan makanam untuk kalian,"


Bocah kecil itu berteriak senang "Benarkah?" dia memastikan dengan mata berbinar. Geby mengangguk mengiyakan dengan senyuman.




Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2