Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.60


__ADS_3

Sekarang mereka berempat saling berhadapan dan duduk di satu meja, sedangkan Geby berdiri di antara Adam dan Jai.


Adam masih terlihat kesal dengan Sai, karena sebelumnya telah membuatnya panas dingin akan kemarahan yang di uji-uji. Tapi karena sekarang mereka akan membicarakan hal lain, Adam membuang egonya dulu dan kalau ada kesempatan dia akan membalas perbuatan Sai, tapi tidak akan sampai membuat pertengkaran hebat seperti sebelumnya.


"Sekarang kalian bisa bicara dengan baik-baik! Bukan aku sok bijak atau apa! Tapi karena pertengkaran kalian melibatkan diriku, membuatku tidak bisa tinggal diam. Aku belum membuat perhitungan ya. Jadi sekarang kalian lebih baik selesai kan permasalah, kesalahpahaman dan sebagainya! Aku akan menunggu di restoran di hotel ini," ucap Geby menasihati mereka dan segera pergi dari sana. Dia sangat merasa atmosfir yang bercampur aduk di antara mereka berempat, oleh karena itu Geby memilih pergi dari sana.


Clak


Pintu tertutup meninggalkan mereka berempat dalam suasana canggung.


"Ekhem...Emmm daripada kita semua diam-diam saja lebih baik kita langsung saja membicarakan ke intinya," Jai sudah tidak tahan lagi dengan ke terdiam an semua temannya. Dia ingin berbaikan, ingin seperti dulu.


"Baiklah! Aku akan meminta maaf terlebih dulu... Benar saat itu emosiku tak terkontrol dan melakukan di luar batas, akan tetapi aku tidak menyesal akan semua itu dan sekarang aku paham mengapa kalian berdua pergi!" Ucap Efendy mendahului. Dia sadar kalau perbuatan nya bersama Sai untuk menyiksa keluarga mantan teman mereka yang satu-satunya perempuan itu sangat keterlaluan, akan tetapi dia juga tidak menyesal karena dia tidak sampai membunuh mereka, tapi hanya membuat mereka menderita kemiskinan.


"Cih, aku sungguh tidak puas saat itu kalau tidak membunuhnya, tapi karena Efendy melarangnya aku pun tidak melakukannya," ucapan Sai terdengar tidak puas dan masih memiliki dendam kepada mantan teman yang tak ingin dia sebutkan lagi namanya.


"Kami juga minta maaf, karena saat itu memilih pergi daripada bertahan untuk menasehati kalian," ucap Sai.


"Maaf! Aku juga minta maaf! Bisakah kita kembali seperti dulu?" Nada bicara Adam melemah, tidak lagi terkesan datar dan marah.


"Aku juga inginnya begitu!" Ucap Efendy.


Jai dan Sai tak menyahut akan tetapi mereka juga menginginkan itu, terlihat jelas di mata mereka.


Akhirnya permusuhan antara mereka berakhir, mereka kembali menjalin pertemanan. Tapi untuk organisasi mafia mereka lebih baik tetap terpisah. Karena kalau sampai di gabungkan, ditakutkan akan membuat para organisasi lain waspada dan akan menyerang mereka dengan menggabungkan juga seluruh kekuatan mereka untuk menghancurkan kedua organisasi terkuat nomor satu dan dua di duni itu.


Mereka pun berpisah. Adam memilih mendatangi Geby ke restoran di lantai dasar restoran, sedangkan Jai di perintahkan Adam untuk mengurus rapat yang tertunda dan akan di lakukan di lain waktu.

__ADS_1


Geby melihat Adam dari kejauhan terlihat sedang melihat ke sana kemari. Mungkin mencari dirinya. "Haha terlalu percaya diri, diriku ini," batin Geby sambil terkekeh.


Tepat saat itu Adam telah berada di sampingnya. "Ada yang lucu? Sampai membuat mu terkekeh seperti itu?!" Tanya Adam seraya duduk di kursi di samping Geby.


Geby menggeleng. "Tidak juga! Hanya mentertawakan diri sendiri!" Ucapan Geby membuat Adam mengernyitkan alisnya. Tapi tak lama kembali ke wajah datarnya.


