Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.44


__ADS_3

The next day...


Dua minggu belakangan ini Geby dan Adam selalu makan bersama. Pagi ini Geby pun tak mempermasalahkannya, tapi satu yang membuat Geby risih, yaitu Adam yang selalu menatapnya dengan tersenyum. Para pekerja pun dibuat melongo dengan tingkah nya itu.


"Berhentilah tersenyum aneh," ucap Geby tak tahan lagi.


"Em, baiklah kalau itu yang kau inginkan," jawab Adam yang kemudian mengubah wajah tersenyum kembali ke datarnya seperti biasa.



Saat sedang asik mendengarkan musik sambil membaca sebuah novel, lagi-lagi lalat pengganggu datang lagi.



"Geby! Mana dia?" teriak Nina sambil menendang pintu dengan kasar.



"Oh jalang kecil sudah datang rupanya?" ucap Nina yang selintas Geby dapat mendengar suaranya dan malas untuk meladeni.



Geby duduk dengan tenang tanpa menghiraukan cibiran-cibiran yang lain. Dia masih asik dengan dunianya sendiri dan lebih memperbesar volume agar tak mendengar ocehan tak berpaedah dari luar.



Brakkk


Gebrakan di depan meja Geby sangat keras dan nyaring tapi sang empu sama sekali tak menghiraukannya.



"Auww," keluh Geby saat earphonenya ditarik paksa. "Kenapa sih kalian? Ganggu saja!" ucap Geby dengan kesal.



"Ada apa? Ada apa?" heboh mahasiswa yang baru masuk bertanya pada orang yang berada di kelas.



"Lihat saja sendiri,"



"Wah bakalan ada tontonan menarik nih,"



Tiga perempuan dan lima laki-laki mengelilingi Geby yang duduk di kursinya.



Mereka adalah Nina dan para antek-anteknya.



"Kamu lagi? Ada apa?" Geby tanpa rasa terintimidasi oleh kedelapan orang yang mengelilinginya ini bertanya dengan wajah acuhnya.



"Apa kamu bilang? Kamu akan berhadapan dengan maut masih bisa sombong?!" ucap Nina marah.



"Benar, kamu bahkan tidak terlihat sadar akan perbuatanmu terakhir kali," ucap Hani.



"Dia yang kau maksud?" ucap salah seorang dari lima laki-laki yang namanya adalah...



"Benar Hendi, dia yang telah berani mengata-ngatai Nina dengan kasar," sahut Hani.



"Heh, hanya perempuan lemah seperti ini Nina sang gadis tercantik dan berani takut?" ucap Tao salah satu dari lima laki-laki dari antek Nina.



"Diam!" ucap Nina kesal kepada Tao.



Setelah cukup mendengar ocehan-ocehan orang yang yah menyebalkan Geby pun buka suara.



"Sudah selesai ngomongnya?" tanya Geby dengan dingin dan menatap tajam kesemua orang yang mengelilinginya. "Sekarang giliranku yang ngomong," lanjut Geby sambil bersedekap.



"Belum! Bahkan jika kau berlutut dan memohon ampun padaku, aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Nina percaya diri.



Satu persatu Geby tatap dengan mata tajamnya membuat kedelapan orang tersebut merasa terintimidasi.



"Mengapa kalian mengganggu pagiku? Apakah aku mengenal kalian? Kurasa aku hanya mengenal ketiga perempuan ini, itu pun sekedar tahu nama saja," ucap Geby tak menghiraukan ocehan Nina.


__ADS_1


Kedelapan orang tersebut merasa mulut mereka di lem, sulit untuk menjawab.



"Tangkap dia!" perintah Nina.



"Hei cantik, maafkan aku soal ini," ucap Tao.



"Kalau kau ingin menyalahkan seseorang, maka salahkan dirimu sendiri yang berani mengganggu tua puteri kami," ucap Hendi.



Geby masih dengan santai bersedekap dan memandang malas satu persatu orang di depannya. Merasa diabaikan Heni mulai akan melayangkan tamparan ke pipi Geby.



"Geby! Inilah akibatnya kalau berani menantangku," batin Nina merasa diatas awan.



Krakkk


Arghhh


Suara tulang seperti patah terdengar nyaring.



"A-apa? Itu tidak mungkin!" ucap Nina tak percaya. Yang lain pun tak percaya dengan yang mereka lihat. Hanya dengan genggaman seorang gadis yang terlihat lemah tangan seorang pria berbadan besar dan kekar hampir patah?



