
"Mengapa dia di sini? Membuat moodku jelek saja," batin Geby.
"Hai!" sapa orang itu. "Lama ya tak jumpa. Ku dengar kau mengalami kejadian penculikan? Apakah kau baik-baik saja? Aku ingin menjengukmu, tapi kau tahu sendiri itu tak mungkin," ucapnya dengan nada khawatir dan sedih.
"Tak masalah! Aku juga baik-baik saja, kau bisa lihat sendiri," jawab Geby dengan ekspresi andalannya yaitu datar.
Dia adalah Tio, pria menyebalkan yang selalu mengoceh akan hal yang tak penting di depan Geby membuatnya kesal. Seperti sekarang, dia tak henti-hentinya berbicara. Apakah mulutnya tak lelah? Entahlah, yang pasti Geby hanya mendengarkan dan sesekali mengangguk.
Sekarang ini Geby sedang berada di pantai, awalnya ingin menyendiri sambil menikmati pemandangan laut atau kalau bisa sampai menonton matahari terbenam. Tapi harapan tak seperti kenyataan yang ada.
Tio yang sedari bertemu sampai sekarang tak kunjung membiarkan Geby sendiri. Dia terus saja mengikuti kemanapun Geby berjalan.
Di saat Tio pergi sebentar, katanya sih pengen beli minum.
Geby mengeluarkan ponselnya dan menghidupkannya yang dari awal telah di matikan.
Setelah layar menyala, puluhan hingga ratusan panggilan dan pesan masuk ke ponselnya.
"Siapa yang memanggil dan mengirim pesan sebanyak ini?" Geby memeriksnya dan matanya seketika membelalak setelah tahu siapa pelakunya.
"Gawat! Bisa habis aku," gumam Geby merasa takut.
"Hei, nih minum," ucap Tio yang baru datang membeli minum dan memberikannya kepada Geby.
Geby menerimanya, karena kebetulan tenggorokannya tiba-tiba kering setelah membaca pesan dari Adam.
'Dimana? Kalau sampai aku menemukanmu, kau akan mendapatkan hukuman yang tak terlupakan dariku,' itulah pesan terakhir yang Geby baca membuat Geby gelisah.
"Jadi melihat matahari terbenam?" Tanya Tio.
Pertanyaan Tio menarik kesadaran Geby. "Mungkin lain kali. Sekarang aku harus pergi," Geby bergegas bangkit dan pergi tanpa menghiraukan panggilan Tio.
Geby telah berada di halte bus terdekat. Niatnya akan pergi ke suatu tempat yang memungkinkan Adam tak menemukan dirinya.
Dia akan membujuk dan meredakan kemarahan Adam dengan berbicara melewati telepon terlebih dulu, karena dia tahu apa yang di katakan Adam pasti akan dia lakukan.
Bus datang dan Geby segera menaikinya, tapi sayang tangannya di cekal seseorang dan menariknya keluar dari bus.
__ADS_1
"Adam?" Geby mulai was-was. Bukan takut, akan tetapi dia tahu kemampuannya tidaklah mampu menghalangi Adam yang akan berbuat macam-macam pada dirinya.
Geby di dorong masuk ke dalam mobil hitam milik Adam dengan pelan. Semarah-marahnya Adam kepada Geby, dia tidak akan berbuat kasar kepadanya.
Di perjalanan hanya keheningan yang ada, tak satu pun dari mereka yang ingin membuka suara sampai Geby memberanikan bicara.
"Maaf aku pergi dengan cara kabur. Tapi itu karena kamu yang tidak mengijinkan ku keluar rumah tanpa pengawasan. Aku risih jika seseorang memperhatikan setiap aktivitasku. Kau tahu sendiri tingkat kepekaan ku dengan orang yang mengawasiku sangat sensitif," tak ada jawabn atau respon dari Adam. Dia hanya fokus mengemudi dengan kecepatan normal.
Geby tak dapat membaca raut wajahnya yang tanpa ekspresi itu. Entah marah, kesal, dan lainnya, Geby tak tahu.
Malahan Geby sendiri yang di buat kesal karena tak mendapat respon. Dia tak pernah di giniin. Jadi begini rasanya kalau kita bicara panjang lebar hanya di dengarkan tanpa di respon? Sakit...
