
Geby berfikir saat dia meretas sistem keamanan mafia tersebut tidak ada yang mengetahui, tapi nyatanya hanya belum. Aman dan berhasil itu fikir Geby, karena tak ada tanda-tanda serangan balik atau pun ketahuan jadi Geby tenang, tapi dia tidak tahu kalau dia telah dintunggu-tunggu oleh seseorang di tempat tujuannya itu nanti.
"Malam ini aku sendiri yang akan mencari informasi lebih banyak di markas mereka. Setelah cukup aku akan memanggil kalian untuk tindakan selanjutnya," ucap Geby.
"Apa tak lebih baik kalau aku ikut denganmu?" ucap Sasa tak ingin membiarkan Geby melakukan misi berbahaya itu sendirian.
"Tidak, aku sendiri saja. Itu akan mempercepat pergerakanku," ucao Geby.
"Haaah, baiklah tapi kau harus sangat hati-hati. Kau tahi sendiri bukan mafia ini, bukan mafia sembarangan. Mafia ini merupakan mafia yang sangat terkenal dengan kekejaman dan kebengisannya dalam menuntaskan para musuhnya," ucap Sasa khawatir.
"Tenang saja, aku akan sangat hati-hati," ucap Geby.
Geby baru sadar kalau dia sedang di tatap oleh semua anggotanya. "Ada apa dengan kalian? Aku tidak akan kenapa-kenapa, tenanglah," ucap Geby menyakinkan mereka semua.
"Haaah, kau menang! Tapi ingat kau harus sangat berhati-hati. Benar kata Sasa markas mafia yang akan kau datangi ini bukanlah hal mudah untuk dimasuki, jadi kau harus terus waspada dan terus hubungi kami," ucap Fino.
Geby tak pulang ke rumah, dia beralasan tidak pulang karena lembur di kantor.
"Baiklah! Tapi jangan terlalu keras bekerja. Perhatikan juga kesehatanmu," ucap Hana dari seberang.
Hari hampir tengah malam. Geby telah bersiap dengan segala peralatannya.
"Hati-hati," ucap Sasa.
"Ok," ucap Geby dengan tersenyum.
Broomm broom, Geby menaiki motor sportnya. Hampir setengah jam akhirnya Geby sampai ditempat tujuannya yaitu markas mafia yang paling terlenal di dunia dan hanya segelintir orang yang tahu markas utamanya. Anggota nya pun hanya anggota inti yang mengetahuinya.
Geby menghentikan motornya jauh dari markas bahkan kira-kira 500 meter lagi. Tepatnya masih di jalan raya, dan untuk menuju markas sebenarnya Geby harus memasuki perkebunan yang hampir mirip hutan, karena banyaknya pohon, meskipun itu pohon yang berbuah.
"Sepertinya tidak ada penjagaan di luar sini!" gumam Geby mengawasi sekitarnya.
Geby memasuki perkebunan itu dengan sangat hati-hati agar tak ketahuan, tapi dia tidak menyadari kalau hampir di setiap pohon di perkebunan itu di pasangi CCTV mini, bahkan tak terlihat dengan mata telanjang.
Di sebuah ruangan Adam dengan sangat fokus menatap pergerakan Geby memasuki markasnya.
"Sayang sayang... kau kira kenapa organisasi mafiaku ini sangat hebat dan tak ada yang mengetahui letak markas pastinya? Ya tentu karena maskarku ini di kelilingi keamanan yang tak dapat ditembus, dan hanya kau yang kubiarkan untuk meretasnya," ucap Adam terlihat sangat senang bermain dengan Geby, gadis kesayangannya.
Kembali kepada Geby yang sangat berhati-hati dalam setiap langkahnya dan sesekali menghubungi rekannya yang terus memantau dari layar laptopnya, melihat situasi di jalan raya, tapi tidak di dalam perkebunan.
"Mengapa terasa sangat tenang?" batin Geby yang merasa ada yang janggal.
Dia terus masuk kedalam perkembunan, tapi anehnya tak ada satu penjaga pun. Apakah ini yang di namakan markas utama?
Cukup lama berjalan akhirnya Geby telah melihat mension yang dijadikan markas oleh mafia terkenal di dunia.
"Oh di sini," Geby terus maju perlahan untuk memastikan jumlah perjaga dan jalan masuk yang aman untuknya bisa masuk ke dalam.
"Di pintu depan empat orang penjaga, pintu belakang dan samping kanan kiri, masing-masing 2 orang. Itu artinya aku harus memanjat langsung kelantai dua melalui....ya pohon itu," gumam Geby yang berencana naik melalui pohon.
Hap hap hap
Dengan lihainya Geby melompati satu dahan ke dahab lainnya tanpa suara.
