Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.46


__ADS_3

Setelah satu jam berlalu Geby mencoba untuk mengecek nadi Adam dan hasilnya sangat mengejutkan bahwa kadar racunnya menurun drastis. "Wah apakah sentuhanku benar-benar mampu menurunkan kadar racunnya?" gumam Geby.


"Jadi, pengurangan kadar racunnya itu, tergantung seberapa lama dan dekat kami bersentuhan? Apakah ada hal yang lain yang mampu menguranginya agar lebih cepat selain bensentuhan yang lama seperti ini," fikiran Geby mulai traveling kemana-mana. "Ah ah, Geby kamu itu gadis polos jangan nodai fikiranmu dengan hal-hal begituan. Meski aku dan dia sudah menikah, tapi kan menikah karena...emm,"


Tak berapa lama Adam bangun. "Berapa lama aku tertidur?" tanya Adam.


"Ah kau sudah bangun, kau tertidur selama satu jam lebih," ucap Geby.


"Tubuhku terasa lebih baik dari sebelumnya. Apakah memang berhasil?" tanya Adam yang merasakan tubuhnya jauh lebih enakan dari sebelumnya, sakitnya pun tak terlalu terasa lagi.


"Ya, itu bekerja," jawab Geby.


"Bagaimana kau bisa tahu, aku bahkan belum mengecek kadarnya?" tanya Adam. Yah bagaimana tidak bertanya, pasalnya hanya beberapa dokter yang mampu mendiaknosa penyakitnya yaitu racun, itupun dengan bantuan alat medis canggih, tapi dia, si gadis yang membuatnya sangat tertarik tahu hanya dengan mengecek nadinya? Siapa dia? Apakah dia dokter hebat, tapi usianya masihlah sangat muda untuk ukuran seorang dokter profesional saja.


"Aku juga tidak tahu, aku hanya dapat merasakannya," jawab Geby.


Geby saja ragu tentang dirinya yang bisa segala hal yang bagi orang-orang itu sulit, dia penasaran bagaimana dia mendapatkan kemampuan tersebut, tapi sekeras apapun dia mencari tahu dan mengingat jawabannya pasti dia telah mempeleajarinya dulu, entah itu kapan dan dimana.


"Kalau begitu, dari pada menunggu hasil yang tak pasti lebih baik kau pergi ke dokter pribadimu," ucap Geby.


"Ok, kau ikut?" Adam.


"Tidak, aku masih ada jam kuliah. Nanti saat jam kuliah ku selesai aku akan langsung pulang," Geby.


"Dengan kejadian barusan kau masih ingin masuk?" Adam.


"Mau bagaimana lagi, itu kan memang resikonya," Geby.


"Baiklah, terserah padamu dan cepat pulang," ucap Adam.


Geby pun kembali ke kelasnya, dan Adam menuju mensionnya.


Seperti yang sudah diperkiraan, saat ini Geby menjadi pusat perhatian karena kejadian yang belum lewat tiga jam ini.


Bisik-bisik terus terdengar, baik itu tentang identitas sebenarnya Geby dan hubungan Geby dengan seorang pengusaha muda yang terkenal di dunia.


Jam kuliah pun berakhir, Geby memilih untuk langsung pulang, karena sangat penasaran dengan racun es Adam. Meski dia tidak ahli, tapi dia juga bukan nya tidak tahu. Keingintahuan membuatnya bersemangat untuk memecahkan masalah ini.



"Tuan sudah menunggu di ruang perawatan di lantai 4, lantai teratas dari mension ini, mari saya antar," ucap pak Beni.



"Eh? Di mension ini ada ruang perawatan di mension ini?" tanya Geby, karena dia tidak tahu kalau ada ruang perawatan di mension.



"Tuan tidak mengatakannya?" pak Beni.



Geby menggeleng. "Tidak!"



"Saya tidak berani menjelaskan, nona bisa bertanya pada tuan saja, saya akan mengantarkan nona," pak Beni.



"Baik! Terimakasih, mohon bantuannya," ucap Geby dengan sopan.

__ADS_1



Mereka naik menggunakan lift. Tak berapa menit mereka sampai di lantai 4 dan pak Beni langsung mengarahkan Geby menuju ruang perawatan Adam.



Tok...tok...tok...



"Permisi tu...," tak sempat pak Beni menyelesaikan ucapannya pintu sudah terbuka.