Sekitar 2 jam akhirnya mereka sampai di mension. Jauh ya Geby jalan-jalan. Ya kan emang dia naik bus satu ke bus lainnya hanya untuk mencati tempat yang dia suka. Jarang-jarang dia bisa seperti itu, karena dulu dia gila kerja dan tak ada waktu untuk memikirkan liburan.
Adam membuka pintu mobil dan menutup kembali. Geby juga akan keluar tapi pintu mobil masih terkunci.
Terlihat Adam mengitari depan mobil menuju ke samping mobil bagian kanannya. Dia membukakan pintu untuk Geby dan meraih tangan Geby kemudian menarik lembut.
Adam mendudukkan Geby pada tepi ranjang di kamar Geby. Kemudian dia sendiri duduk di samping Geby.
Masih dalam keadaan sama-sama diam, akan hal itu Geby tak tahan dan akan pergi keluar kamar, tapi pergelangannya di tahan dan di tarik oleh Adam.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari atas ku," ucap Geby marah.
"Tidak! Sekarang aku sudah tidak bisa membiarkanmu bebas lagi. Dimana dia menyentuhmu...di sini...atau di sini," ucap Adam penuh penekanan karena dia sedang menahan amarahnya sambil mencium menyentuh tubuh Geby.
"Berhenti! Kau ini kenapa? Kau cemburu?" tanya Geby menahan tangan Adam dan mencegahnya lebih mendekat padanya.
"Ya aku cemburu! Kalau begini terus aku bisa gila karena mu," ucap Adam frustasi dan kemudianduduk di tepi ranjang sambil mengacak rambutnya dan berbalik membelakangi Geby.
Jantung Geby berdetak dengan cepat mendengar pengakuan Adam. Dia akhir-akhir ini tahu kalau Adam sungguh-sungguh mencintainya, dari sikap manis dan perhatian yang di tunjukkan Adam pada dirinya. Tapi dia tak tahu kalau sudah sampai tahap membuatnya frustrasi.
"Maaf!" seru Geby pelan. Dia menundukkan kepalanya tak berani menatap Adam, tapi lama tak ada respon dari Adam, itu membuatnya mendongak.
Seketika matanya membelalak tatkla benda kenyal dam lembab menyentuh bibirnya.
Adam menciumnya?
__ADS_1
Bukan ciuman biasa, tapi ini lebih menuntut.
Geby belum siap! Tapi dia juga tahu ini merupakan kewajibannya sebagai istri.
Pikirannya kacau, dia tak dapat mencerna apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa saat kemudian dia sadar saat bibir Adam menjauh dari bibirnya. Ada rasa tak rela, tapi Geby tak dapat menjelaskannya.
Seperti tahu batin Geby, Adam berkata. "Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap," setelah mengatakan itu Adam keluar dari kamar Geby dan pergi entah kemana. Mungkin ke kamarnya, pasalnya tidak mungkin dia ke kantor karena hari sudah malam.
Hari berikutnya, Geby tak mendapati keberadaan Adam sama sekali. Dia bertanya kepada Jai saat Jai ke mension untuk mengambil berkas yang tertinggal.
"Kau tahu Adam dimana? Sudah dua hari ini aku tak melihatnya di mension,"
"Tuan Adam saat ini sedang sangat sibuk mengerjakan proyek baru di kantor. Biasanya kalau seperti ini memang dia akan tidur di kantor dan jarang pulang," jelas Jai.
Setelah mendengar penjelasan Jai, Geby tak lagi bertanya, dia memilih menyibukkan dirinya dengan hal-hal lain. Tapi sayang pikirannya masih tertuju kepada Adam. Entah apa yang saat ini dia rasakan. Hatinya tak karuan dan merasa akan kehilangan sesuatu dan akan menyesal kedepannya.
Seharusnya Geby merasa senang, karena Adam tak membatasinya lagi dalam beraktivitas, tapi hatinya gelisah dan tak enak.
Rasanya dia ingin selalu dengan dengan seseorang atau sesuatu, tapi dia tidak tahu apa dan siapa itu.
Terimakasih kepada para redears yang telah setia menunggu dan membaca.
__ADS_1
Maaf lama up nya, otak author lagi gak ada inspirasi untuk ngelanjutin cerita ini.
Tapi tenang...novel ini tetap lanjut kok sampai tamat, meski lama hehe...