
Satu minggu setelah Geby di skors.
Jam 7 pagi, di dalam kelas sudah ada beberapa mahasiswa/i yang datang begitu pula Geby yang akan masuk ke dalam kelas tapi terhenti saat mendengar namanya disebut-sebut.
"Bukankah hari ini skor Geby telah berakhir? Kemungkinan hari ini dia akan kembali masuk,"
"Iya iya,"
"Hei hei, apakah kalian dengar bahwa Geby itu simpanan dari pengusaha muda yang bernama Adam itu?" seorang mahasiswi yang langsung nyahut saat mendengar nama Geby di sebut.
"Benarkah? Kalau begitu sih aku mau,"
"Ngimpi kamu,"
"Jadi benar dong kalau Geby itu seorang simpanan, meski bukan om om,"
"Iya juga sih, tapi kan tetap saja perbedaan umurnya cukup jauh,"
Geby masuk dengan santai tanpa memperdulikan mereka yang menggunjingnya. Toh itu semua tidak benar, meski benar kalau dia itu istrinya Adam bukan simpanannya Adam.
Yang tadinya bergunjing, sekarang merinding takut, tatkala melihat Geby masuk kedalam kelas.
"Hei Geb!...Bagaimana istirahatnya?" tanya Angga yang baru datang dan duduk di samping Geby.
"Puas!" jawab singkat Geby.
"Wahh, aku jadi mau juga nih," ucap Angga.
"Coba aja! Tidak sulit kok. Kau hanya perlu muluk mahasiswa lain dan di panggil dan akan di skors," ucap Geby nyaring dengan santainya. Mahasiswa/i yang mendengarnya bergidik seketika.
"Tidak...Tidak deh. Oh ya, mau jadi partner aku ke pesta tidak?" tanya Angga yang baru datang dan duduk di samping Geby.
Geby menoleh. "Pesta? Pesta apa?"
"Kamu terlalu acuh dengan lingkunganmu, oh iya kan kamu baru masuk ya, hehe," ucap Angga cengengesan. "Itu kakak tingkat yang bernama Sila mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya. Semua mahasiswa/i semua angkatan dan jurusan di undang," jelas Angga.
"Oh!" respon Geby yang masih saja acuh membuat Angga semakin gregetan dan dia langsung menjempit leher Geby dengan tangan kirinya.
"Hei, lepasin. Sakit tau," kesal Geby kepada Angga yang membuat ikat rambut kuncir kudanya menjadi berantakan alias sedikit lagi lepas. "Nah loh, berantakan kan," lanjut Geby yang kembali menata rambutnya yang terus terusan di acak oleh Angga.
Kelas di mulai pembicaraan mengenai pesta ulang tahun pun tak memiliki ujung. Geby masih saja tak perduli dengan lingkungannya. Entah itu pesta atau apa pun yang tak mengenai tentang kampus dia tak perduli.
"Geby!" panggil Angga.
Geby yang sudah akan pergi melewati gerbang kampuspun berbalik. "Hm?"
Hosh hosh hosh...
Angga mengatur deru nafas yang tak beraturannya, akibat berlari mengejar Geby.
"Kenapa kau meninggalkanku? Oh ya bagaimana dengan tawaranku tadi? Aku benar-benar tak memiliki partner," ucap Angga.
__ADS_1
"Di kampus bukan hanya aku seorang yang perempuan. Cari yang lain saja deh, aku malas pergi ke pesta-pesta apalah itu," tolak Geby.
"Ayolah," melas Angga memohon.
Geby mengalihkan pandangannya dari Angga. Geby rasa tak sanggup melihat sosok Angga yang seperti anak kucing yang manja. Meski dia sering berprilaku seperti itu, tapi tidak sememelas ini.
"Akan ku fikirkan!" putus Geby.
"Yesss, kalau begitu jangan lewat dari jam 7 malam ya berfikirnya. Kalau tidak, aku benar-benar akan sendirian perginya. Nanti apa dikata yang lain, seorang pria tampan pergi ke pesta sendiri," ucap Angga.
"Ya ya, dah aku pulang dulu," ucap Geby yang sekarang benar-benar telah meninggalkan Angga.
Sebuah gaun berwarna biru malam panjang dibawah lutut dengan lengan panjang se siku membalut tubuh mungil Geby saat ini. Sepatu hak sedang berwarna senada dengan gaunnya membalut kaki cantik Geby.
Rambut di sanggul dengan untaian sedikit rambutnya dimasing-masing sudut kanan dan kiri berponi membuat penampilan Geby sangat berbeda dari biasanya.
