
Geby kembali mendekat, tangannya dia ulurkan pada perempuan tadi, dan disambut oleh perempuan itu dengan sedikit gemetaran.
Geby menariknya pelan dengan sedikit berdiri, lalu menunduk dan menggapai tubuh perempuan tadi.
Geby menggendong nya ala bridal, meski lehernya masih terasa nyeri tapi tak mengurangi kekuatan Geby.
Jika saja dia bukan berjenis kelamin perempuan, mungkin akan ada banyak wanita diluar sana yang mengantri karena sikap Geby yang seperti ini.
Perempuan itu memeluk leher Geby. Geby sedikit meringis tapi dia tahan.
Menatap wajah Geby dengan seksam, dia sangat kagum dengan Geby.
Harum parfum yang Geby gunakan sedari pagi juga sangat lembut membuat perempuan itu menjadi nyaman.
Saat keluar dari dalam ruangan itu, Geby berjalan dan menuruni anak tangga dengan terus menggendong perempuan itu. Kakinya melangkah kearah dimana terdengar sedikit berisik.
"Yoooo...Siapa ini?" suara bariton pria yang berada di tengah menyambut kedatangan Geby yang baru saja berhasil membuka pintu. Pandangan Geby menajam seakan menusuk pria itu, suhu di dalam ruangan itu tiba-tiba menjadi panas saat kedatangan Geby yang sebenarnya telah ditunggu-tunggu orang tersebut untuk melihat aksi apa yang akan di lakukan Geby untuk melarikan diri.
Mungkin Geby akan berhasil kabur kalau dia hanya sendiri, tapi tidak kalau dia membawa beberapa orang untuk lari bersamanya.
"Siapa kau?" tanya Geby dingin seraya menurunkan perempuan digendongannya.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu nona....Oh iya kau kan gadis yang di culik oleh bocah itu. Wah dia lumayan juga, tapi sayang kau harus mati. Tapi sebelum itu bisakah kau menamani kami hahaha," pria berjumlah enam orang di ruangan itu tertawa.
Dor!!
Tanpa di sadari mereka Geby telah menembak pria yang duduk dengan sombongnya di tengah.
Dor!!
Dor!!
Dor!!
Sekali Geby menembak, beberapa tembakan terarah kearah Geby untungnya Geby dapat menghindarinya dan meninggalkan sejenak perempuan yang d Ok bawanya. Untungnya perempuan itu memiliki akal yang bagus. Dia beringsut bersembunyi menghindari pertarungan Geby dengan enam pria itu.
Dor!!
Hanya sekali tembak lagi dan ternyata peluru di pistol Geby habis dan dengan cepat Geby melemparnya dan tepat mengenai wajah salah satu dari mereka.
Geby berlari kesana kemari menghindari tembakan dan jika ada kesempatan dia menendang memukul serta mematahkan tulang-tulang.
Krak
Krak
__ADS_1
Argg
Suara jeritan menyayat indra pendengaran menggema di ruangan itu.
Sekarang hanya tersisa yang kemungkinan adalah bos mereka.
"J-jangan mendekat. Ampuni aku. Aku hanya membantu bocah sialan itu untuk menculikmu,"
"Siapa yang kau maksud?"
"Angga, namanya Angga, dia adalah anak yang menyuruh kami,"
"Pasti kalian yang menghasutnya, dari selama kami berteman dia tidak bersifat seperti itu,"
"T-tidak, k-kami hanya menyarankan saja,"
"Itu sama saja bodoh!"
Geby sangat marah dan dia bersyukur karena tak membunuh Angga. Dia tahu Angga bukanlah orang yang seperti itu, meski dia memiliki kebencian yang sangat dalam kepada Adam, tapi dia tidak akan melukai ku kecuali dia itu di hasut.
Krak
Krak
Terdengar retakan tulang berasal dari tangan pria itu.
Tanpa rasa iba sedikit pun Geby tak berhenti menyiksanya sampai pria itu tak bersuara lagi. Geby memeriksa denyut nadi pria itu dan masih samar-samar terasa. Geby menghentikan aksinya.
"Kalau kau beruntung, kau akan hidup dan jika tidak ya mati!" gumam Geby memandang sinis pria yang sudah terkapar itu.
Brakkk
Geby terlonjak dan langsung berbalik. Geby menatap lama orang yang baru masuk, begitu juga orang yang baru masuk juga menatap dengan penuh ke khawatiran.