"Silahkan masuk," ucap seorang pria tinggi dengan senyuman manisnya. "Oh pak Beni terimakasih telah mengantarkan nyonya kita," ucapnya pada pak Beni.



"Sama-sama Dokter Ronald. Kalau begitu saya permisi," ucap pak Beni kemudian pergi.



Geby telah masuk dan menatapi ruang perawatan yang luar biasa lengkap dengan alat-alat kesehatan yang canggih, sampai dia lupa bertanya tentang ruangan itu, tapi meski dia tidak tahu apa urusannya dengan dirinya, ini kan mension Adam jadi terserah dirinya mau membuat apa saja di wilayahnya.



Tapi ruangan ini memang sangat luar biasa. Saat dia dirawat terakhir kali saat dia kehilangan ingatan peralatan medis sudah sangat lengkap, tapi ini dua kali lebih lengkap, bahkan rumah sakit terbaik di dunia kemungkinan tidak selengkap ruang perawatan ini.



"Mengapa berdiri saja? Duduklah!" ucap Adam membuyarkan lamunan Geby yang terpesona dengan ruangan itu.




Adam yang duduk di ranjang perawatan menatap tajam Ronald.



"Oh sorry...bukan maksudku menikung sahabatku sendiri, tapi kalau ada kesempatan mengapa tidak!" ucap Ronald. Tatapan Adam semakin tajam, meski tidak bersuara tapi sangat terasa aura hitam mengelilingi Adam tapi justru itu bukannya membuat Ronald takut malah Ronald semakin gencar membuat Adam marah.



"Ayo...nyo... oh bukan, nona saja lebih cocok, kau masih muda terasa aneh jika aku memanggilmu nyonya, karena kau jauh lebih muda dariku," lanjut Ronald.



Geby tak ambil pusing, dia duduk saja di sofa seberang Ronald, tapi malag Ronald yang menghampirinya dan duduk disampingnya.



"Ronald," Adam benar-benar marah, mungkin kalau Ronald mengatakan atau pun bertindak satu langkah saja lagi mungkin dia akan di tendang keluar.



Ronald langsung berpindah, dia tahu watak sahabatnya itu kalau sudah sangat marah jangan di provokasi lagi kalau tidak ingin ditendang atau tak digajih, itu untuk orang terdekatnya, lain hal nya dengan musuh yang bakalan kehilangan hal paling berharga maupun nyawa mereka.



Suasana memcekam bagi Ronald tidak bagi Geby yang dengan santainya duduk mengarungi fikirannya sendiri.

__ADS_1



"Oh ya ini alat adalah alat terbaik untuk mengukur kadar racun dalam tubuhmu yang baru saja dikembangkan oleh Mario," ucap Ronald.



"Pengukurannya tidak memerlukan pengambilan darah seperti dulu, hanya dengan infra merah akan secara otomatis dapat menentukan kadarnya racunnya,"



"Dari ceritamu tadi... Nona Geby! Apakah benar kau dapat mengetahui racun di dalam tubuh Adam?" tanya Ronald.



Geby mengangguk mengiyakan..."Bagaimana kau dapat mengetahuinya?"



"Hanya tahu!" jawab Geby sekenanya. Memang dia juga bingung kan dia tahu darimana yang pasti dia itu tahu saja.



"Tidak ada hal khusus membuat kau tahu?" tanya Ronald lagi.



"Emm, yang kurasakan hanya denyut nadinya tak beraturan dan suhu tubuhnya sedingin es," jawab Geby.



Ronald menatap tak percaya dengan Geby. "Siapa dia? Apakah dia ahli racun?" batin Ronald. Ronald menatap Adam dan kembali menatap Geby.



"Nona, apakah benar saat Adam hanya dengan bersentuhan denganmu kadar racunnya berkurang?" tanya Ronald.



"Ya! Apa yang di katakannya, semuanya benar," jawab Geby yang mulai kesal ditanya terus. Apakah dia sedang diintrogasi sekarang?



"Baiklah! Adam, apakah kau sungguh-sungguh akan melakukan percobaan dengan nona Geby?" tanya Ronald.



"Ada masalah?" tanya balik Adam.



"Tidak! Tidak masalah sih, tapi apakah kau sudah mengatakannya? Dan apakah kau juga berfikir bukan hanya kepada nona Geby saja tapi perempuan lain mampu mengurangi kadar racunnya?" Ronald.



"Tidak! Aku yakin tidak bisa dengan yang lain," ucap Adam pasti.



"Bagaimana kau bisa yakin?" Ronald.


__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2