Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.41


__ADS_3

Sebuah mobil mewah dengan mobil-mobil lainnya berjejer di depan hotel menunggu sang penumpang.


Saat ini jam 7 malam, dimana Geby dan Adam akan pergi menuju mension Adam.


"Silahkan," ucap Adam dengan tersenyum sambil membukakan pintu mobil.


Ingin menjerit, tapi takut dipecat. Tapi setelah Adam masuk mobil juga dan mobil-mobil berjejer itu keluar dari area hotel semua staf menjadi heboh.


"Oh astaga! Kalian lihat, senyuman tuan Adam yang begitu manisnya," teriak histeris salah satu staf wanita.


Kembali ke sebuah mobil mewah yang di dalamnya berisikan sepasang insan dan seorang pria jomblo yaitu supirnya, siapa lagi kalau bukan Jai.


"Sabar...sabar, nanti jodohku juga datang sendiri," batin Jai.


Beberapa saat kemudian mereka sampai didepan sebuah gerbang tinggi. Dari depan gerbang terlihat ujung menara entah apa itu.


"Kita sampai dimensionku," bisik Adam di telinga Geby yang sedang melihat suasana di luar.


"Hah?" Geby terlonjak kaget atas perbuatan Adam.


"Maaf kau terkejut ya?" ucap Adam yang gelagapan melihat Geby yang melotot padanya.


"Ahhh suami takut istri," batin Jai yang melihat tingkah baru tuannya itu.


Geby memalingkan lagi wajahnya menatap keluar jendela mobil. Mobil pun memasuki gerbang.


Cklek


Sebelum Adam sempat membukakan pintu mobil untuk Geby, terlebih dulu Geby sudah membukanya bahkan sudah berdiri di luar memandangi mension besar, lebih besar dari mensionnya.


"Masuk," ucap Adam yang diangguki Geby dengan datar.


Adam langsung membawa Geby menuju kamarnya. Dia tahu Geby pasti lelah, tapi tidak benar-benar tahu sih, karena wajah Geby tak menunjukkannya.


"Ini kamar kita," ucap Adam. "Aku akan pergi sebentar, kau istirahatlah terlebih dahulu," sambung Adan akan pergi tapi dihentikan oleh Geby.


"Tunggu!" ucap Geby.


"Hmm?" Adam berbalik menghadap Geby.


"Bisakah aku memiliki kamar sendiri?" tanya Geby datar.


Adam tak suka, tapi kalau dia memaksakan kehendaknya besar kemungkinan mereka akan semakin jauh.


"Huhh, baiklah! Kau bisa menempati kamar ini, aku akan ke kamar lainnya," ucap Adam. "Ada lagi?" tanya Adam.


"Tidak, terimakasih!" ucap Geby dengan sedikit senyuman.



Pagi menyapa, membangunkan yang tidur Geby dengan pulasnya. "Hoammm," Geby menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai dia turun. Baju kaos lengan panjang abu-abu, celana longgar dibawah lutut dan sendal jepit, tak lupa rambut yang di sanggul keatas.



"Pagi nyonya, tuan sudah menunggu di meja makan," ucap pak Beni, si kepala pelayan. Pria berusia 40 an keatas, terlihat masih gagah dan tampan.



"Panggil Geby saja," ucap Geby datar.



"Bagaimana bisa nyo...," Geby langsung memotong. "Bisa! Toh aku yang dipanggil gitu tak keberatankan?" ucap Geby.



"Baiklah, tapi kalau di belakang tuan saja ya. Saya juga sayang nyawa nak Geby," ucap pak Beni memelas.



"Huhh, terserah," helaan nafas pasrah Geby yang kemudian berjalan melewati pak Beni yang langsung diikuti oleh pak Beni.



Tap tap tap...


Geby menuruni tangga dengan santai diikuti oleh pak Beni.


__ADS_1


Masih berjalan, sekarang mereka menyusuri lorong panjang yang ujungnya masihlah jauh.



"Ini mension atau istana?" batin Geby.



Cklek...



Pak Beni membukakan pintu dan mempersilahkan Geby masuk kemudian menutupnya kembali membiarkan Geby masuk sendiri.



"Bisa-bisa aku makin kuris kalau menuju meja makan saja jauh!" batin Geby.



"Duduklah! Mari kita makan," ucap Adam setelah melihat Geby telah tiba.



