
Awalnya Geby menolak tapi setelah Adam terdengar mengancam, dia tak dapat menolaknya.
"Tidak bisa, jam istirahatku telah selesai dan aku akan kembali ke ruanganku," ucap Geby akan melewati Adam, tapi saat posisinya berdampingan dengan Adam. Adam berkata.
"Jika kau menolak, kau tahu akibatnya bukan?" ucapnya pelan sambil tersenyum.
Kedua tangan Geby terkepal menahan emosi yang meledak kalau tidak ada ancaman untuk semua keluarganya.
"Baiklah! Ini ambil dan ikut aku," ucap Adam seperti tak ada hal yang terjadi barusan.
Dengan sangat terpaksa Geby mengikutinya.
Sekarang Geby berada di dalam mobil Adam yang melaju sedang menuju kemana Geby pun tak tahu.
Geby ingin bertanya tapi malas untuk mengeluarkan suara di hadapan pria yang satu ini.
"Kenapa diam saja?" tanya Adam.
Geby hanya menggeleng menjawab pertanyaan Adam.
"Jangan menguji kesabaranku," suara Adam mulai mendingin membuat Geby merinding. Ya, meskipun dia itu Queennya BS, tak menutup fakta kalau dia itu hanya manusia biasa dan juga pastinya hanya seorang perempuan.
"T-tidak ada apa-apa, hanya malas bicara saja," ucap Geby. "Ini kita mau kemana?" tanya Geby mengalihkan pembicaraan atau bisa di lihat untuk mengurangi tekanan dingin yang dia rasakan. "Jadi begini rasanya kalau seseorang menerima tekanan dingin," batin Geby membayangkan semua orang yang telah merasakan kedinginannya.
Mobil Adam berhenti di sebuah butik pakaian penganti. "Untuk apa kita ke sini?" tanya Geby yang tak dapat menduga-duga. Pasalnya dia dan keluarganya pun belum menyetujui pertunangan bukan.
"Makan ice cream! Memang nya kau fikir kita akan ke butik pakaian pengantin itu? Tapi kalau kau ingin kesana aku akan dengan senang hati menemanimu," ucap Adam dengan senyuman yang terkesan mendapat hal lucu dari Geby.
"Tidak!" jawab cepat Geby. "Oh ternyata dia hanya parkir di sini? Ah malunya," batin Geby setelah melihat kalau toko yang mereka kunjungi itu sebenarnya toko ice cream di sampingnya. Geby benar-benar malu sampai menutupi wajahnya dengan tangannya.
Adam yang melihat Geby sangat menggemaskan menahan tawanya. Baru sekarang ada perempuan yang membuatnya gemas.
"Keluar!" perintah Adam.
Geby mendongak dengan kedua belah pipinya memerah malu.
"Kenapa kau menggemaskan sekali. Ingin sekali aku memakanmu," batin Adam menahan gejolak di dalam dirinya.
Geby turun lalu berlari kecil meninggalkan Adam.
"Mau pesan ice cream rasa apa tuan, nona?" tanya seorang pelayan toko ice cream dengan sopan.
"Vanila," ucap Geby.
Pelayan menatap Adam meminta jawaban, sedangkan yang di tatap hnya fokus pada gadis di depannya.
__ADS_1
Geby mengkode Adam untuk menjawab pelayan itu.
"Samakan saja," ucap Adam.
"Baik, di tunggu ya," pelayan itu pun pergi mengambilkan pesanan Geby dan Adam.
Mereka saling diam, Geby berusaha tak menghiraukan Adam yang sepanjang waktu terus memandangnya.
Tak berapa lama ice cream perasanan telah datang. Mereka pun memakannya dan dalam sekejap Geby telah menghabiskan ice creamnya tapi ice cream punya Adam masih utuh dan sudah mulai meleleh.
"Kau tak makan ice cream?" tanya Geby.
"Aku tidak suka manis," jawab Adam.
"Lalu, kenapa kau mengajakku ke toko ice cream?" Geby.
"Hanya ingin," jawaban Adam ini membuat Geby jengah dan memutar matanya.