"Ah, maafkan aku, aku tidak sengaja," ucap Geby dengan seringaiannya membuat yang melihat bergidik ngeri. "Kalian juga ingin merasakannya?" lanjut Geby dengan senyum psikopatnya.



"Aaaaa, gadis yang menyeramkan...," teriak kelima pria yang di bawa Nina dan kawannya.



"Sekarang... Apa yang harus ku lakukan dengan kalian?" ucap Geby yang menatap tiga sekawan tersebut. Mereka bertiga terduduk lemas tak berdaya hanya dengan tatapan mengerikan dari Geby.



Setiap langkah pelan disertai senyuman mengerikan Geby maju mendekati mereka bertiga.



"J-jangan...Menjauhlah!" teriak Nina.




"Apakah akhirnya kalian sadar akibat kalau menggangguku?" ucap Geby dan...



Grepp


Geby mencengkram dagu Nina dan berkata lagi. "Bukankah kamu mengatakan tadi tentang berlutut dan memohon ampun padamu? Tapi aku akan mengubahnya dengan....



Plak


Argh


Plak


Argh


Plak


Argh



Hanya Nina yang ditampar oleh Geby berulang kali...



"Hei hei hei, ayo lihat ada pertunjukkan bagus," teriak mahasiswa yang tak lewat dan melihat kejadian di dalam kelas.



Mahasiswa berbondong-bondong datang untuk menonton.



"Wahh pertunjukkan yang bagus,"



"Syukurin tuh Nina! Sombong banget sih,"



Geby terus akan menampar Nina tapi ditahan Nina yang mukanya sudah terlihat lebam.

__ADS_1



"Geby, kuperingatkan padamu, aku merupakan anak dari pemegang saham di universitas ini, jangan berani-berani kamu!" ucap Nina mencoba menakut-nakuti Geby. Tapi bukan Geby namanya kalau takut.



Plakkk



Sekali lagi tamparan yang bahkan lebih keras dari sebelumnya membuat Nina jatuh terduduk di atas lantai keramik.



"Geby, kau berani memukulnya?" ucap Feni yang takut-takut.



"Geby! Akan ku bunuh kau," teriak marah Nina.



Teriakan yang memekakkan telinga itu tak membuat nyali Geby menciut dia terus memprovokasi Nina.



"Hanya beberapa tamparan saja sudah tidak kuat?" ucap Geby mengejek.



Plak


Plak



Terus dan terus Geby menampar wajah Nina sampai-sampai wajahnya sangat bengkak sampai tak dapat di kenali lagi.



"Apakah dia mahasiswa baru di rumorkan pendiam itu?"



"Mengerikan sekali, bukankah dia terlalu berani!"



Puk puk puk...



"Ku rasa cukup untuk membuatmu jera," ucap Geby yang menepuk kefua tangannya.



Keadaan Nina saat ini sangat memprihatinkan menangis pun rasa tak sanggup karena kalau terkena air mata akan terasa sangat pedih.



Geby pun akan kembali ke kursinya tapi perhatiannya teralihkan saat kehebohan yang berasal dari pintu masuk.



"Lihat! Siapa itu?"



"Bukankah dia Adam! Si pengusaha muda yang telah mendunia? Untuk apa dia di sini?"



Mata Geby melotot sempurna melihat keberadaan Adam yang tak terduga. "Adam? Untuk apa dia datang kemari?" batin Geby.



Saat sibuk berfikir tak terduka Nina langsung memeluk lengan Adam..."Tuan... Tolonglah beri keadilan bagiku yang teraniaya ini," ucap Nina berusaha menarik simpati dari Adam.



Tapi bukannya merasa kasihan, justru wajah Adam semakin dingin. Apakah Nina tidak tahu kalau seorang Adam tak suka disentuh.



"Jangan tertipu oleh wajahnya, meskipun tubuhnya kecil tapi dia seperti monster mengerikan," lanjut Nina.



Pak



Adam menepis pelukan Nina pada lengannya dengan kasar sambil berkata. "Dia itu cantik dan imut, tidak seperti monster sama sekali! terutama saat memukulmu," ucap Adam kemudian menuju tempat Geby berdiri yang menatapnya datar.



"Berikan tanganmu," ucap Adam sambil menadahkan tangannya.



"Hah?" Geby tak mengerti maksudnya.


__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2