"Ugh, haruskah aku seperti ini? Awas saja kau Angga. Aku jadi harus begini gara-gara kau," gumam Geby kesal.
Saat jam 5 sore, Geby telah memberi jawaban kepada Angga kalau dia akan menjadi partner Angga ke pesta. Geby bisa karena di rumah sangat sepi, sangat membosankan, dan kebetulan Adam juga sedang pergi keluar kota karena salah satu perusahaannya memili tikus-tikus yang harus di basmi.
Tok tok tok...
Cklekk
Geby membuka pintu dan tersenyum berterimakasih. Pelayan itu tak bergeming, dia terus menatap Geby tanpa berkedip.
"Hei!" tegur Geby menyadarkan si pelayan.
"A-aah, a-apakah ini nona Geby?" tanya nya.
"Ya! Ini aku," ucap Geby merasa aneh.
"Wahh nona...nona sangat cantik. Coba saja nona setiap hari seperti ini, mungkin tuan tidak akan mau lagi keluar mension," ucap pelayan itu heboh.
Geby merasa canggu dengan perkataan si pelayan. "Hehe, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu," ucap Geby.
"Hati-hati!" ucap pelayan dan diangguki Geby serta tersenyum.
Geby turun dan menuju keluar dimana sebuah mobil berwarna merah terparkir tepat di depan mension.
Cklekk
"Yo berangkat," ucap Geby seraya memasang sabuk pengaman. Dia duduk di depan di samping pengemudi.
"Em nona, anda siapa? Saya menunggu teman saya. Saya bukan taxi. Apakah nona pemilik mension ini? Teman saya namanya Geby, dia tinggal disini bukan? Dia memberikan alamatnya di sini," tanya berturut Angga yang tak mengenali Geby.
Hahahahahahahaha, tawa Geby pecah saat melihat ekspresi baru dari Angga yang selama ini dia lihat hanya ekpresi ceria dan manja, tapi sekarang ekpresi bingung? Hahahahaha.
"Angga... Angga... Ini aku, Geby!" ucap Geby penuh keyakinan.
Hahaha, "Nona jangan bercanda. Teman saya itu seperti laki-laki, meski tak berpakaian layaknya laki-laki, tapi gayanya itu layaknya laki-laki sangar," ucap Angga.
__ADS_1
"Hei Angga," teriak Geby kesal. "Ini benar-benar aku. Kau ya... Jadi selama ini kau anggap aku ini laki-laki?"
Angga dengan terkejut menutup mulutnya tak percaya dengan perempuan cantik di depannya itu.
"Kau benaran Geby?" pertanyaan Angga sungguh membuat Geby semakin kesal.
Di sebuah kediaman bak istana bergaya eropa sungguh menakjubkan.
Angga memberikan lengan kanannya untuk di gandeng Geby dan Geby menyambutnya dan mengaitkan lengan kirinya ke lengan kanan Angga.
Mereka masuk dengan elegan, meski sedikit sulit berjalan dengan sendal hak, tapi tak mengurangi keeleganannya, karena berkat bantuam Angga yang selalu menahan Geby agar tak jatuh hehe.
"Maaf membiarkan semuanya menunggu lama,"
"Terimakasih kepada semuanya yang telah datang ke pesta ulang tahunku!"
Ucap seorang wanita cantik yang mana dia adalah Sila sang tokoh utama di pesta.
Banyak yang mengaguminya, selain cantik, cerdas dia juga merupakan seorang model ternama.
Kembali kepada pemeran utama perempuan kita. Dia dan parternya sekarang telah masuk dan saat masuk...
"Ya Tuhan! Lihat itu siapa disamping Angga? Cantik sekali!"
"Benar! Angganya tampan perempunnya cantik, pasangan yang sangat serasi,"
Sila menjadi terabaikan di pestanya sendiri, dia merasa tak senang. "Siapa?" gumamnya dan mencari tahu siapa itu. "Sial! Mengapa dia lebih cantik daripada aku. Bahkan aku sudah memesan baju dari desainer ternama untuk acara ini, tapi...," Sila sangat marah.
Banyak yang mengerumuni Angga dan Geby, tapi orang yang mengerumuni ini tidak tahu kalau yang mereka puji-puji itu adalah perempuan yang biasanya mereka gosipkan.
Seorang pria mendatangi Geby yang duduk sendirian dimeja tamu setelah Angga pergi kesuatu tempat.
Happy Reading
__ADS_1