"Ada apa? Apa salah kalau aku ingin menemuimu dan selalu berada di sampingmu?" ucap Adam dengan nada sedih.
"Hah?" mata Geby melebar tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. "Hah terserah! Tapi sekarang aku harus kembali ke kantor," ucap Geby.
"Baiklah, akan aku antar," ucap Adam yang meninggalkan Geby untuk membayar ice cream mereka.
Skip
Geby sibuk dengan berkas-berkas laporan sambil berfokus pada layar komputer.
Dang ding dung, dang ding dung.
Ponsel Geby berbunyi, Geby langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya. "Hallo!"
"Geby aku ada sedikit info mengenai mafia yang ingin kau selidiki itu," ucap Sasa di seberang.
Geby langsung berdiri. "Benarkah! Aku akan segera kemarkas," ucap Geby yang langsung memutus sambungan telepon dan membereskan berkas yang berserakan di seluruh meja kerjanya.
Bruumm bruumm
Geby tak menaiki mobil, tapi sepeda motor agar lebih cepat, karena kalau macet dapat nyelip.
Bruak
Geby membuka pintu dengan keras tanda tak sabar. Semua orang di dalam ruangan hanya bisa menghela nafas dan mengatur nafas akibat terkejut.
"Info apa yang kalin dapat?" tanya Geby.
__ADS_1
Galih pun menjelasakan bahwa mereka mendapatkan info keberadaan markas pusat mereka.
Itu membuat Geby sangat senang, karena kalaupun banyak tapi tak guna percuma, tapi meskipun satu info saja tapi sepenting ini info yang akan di dapat sangat banyak, karena tempat terkumpulnya informasi sebuh organisasi yaitu di markasnya.
Geby pun dengan lihat mencoba meretas CCTV di daerah markas mafia tersebut.
....
Di sebuah ruangan yang minim cahaya. Hanya cahaya yang berasal dari layar komputer yang menyala dengan seseorang yang duduk di depannya berfokus pada layar.
Adam sedang berada di ruang kerjanya mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Sebenarnya dia tak biasanya seperti ini. Sebelum bertemu Geby, dia adalah seseorang yang gila kerja, dia tak pernah mau membuang waktu hanya untuk bersantai. Tapi setelah adanya Geby, dia selalu menunda pekerjaannya hanya untuk menemu sang pujaan hati.
Saat ini dia sedang mengecek laporan yang masuk ke emailnya, kemudian dia menyeriangai.
"Kau ingin bersenang-senang ya sayang? Akan ku ladeni," ucapnya.
Setelah semua laporan telah di cek diapun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dia duduk di sofa dan menelepon seseorang.
"Kemarilah," ucapnya, kemudian menutup teleponnya.
Tak berapa lama suara ketukan terdengar. Tok...tok...tok...
"Tuan, tuan Jai sudah datang, dia menunggu di ruang tamu," ucap Miko, kepala pelayan di rumah Adam.
Cklek, pintu terbukan menampilkan sosok Adam yang tampan nan gagah.
"Hmmm," hanya dengan itu Adam merespon dan itu cukup membuat Miko paham.
Adam menuruni tangga untuk menuju ruang tamu. Dari atas tangga telah terlihat Jai yang duduk di sofa.
Jai berdiri menyambut Adam. "Ada apa tuan memanggil saya? Apakah ada yang anda butuhkan?" tanya Jai.
"Persiapkan aggota kita di setiap sudut markas, aku yakin akan ada yang datang malam ini ke markas utama kita," ucap Adam.
"Siapakah itu Dam?" tanya Jai.
"Kau akan tahu nanti," ucapnya sambil tersenyum tipis. "Tapi ingat jangan sakiti dia, anggap saja dia hanya tamu, tapi jangan membuatnya menyadari kalau kalian membiarkannya masuk dengan mudah," lanjutnya.
"Kau ini pelit sekali, tapi baiklah, sepertinya dia orang yang sangat kau tunggu-tunggu. Aku akan menontonnya nanti," ucap Jai kemudian dia pamit pergi.
"Aku tak sabar, melihat reaksi terkejutnya," gumam Adam dengan senyuman yang semakin lebar.
__ADS_1
Happy Reading