__ADS_1
Tep, kedua kaki Geby telah menapak di lantai dua.
"Kenapa sangat tenang? Apakah begini penjagaannya?" gumam Geby.
Satu balkon ke balkon lainnya Geby lompati untuk mencari ruangan yang di gunakan untuk menyimpan data.
"Hanya ruangan ini yang tersisa!" gumam Geby kemudian mencoba untuk membukanya melalui pintu.
Clek!
"Tidak di kunci? Aku jadi ragu kalau tempat ini adalah ruangan penyimpan data. Karena ruangan sebelum yang kudapati semua terkunci, hanya ini yang tidak," batin Geby mulai curiga, tapi hanya ruangan ini yang belum di cek untuk area lantai dua. Mau tak mau Geby pun harus mengeceknya.
Setelah masuk Geby hanya mendapati kegelapan di setiap sudut, mungkin sudut-sudut sudah tak terlihat karena saking gelapnya.
"Bagaimana ini, kalau menggunakan senter atau apa pun yang menghasilkan cahaya akan membuatku ketahuan, karena mungkin saja disini ada CCTV nya?" gumam Geby.
Geby hanya bisa meraba-raba dan juga mengandalkan indera pendengarnya.
Dia sampai di sebuah meja? Terasa seperti meja tapi Geby pun tidak yakin.
Saat Geby terfokus pada pencarian laci, komputer atau apa pun yang memungkinkan penyimpanan data ataupun berkas tiba-tiba tangan kokoh melingkupi Geby dengan erat tanpa bisa Geby melepaskannya.
Geby berusaha melepaskan dirinya, tapi kekuatan orang tersebut terasa sangat besar di bandingkannya.
"Tenang sayang," suara yang begitu akrab ditelinga.
"Ya ini aku, tunanganmu, Adam!" ucap Adam seperti tahu apa isi fikiran Geby.
"Ya, kenapa?" Adam.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Geby yang membalikkan kepalanya menatap Adam yang tak mau melepas rengkuhannya dan.
Tup!
Lampu di ruangan itu tiba-tiba menyala dan terlihatlah seluruh isi ruangan itu termasuk dua orang yang kalau dilihat seperti pasangan yang bahagia, tapi kenyataannya saat ini mata Geby melotot menatap Adam yang menyeringai kepada Geby.
"Ada apa? Apakah wajahku sangat tampan sehingga kau tak mampu memalingkan wajahmu?" goda Adam.
"Iihh, lepas!" ucap Geby seraya memberontak minta lepas.
Adam melonggarkan rengkuhannya, tapi tidak benar-benar melepaskannya.
"Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan, nanti keburu kita ketahuan. Oh ya kau ngapain disini?" tanya Geby.
"Aku?" Adam berpura-pura berfikir.
"Apakah kau juga ingin mendapatkan informasi mengenai organisasi mafia ini?" tanya Geby yang masih berusaha melepaskan diri.
Hahahahaha! Hmmp
Adam tertawa nyaring dan Geby langsung membekap mulutnya. "Kau gila? Bisa-bisa kita ketahuan kalau kau tertawa senyaring itu, dan apa yang kau tertawakan memangnya?" ucap Geby seraya dengan cepat melepaskan bekapannya karena dia baru sadar akan posisi mereka berdua.
Wajah Geby tiba-tiba memanas mungkin merah juga. Bagaimana tidak, pasalnya saat ini posisi mereka saling berhadapan dengan tangan Geby yang satu di bahu Adam dan satunya membekap mulut Adam.
__ADS_1
Geby memalingkan mukanya, berusaha menutupi wajahnya yang kalau-kalau memerah yang sebenarnya sudah memerah sih.
"Kau sangat lucu sayang," ucap Adam.
"Berhenti memanggilku sayang, meski aku menyetujui pertunangan atau pun pernikahan kita, tapi ingat jangan berharap cinta dariku," ucap Geby.
"Hahaha, baiklah baiklah," Adam melepaskan Geby kemudian duduk dikursi yang Geby pastikan itu kursi dari bosnya mafia terhebat itu.
"Kau ngapain? Jangan terlalu lengah," ucap Geby.
"Tenanglah, kau tak perlu cemas karena aku adalah....
Happy Reading
\*
\*
\*
\*
**Just announcement**!!!!!
Kepada readers sekalian...Author sangat-sangat minta maaf kalau selama ini tidak pernah membalas komenan kalian.
Bukan sombong, tapi author itu bingung mau bales dengan kata-kata apa.
Jadi maklumi aja ya...
Tenang aja author selalu baca komenan kalian kok, kalau pun ada yang nanya author usahain untuk meresponnya ya...
Thanks you all...
Dukung karya author terus ya agar author lebih semangat ngetiknya hehe...
__ADS_1