Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.47


__ADS_3

Adam terdiam sejenak sebelum menjawab, dia menunduk sambil mengingat kilasan kejadian itu. Dia masih ingat rasa sakit saat racun es ditubuhnya kambuh.


"Karena saat aku di kelas Geby saat itu mahasiswi yang membuat masalah dengan Geby menyentuhku dan saat itu racunnya kambuh tapi tidak ada efeknya," jelas Adam.


Meresa terabaikan dan tak dianggap ada Geby pun..."Hei hei, kalian membicarakan orang dihadapkannya, apakah kalian punya otak?" sarkas Geby.


Mereka berdua terkejut dan terdiam, tapi kali ini Ronald semakin terdiam tatkala melihat Adam juga diam.


"Mengapa dia diam? Biasanya orang yang seperti ini akan di bunuhnya atau apalah, yang pasti hidup mereka tak akan tenang," batin Ronald.


"Cepat tunjukkan apa yang kau katakan di kampus tadi," ucap Geby tak sabar.


"Ronald, tunjukkan penggunaan alat itu dan hasilnya perlihatkan padanya," perintah Adam.


"Baik! Aku akan menunjukkannya!"


Ronald pun mulai menjalankan mesin pengukut kadar racun es. Adam berbaring di ranjang pasien dan infra merah yang memang sudah atur menyelimuti tubuh Adam mulai dari kaki sampai kepala dan setelah beberapa saat proses selesai dan di layar monitor muncul jumlah kadar racun es yang sekarang tidak sedang kambuh pada Adam.


"Luar biasa! Katamu tadi, racunmu kambuh bukan?" ucap Ronald dan di angguki Adam.


"Mungkin yang kau ceritakan ada benarnya, mengenai sentuhan nona Geby dapat menurunkan bahkan dapat menghilangkan kadar racunmu. Tapi apakah selain bersentuhan ada hal lainnya yang dapat dilakukan? Misalnya seperti menggunakan darahnya? Nona, boleh aku mengambil sedikit darahmu untuk di teliti?" ucap Ronald yang jiwa gila kesehatannya muncul karena menemukan bahan percobaam yang luar biasa.


"Tidak/Boleh," ucap Adam dan Geby bersamaan. Adam tidak mengijinkan sedangkan Geby membolehkan saja.


Geby dan Ronald menatap Adam yang wajahnya sudah marah. "Aku tidak akan menggunakan itu walaupun berhasil," ucap Adam dingin.


"Mengapa? Bukankah bagus itu dapat menghilangkan racun ditubuhmu itu?" tanya Ronald. Geby juga mengangguk karena pertanyaan mereka sama toh dia juga tidak keberatan membantu.


"Hanya tidak ingin!" ucap Adam kemudian pergi meninggalkan ruang perawatan.


Geby dan Ronald saling tatap tak mengerti. "Ambillah darahku, tapi aku ingin melihat hasilnya nanti, boleh?" ucap Geby.


"Tapi, apakah tak masalah? Adam terlihat sangat menentangnya," ucap Ronald ragu.


"Tak masalah! Aku yang akan bertanggung jawab kau hanya perlu menelitinya dan kedepannya aku yang akan memutuskannya," ucap Geby.


"Baiklah jika kau memaksa,"


Ronald pun mengambil darah Geby dan setelah selesai Geby kembali ke kamarnya.


Hampir di setiap tempat yang dilewatinya, dia tak mendapati Adam, dikamarnya pun tak ada suara bahwa seseorang ada di dalam. "Kemana dia? Apakah dia benar-benar marah? Tapi mengapa?" memang gadis satu ini tak peka apa? Sangat jelas terlihat kalau Adam itu tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi padanya, tapi dia hanya memikirkan orang kain tidak dengan dirinya.


Mau di salahkan bagaimanapun Geby juga merasa dirinya bertindak tidak sesuai dengan otaknya, tapi menuruti keinginan hatinya.



Satu minggu telah berlalu setelah kejadian di ruang perawatan Geby tak pernah satu kali pun berpapasan dengan Adam lagi. Mungkin dia telah tahu bahwa dirinya mengijinkan Ronald meneliti darahnya.



"Baiklah para mahasiswa/i sekalian, besok kita akan mengadakan festival kampus yang setiap tahun di laksanakan selma 3 hari berturut-turut untuk memperingati berdirinya kampus ini," ucap Rektor melalui pengeras suara. "Untuk memeriahkan festival ini maka setiap mahasiswa/i yang berminat menjual sesuatu dan apa pun itu maka pihak kampus telah menyediakan stand dan tempat untuk kalian berjualan dan melakukan sesuatu untuk memeriahkan festival ini. Cukup itu saja pengumumannya dan pihak pengurus masing-masing jurusan telah menyiapkan semuanya, bagi yang berminat bisa hubungi mereka," pengumuman dari rektor pun berakhir, membuat kelas menjadi gaduh dan dosen pengajar pun dengan susah payah menenagkan mereka kembali dan pelajaranpun berlanjut.



