Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.30


__ADS_3

Sekarang Geby benar-benar khawatir kalau satu orang ini telah berada di rumah keluarganya.


"Kalian saling kenal?" tanya Danu.


Adam tersenyum penuh arti. "Dia tersenyum?" batin Geby. "Tapi aku yakin senyuman itu tak baik untukku," lanjut Geby.


"Iya om, kami sudah kenal dari satu bulan terakhir ini," ucap Adam penuh arti.


Tangan Geby mengepal dengan kuat menahan ekspresi kesal, marah di wajahnya, dia menatap tajam Adam dengan senyum paksa, bukan terlihat terpaksa tapi terkesan aneh. sedangkan Adam sendiri santai dan menatap kembali Geby dengan tatapan penuh arti.


"Oh bagus kalau begitu! Jadi tak ada masalah untuk pertunangannya," ucap Hana.


"Pertunangan?... Siapa ma?" tanya Geby bingung.


"Ya kamu lah sayang dengan nak Adam," ucap Hana sambil mengelus rambut puterinya tersebut.


Kedua alis Geby berkerut, dia menoleh menatap Adam yang tersenyum padanya.


Karena terbawa emosi tanpa fikir panjang lagi Geby berdiri dan menarik Adam pergi.


"Hei kalian, mau kemana?" teriak panggil Hana tapi tak digubris oleh Geby yang terus menarik Adam dengan kasar.


"Cukup kuat," batin Adam.


"Biarkan saja Jeng, biarkan urusan anak muda," ucap Sania (Mama Adam).


"Benar, kami beruntung Adam mau membuka hatinya pada seorang gadis, sudah lama mengharapkan ini, dan kami lihat juga nak Geby gadis yang baik, tak akan ragu kami untuk melamarkannya untuk anak kami yang satu itu," ucap Burhan (Ayah Adam).


Percakapan para orang tua berlanjut dengan hangat berbeda percakapan kedua orang yang pergi dari ruang tamu barusan.


Suasana mencekam sangat mendominasi, aura kemarahan terpancar dari tubuh Geby.


"Apa maumu?" tanya Geby dingin.


"Mauku? Mauku adalah kau menjadi milikku, hanya milikku," jawab Adam.


"Kau gila! Aku tidak mengenalmu sebelumnya, mengapa kau mengklaim bahwa aku harus jadi milikmu. Diriku milikku sendiri, tidak siapapun yang bisa memilikinya selain diriku, termasuk kau," ucap Geby penuh penekanan.


Adam terkekeh. "Kekeke, ya aku gila karenamu! Kau tahu, setelah aku menemukanmu ku kira aku tak akan tertarik padamu tapi melihat dari sikapmu yang berbeda dari wanita lainnya membuatku penasaran terhadapmu. Mungkinkah aku menyukaimu? Mungkin saja. Tapi ingat ini, meski aku tak benar-benar menyukaimu, tetap kau tak boleh pergi dariku, karena aku masih memastikan hatiku ini," setelah itu Adam pergi meninggalkan Geby yang penuh emosi tapi saat Adam di deoan pintu dia berbalik. "Ingat jangan coba lari dariku, kalau tidak...lihat lah nanti keluargamu akan jadi apa," sekarang Adam benar-benar menghilang dari hadaoan Geby yang sangat-sangat marah, kacau.


"Sial, mengapa aku bisa bertemu dengannya, kenapa dia yang harus menemukanku saat itu?" gerutu Geby.


Adam kembali ke ruang tamu. "Kau sudah kembali? Dimana nak Geby?" tanya Sania kepada Adam.


Tak sempat Adam menjawab Geby telah masuk. "Maaf pergi begitu saja tadi," ucap Geby dengan tersenyum kearah kedua orang tua Adam kemudian kembali duduk ditempatnya semula.


"Jadi kapan waktu yang tepat untuk kita laksanakan pertunangannya?" tanya Sania langsung membuat Geby tersedak karena dia sedang minum.

__ADS_1


"Uhuk uhuk uhuk, ugh," Geby menepuk-nepuk dadanya.


"Pelan-pelan minumnya," ucap Hana sambil mengusap punggung belakang Geby.


"Ma, aku mau ke kamar dulu," ucap Geby.


"Baiklah, nanti kamu tunggu hasilnya saja," ucap Hana.


Geby pun pergi ke kamarnya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lembutnya.


Keesokan paginya Geby baru keluar dari kamarnya. Setiap orang yang mengetuk pintunya tak di gubrisnya, pasalnya memang dia tak berada di dalam kamarnya.


Flashback on


"Lebih baik aku keluar," gumam Geby setelah bangkit dari rebahannya.