"Sudah pesan?" Tanya Adam.


"Sudah! Kau juga pesan. Aku tidak pesankan tadi, karena aku tidak tahu apa yang kau sukai," ucap Geby.


Ada sedikit rasa sakit karena dirinya sangat mengetahui apa saja kesukaan, kegemaran dan lainnya dari diri Geby, sedangkan Geby tidak mengetahui apa pun mengenai dirinya.


"Tidak masalah! Aku akan pesan," ucap Adam kemudian mengangkat tangannya memanggil pelayan.


Pelayan datang dan mencatat pesanan Adam sesekali melirik wajah Adam yang pastinya sangat tampan.


Adam yang mendapat serangan dadakan yang mana kemanjaan Geby, membuatnya tak dapat merespon langsung saking terkejutnya.


Tapi seketika kemudian dia paham dan mengikuti alur dari Geby. "Bisa! Aku akan menemanimu," ucap Adam seraya tersenyum.


Senyuman Adam membuat Geby yang saat ini bergelayut manja di lengan Adam sambil menatap mata Adam membuat jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.


Sedangkan si pelayan yang menyaksikan itu merasa lesu dan pergi menyerahkan pesanan Adam kepada koki.


Merasa si pelayan sudah jauh, Geby langsung menjauhkan dirinya dari Adam.


Meski Adam tahu kalau Geby sedang berakting, tapi dia merasa senang akan hal itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian pesanan Geby datang dan tak lama pesanan Adam juga datang.


Mereka makan dalam diam. Jantung Geby sudah mulai berdetak dengan normal. Setelah makanan di piring telah habis Geby pun memberanikan diri dan berusaha menghilangkan ke gugup annya karena dia juga malu dengan perbuatannya tadi.


"Emm, soal yang tadi...," perkataan Geby dihentikan oleh perkataan Adam.


"Aku akan ikut denganmu. Apa kata keluargamu kalau aku tidak ikut bersamamu mengunjungi mereka. Sekalian mengunjungi keluargaku. Maaf sebelumnya tidak membalas dan menjawab telepon mu. Aku saat itu benar-benar sibuk dengan proyek baru," ucap Adam. "Tapi juga untuk menghindari mu!" Hanya dalam batin Adam mengatakan itu. Dia tidak ingin membuat hubungan mereka renggang kembali. Dia tahu kalau dia yang salah dengan mendiamkan Geby seperti itu, jadi dia akan memulai dari awal lagi, berharap Geby akan membuka hatinya untuk dirinya.


"Eumm, baiklah kalau begitu! Itu akan bagus!" Jawab Geby.


Mereka pun berangkat dengan menggunakan pesawat pribadi Adam.


Tiket pesawat yang di pesan Geby pun menjadi sia-sia. Selain karena Geby dan Adam menggunakan pesawat pribadi, waktu keberangkatannya juga sudah lewat karena tragedi penculikan oleh Sai.


Saat ini mereka telah berada di dalam pesawat setelah sebelumnya tadi mereka kembali ke mension untuk berbenah, bukan Geby akan tetapi Adam.


Setelah beberapa jam kemudian akhirnya mereka tiba di bandara. Mereka tidak di sambut, pasalnya mereka tidak memberitahukan kepada keluarga mereka kalau akan berkunjung.


"Apa kita ke rumah keluarga mu dulu atau ke rumah keluarga ku dulu?" Tanya Geby. Sebagai istri yang baik, Geby harus mengutamakan keinginan suami nya dulu bukan. Dia tidak ingin di bilang istri egois. Dia berusaha menjadi istri yang baik, tetapi dia belum lah siap untuk menjalankan kewajibannya memberikan hak suaminya.


"Keluarga mu!" Adam tidak terlalu ingin pergi ke rumah keluarganya, tetapi Geby yang ingin, jadi sebagai suami yang peka, Adam pun mengutamakan kesenangan istrinya terlebih dulu.


Mobil telah di sediakan oleh anak buah Adam yang berada di sana.


Mobil melaju dengan kecepatan normal. Beberapa puluh menit kemudian mereka sampai di rumah keluarga Geby.


•••••

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2