Pelajaran selesai Geby berniat pulang sebelum Angga memanggilnya membuatnya tak jadi pulang.

__ADS_1



"Geb, bisa bantu aku?" tanya Angga.



"Apa yang bisa kubantu?" ucap Geby.



"Bisa tolong aku mengurus stand untuk festival besok? Kami kekurangan orang untuk melakukannya, karena semuanya harus selesai malam ini. Kami tak mengira kalau banyak sekali yang antusias dalam festival ini jadi tidak memperaiapkan dengan baik," jelas Angga.



"Bisa, tapi tunggu sebentar aku harus menghubungi seseorang terlebih dulu," ucap Geby.



"Ok! Aku akan ke gudang untuk mengambil peralatannya dulu, kau tuggu di lapangan saja kalau sudah selesai," ucap Angga.



"Ok,"



Angga pergi dan Geby mulai akan menghubungi seseorang itu, tapi tak jadi karena dia fikir saty minggu ini dia tak melihat Adam sam sekali, dia mengira Adam sangat sebuk dengan pekerjaan nya dan tidak ingin mengganggunya, jadi dia tak jadi Menghubungi Adam.




"Sudah selesai?" tanya Angga yang datang dengan membawa peralatan. Geby membantunya. "Ya! Sekarang apa yang harus dilakukan?" tanya Geby.



"Kita tunggu mobil yang akan mengantar stand tambahan, jadi untuk sekarang kita bisa istirahat dulu," ucap Angga.



Tak berapa lama mobil yang di katakan Angga datang dan langsung para pengurusnya membantu menurunkan. Geby tak di ijinkan Angga untuk membantu mengangkat, karena mengingat hanya dia perempuan diantara semua pria pekerja. Entah apa makaud Angga mengajak Geby membantu.



Setelah semua keperluan telah tersedia, masing-masing mereka mendirikan stand dan Geby juga ikut membantu Angga.



"Apa lagi yang harus di kerjakan?" tanya Geby.



"Selesai! Sudah malam juga, lebih baik kau pulang. Kami juga akan pulang sebentar lagi, jadi kau duluan saja," ucap Angga.


__ADS_1


"Oh, baiklah! Kalau begitu aku pulang," ucap Geby.



"Hati-hati! Oh ya besok aku minta bantuan lagi," teriak Angga.



"Siap!" Geby pun pulang dengan menaiki taxi.


Hari pertama festival pun di mulai. Semenjak matahari belum muncul satu persatu stand telah terisi.


Geby telah berada di kampus mukai dari jam 5 pagi. Dia dihubungi oleh Angga yang memintanya datang cepat, karena dia meminta bantuan pada Geby untuk mengatur setiap pendaftar yang ingin menggunakan stand.


Matahari telah meninggi. Semua stand terisi dan para mahasiswa/i maupun tamu dari kampus lain telah memadati tempat festival.


"Huhh, lelahnya. Akhirnya selesai juga," ucap Geby.


Puk...


"Nih...minum!" ucap Angga sambil menyerahkan botol minum kepada Geby.


"Makasih!" ucap Geby seraya mengambilnya.


Festival hari pertama pun berjalan lancar, tapi tidak dengan saat selesai.


"Mau apa lagi?" tanya Geby malas tatkala tiga sekawan menghampirinya. Mereka tidak hanya bertiga, akan tetapi membawa teman-teman lainnya.


"Oh tenanglah! Kami kesini hanya ingin mengajakmu bermain," ucap Nina.


"Bermain?" Geby.


"Ya, main petak umpat," ucap Feni.


"Kalian saja! Aku akan pulang," ucap Geby.


"Oh ayolah, tidak seru jika orangnya kurang," ucap Nina membujuk.


"Kan ada yang lain," Geby.


"Mereka tidak mau," Nina.


"Aku juga tidak," Geby.


"Please...," mohon Nina serta lainnya.


Mau tak mau Geby pun mengiyakan. Dia di bawa ke sebuah kelas. Geby masuk lebih dulu.


Dan hmp... Seseorang membekap mulut serta hidung Geby. Kepala Geby terasa pusing, dan matanya mulai memberat. Dan akhirnya Geby tak sadarkan diri.




Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2