Orang tersebut adalah seorang pria. Dia berjalan mendekat ke arah dimana Geby sedang berdiri.
Sesampainya dihadapan Geby, pria tersebut langsung memeluk erat Geby dan Geby tidak menolaknya. Dia akui bahwa sekarang dia perlu tempat bersandar setelah sebelum-sebelumnya tak pernah berfikir memerlukan itu.
"Kau baik-baik saja?" lirih pria tersebut. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Geby.
"Bisa kau lihat sendiri, aku baik-baik saja," jawab Geby tenang.
"Kita pulang?" ucap Adam dengan tatapan sendu kepada Geby.
"Adam," panggil Geby dengan lirih. Ternyata pria tersebut adalah Adam.
__ADS_1
Tak tahu mengapa air mata yang tak diharapkan jatuh sekarang jatuh perlahan tanpa mampu ditahan lagi.
"Mengapa aku seperti ini? Apakah aku telah menjadi lemah? Tidak! Itu tidak boleh. Tapi... Mengapa air mataku ini tak kunjung dapat ku hentikan?" batin Geby berusaha berhenti untuk menangis disaat tangisannya perlahan membuatnya sesegukkan.
"Hei hei tenanglah! Aku sudah di sini," dengan cepat Adam menenangkan Geby dengan memeluknya serta mengelus lembut rambut kepala Geby.
Setelah Geby cukup tenang, mereka pun pulang dan tak lupa mengirim wanita yang Geby tolong sebelumnya ke rumahnya. Karena ternyata dia di culik dan akan dilecehkan dan kemungkinan telah dilecehkan.
..........
Setelah selesai semua hal yang membuat lelah fisik serta batin, akhirnya Geby dapat kembali tenang tanpa beban.
Meski di luar Geby terlihat tegar, kuat, tangguh dan sebagainya, tapi Geby tetaplah seorang manusia biasa apalagi dia seorang perempuan yang pastinya memerlukan perlindungn dan kasih sayang dari lawan jenisnya atau pasangannya.
Aktivitas yang sempat tertunda akibat kejadian yang tak terduga tersebut kembali berjalan semestinya. Tapi tak semudah yang seperti sebelum tragedi penculikan.
Setelah tragedi penculikan itu, Adam lebih bahkan sangat over protektif terhadap Geby. Dia tidak membiarkan Geby tanpa penjagaan lagi, meski itu ke kampus sekalipun.
"Aku hanya kuliah, tidak kemana-mana. Lagi pula aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Geby.
Adam masih kekeh dengan pendiriannya yang tak mengijinkan Geby untuk pergi sendiri.
"Aku tahu kau khawatir kalau-kalau tragedi penculikan terkahir kali akan terjadi lagi, tapi saat itu aku lengah dan kau tahu kan orang yang merencanakan itu orang yang sangat baik, jadi mana tahu aku kalau dia itu jahat," ucap Geby meyakinkan, tapi Adam masih diam.
"Kau boleh pergi tapi harus di kawal oleh satu bodyguard atau tidak boleh sama sekali! Tidak ada bantahan!" ucap Adam tanpa mau dibantah. Dia langsung meninggalkan Geby tanpa mendengar jawaban ataupun tolakan dari Geby lagi.
Tak menyerah, Geby pun mulai merencanakan untuk keluar mension tanpa diketahui oleh siapa pun. Siapa yang bakal tahu dengan Geby yang kabur. Dengan keahliannya sangat mudah yang namanya kabur.
Tap
Tap
Hap
Hap
Geby berhasil keluar mension dengan memanjat pohon di dekat pagar tembok mension yang tingginya mencapai tiga meter. Tapi berkat adanya satu pohon yang hampir menyamai pagar tembok mempermudah acara kabur Geby.
"Yeay akhirnya aku bisa menghirup udara bebas," ucap Geby dengan senang.
Geby pun pergi, tapi tidak ke kampus, tapi dia lebih memilih jalan-jalan menyusuri kota dengan menaiki bus yang pastinya tidak dengan satu bus saja, tapi beberapa bus yang menuju tempat-tempat pariwisata.
Tapi moodnya langsung berubah tatkala bertemu dengan seseorang yang tak diharapkannya bertemu.
__ADS_1
Semoga menghibur...