Mereka makan dengan tenang dan setelah selesai Geby membuka suara mengenai kuliahnya yang dia inginnya cepat diurus, tapi...



"Semua sudah beres! Kau bisa masuk kapan pun kau mau," ucap Adam.



"Hah, masa?" ujar Geby sedikit terkejut.



"Kau kan tahu aku siapa," ucap Adam sombong.



"Ya ya ya,"



"Siap!" ucap Geby sambil menatap dirinya melalui pantulan cermin.


Dia keluar dari kamarnya menuju lantai dasar. Disana terlihat Adak sedang asik dengan laptopnya. "Apakah dia selalu bekerja di rumah?" batin Geby.


"Pagi!" sapa Geby. Entah apa yang merasuki Geby tiba-tiba ramah pada Adam.


"Hmm? Pagi...," ucap Adam memelan setelah melihat siapa yang menyapanya pagi-pagi dengan ceria.


"Aku akan berangkat kuliah," ucap Geby.


"Mau di antar?" tanya Adam buru-buru.


Geby yang tadinya akan pergi kembali menoleh dan. "Tidak perlu! Aku akan naik taxi atau bus saja," ucap Geby menolak.


"Kenapa begitu? Kalau tidak ingin diantar kau bisa pilih mobil di garasiku," ucap Adam.


"Huuuh," helaan nafas lelah dari Geby. "Aku tak ingin menarik perhatian, aku ingin berkuliah dengan tenang tanpa perhatian," ucap Geby.


"Tapi...," ucapan Adam dihentikan oleh Geby yang mengangkat tangannya.


"Sudahlah! Aku akan berangkat naik taxi titik," ucap Geby keras kepala, kemudian dia benar-benar pergi dengan berjalan kaki menuju stasiun bus.



"Silahkan perkenalkan dirimu," ucap pak Anwar, dosen yang akan mengajar pada saat itu.



"Baik! Namaku Geby, semoga kita semua dapat berteman dengan baik," ucap Geby.



"Duduklah di samping Angga. Angga berdiri," ucap pak Anwar.


__ADS_1


Mahasiswa yang namanya Angga pun berdiri. Geby menuju kursinya dan duduk disana dengan tenang.



Pelajaran di mulai dan Geby mendengarkan dengan baik.



Mata kuliah hari itu hanya satu untuk Geby, jadi Geby memilih jalan-jalan sebelum pulang.



Menaiki bus, Geby duduk di dekat jendela bus. Bus masih berhenti menunggu para penumpang masuk.



Brakkk


Suara sesuatu terjatuh tak membuat Geby mengalihkan pandangannya untuk melihat apa yang terjadi. Dia hanya mendengar seseorang meminta maaf berulang kali.



Geby merasakan ada yang duduk di kursi disampingnya dan Geby memilih memejamkan matanya, hanya memejamkan mata tidak untuk tidur.



Bus melaju dengan kecepatan sedang di jalan yang tak terlalu ramai.



Ciittttt...



Bus merem secara mendadak membuat semua penumpang terkejut dan juga banyak yang terjungkal dan terluka. Geby pun sama, dahinya terbentur kursi di depannya, untungnya itu busa yang lumayan empuk.



"Mengapa mobil itu menghentikan bus ini?"



"Entahlah!"



Doorr



Aaaaaaaaa



Suara tembakan menggema dari luar bus. Semua penumpang menunduk "Buka! Kalau tidak akan kami tembak dari luar. Kalian kira peluru ini tak mampu menembis badan bus?" ucap seseorang dari luar dengan arogannya.



"Buka saja pak, daripada nanti ada yang kena tembak," ucap salah satu penumpang.



Terpaksa sang supir membuka pintu bus karena permintaan dari para penumpang yang tak ingin adanya korban jiwa.



Orang berpakaian preman yang berjumlah 5 orang memasuki bus dengan masing-masing menodongkan pistol.



"Serahkan semua barang berharga kalian kalau tidak ingin ada yang terluka,"



Para penumpang pun menaruh barang-barang berharga yang ada pada mereka. Mulai dari dompet, jam tangan, ponsel dan lainnya.



Geby? Dia masih menonton, mengamati situasi yang memungkinkan dia untuk mengambil atau pun menjatuhkan semua pistol yang para preman pegang.

__ADS_1



Happy Reading


__ADS_2