Geby bersiap-siap dengan hoodie hitam, celana hitam panjang, dan topi hitam, tak lupa masker hitam.


Geby melompati jendela kamarnya untuk keluar. Setelah berhasil keluar dari kediaman Pradita, dia memberhentikan taxi dan minta diantarkan ke rumah atau mension tempat para orang yang telah dia bantu.


Satu jam setengah kemudian dia sampai dan di sambut oleh para penghuninya. Siapa lagi kalau bukan. Vanya, Fino, Aldy, Maya, Susan, Galih, Daniel, dan Reno yang sekarang telah bisa melihat.


"Kakak," panggil Daniel manja pada Geby.


"Hai Daniel...," panggil Geby seraya memeluknya.


"Terimakasih atas sambutannya, tahu saja kalian kalau aku akan datang," ucap Geby.


"Tentu saja! Siapa yang mengenalmu selain aku," ucap Sasa yang ternyata juga ada di sana.


"Sa? Bukankah kau ada di rumahku?" tanya Geby terkejut melihat kebadaan Sasa.


"Aku tahu kamu Geb. Aku tahu kau tak akan mungkin betah mengurung diri dikamar. Setelah kau pergi aku itu aku mengikutimu," ucap Sasa.


"Lalu bagaimana kau bisa sampai duluan?" tanya Geby lagi.


"Ya tentu aku sampai duluan, karena aku menggunakan mobilku, tidak sepertimu yanh naik taxi," ucap Sasa.


Mereka pun berkumpul di ruangan tempat biasanya mereka berkumpul bersama.


Sebenarnya masih ada anggota lainnya, tapi sekarang mereka sedang menjalankan tugas mereka. Seperti Roni menjaga butik, Soni menjadi Dokter di rumah sakit dan lainnya lagi.


"Kita mau ngapaim malam ini?" tanya Sasa.


"Bagaimana kita ke acara balapan di tempat biasa," saran Galih.


"Kau ini balapan mulu," sindir Vanya.

__ADS_1


"Emm bagus juga balapan, sudah lama aku tak bersenang-senang," ucap Geby.


"Memang kau gila kerja bukan? Istirahat aja lupa, apalagi menghibur diri sendiri," sindir Sasa.


"Ya ya," jengah Geby dengan temannya yang satu ini.


"Baiklah ayo kita pergi!" ucao Galih semangat.


"Aku tidak! Kalian saja yang pergi, alu masih harus berjaga di sini, karena yang lain pada gak ada di mension," ucap Fino berdiri.


"Ya aku juga tidak pergi," ucap Vanya.


"Ya ya terserah kalian, yang mau pergi ayok," ucap Galih.


Akhirnya Geby, Galih dan Sasa saja yang pergi ke arena balapan. Sedangkan yang lain memilih tinggal.


Mereka sampai. "Wooh Queen balapan kita akhirnya kembali," ucap Alex panitia balapan setiap malamnya.


Geby seperti biasa tak menyahut. "Sudahlah Lex, siapa yang ikut balapan malam ini?" tanya Galih.


"Malam ini kita kedatangan orang baru loh, namanya Kenan," ucap Alex.


"Kenan? Bukan orang yang ku fikirkan bukan?" batin Geby.


"Nah ini dia," ucap Alex memperkenalkan Kenan.


"Benar-benar kenapa harus dia, jadi gak mood kan," batin Geby.


"Queen ikut kan?" tanya Alex.


Geby menggeleng. "Tidak Queen tidak akan ikut," ucap Sasa dingin.


Pasalnya Sasa juga tahu semua cerita Geby yang selalu di buat sedih oleh Kenan sang mantan tunangan.


Sekarang ini tak ada yang mengetahui identitas Geby dan Sasa, pasalnya mereka berdua selalu menggunakan masker serta topi untuk mengikuti acara seperti ini.


"Mengapa?" Alex.


"Hanya tidak ingin," ucap Geby datar.


Alex terkejut mendengar suara Geby, pasalnya dia tak pernah bicara sama sekali, yang menjawab pertanyaan orang lain pasti Sasa yang di sebut San di tempat itu. Dan lagi betapa terkejutnya dia saat mendengar suara itu yang ternyata suara seorang perempuan. Queen? Dia kira itu hanya sebuah gelar bukan benar-benar seorang perempuan, tapi oh dia begitu syok. Dia tak menyangka kalau selama ini yang memenakan setiap kali ikut bapalan selalu menang adalah seorang perempuan? Sungguh tak dapat dipercaya.


Lain Alex, lain lagi Kenan yang tertegun mendengar suara yang sudah lama tak di dengarnya. "Apakah dia?" batin Kenan.



__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2