
Geby turun dan menuju penghuni mension nya yang sedang duduk di ruang tamu tanpa bersuara dan setelah dekat.
"Universitas apa? Dimana dan bagaimana fasilitasnya?" tanya Geby yang mengejutkan mereka yang sedang asik berbincang sambil makan-makan.
Uhuk uhuk. "Oh astaga Geby, bisakah kau tidak mengejutkan kami? Kalau aku mempunyai penyakit jantung, mau kau tanggung jawab kalau aku mati?" kesal Sasa yang tersedak air minum.
"Tapi kau tidak kan!" ucap Geby santai kemudian dia duduk di kursinya. "Pagi Daniel," sapa Geby.
"Ini sudah siang kak," ucap Daniel.
"Ah benarkah? Tapi belum lewat jam 12 kan, itu berarti masih pagi," ucap Geby. Membuat yang lainnya terkekeh mendengar alasan yang dibuat Geby agar tak malu dengan seorang anak kecil.
Sasa dibuatnya kesal, tapi dia memilih diam daripada harus berdebat dengan Geby yang pastinya dia akan kalah oleh Geby. Toh Geby tak akan mendengarkan gerutuannya juga.
"Jadi universitas apa itu?" Tanya Geby lagi.
"Itu General University di kota P," ucap Sasa.
"Oh, urus itu! Aku akan pergi sekarang," ucap Geby menyerahkan semua urusan pendaftaran kepada Sasa.
"Mau kemana?" tanya Sasa.
"Pulang! Kemarin aku bilang aku lembur dan akan pulang pagi," ucap Geby.
"Tapi ini kan sudah siang?.... Oh oh iya iya masih belum lewat jam 12. Cepatlah pulang," ucap Sasa yang langsung membuat alasan yang akan dikatakan Geby.
Geby pun pergi dengan mobil sport hitamnya menuju jalan raya yang lumayan ramai akan pengendara.
Di dalam mobil dia terus menggerutu tatkala mengingat kejadian malam yang membuatnya sangat marah sekaligus merasa lucu. Mengingat kepercayaan diri yang di tunjukkan Adam pada dirinya.
"Hah, dia terlalu percaya diri dengan ketampanannya. Tapi.. memang tampan sih, meski umurnya sudah 26 atau 27 ya, ah mas bodo,"
Geby sampai di rumahnya. Tanpa bisa duduk dia langsung diserang banyak pertanyaan yang membuat kepalanya pusing. "Cukup!" ucap Geby. Semua terdiam. "Aku akan jelaskan satu-satu, jadi kita duduk dulu, aku capek berdiri,"
Geby pun menjawab satu persatu pertanyaan keluarganya itu sampai tak terasa perutnya berbunyi karena kelaparan. Pasalnya terakhir kali dia makan yaitu malam kemarin.
Menuju ruang makan untuk sarapan bersama, tetapi makanannya belum tersedianm, membuat Geby tergeletak lebay di mejam makan.
"Sabar ya sayang. Mama kan tidak tahu kalau kamu belum makan. Kalau mama tahu, mama akan masak makanan kesukaanmu," ucap Hana.
"Tidak apa ma, aku masih tahan kok," ucap Geby mendramatis.
"Aaalah! Jangan terlalu lebay dek," ucap Yoga jengah dengan Geby.
"Dek?" Geby langsung berdiri tegak.
"Hmm? Ada apa?" tanya Yoga yang bingung dengan perubahan posisi Geby.
"Kakak manggil aku dek tadi," ucap Geby.
"Masa iya? Salah dengar kali kamu," ucap Yoga mengelak.
"Beneran, Mah, Yah, kak Farel, kalian dengarkan kak Yoga manggil aku dek?" tanya Geby.
"Benarkah? Kalau begitu aku juga. Dek Yoga, dek Geby," ucap Farel.
"Ih, kenapa kalau kak Farel yang manggil rada gimana gitu," ucap Geby.
"Hahaha, benar rada gimana gitu," ucap Yoga membenarkan.
"Kalian ya, para adik durhaka sama kakaknya," ucap Farel.
Mereka semua pun tertawa bersama sampai makanan telah siap dan langsung saja Geby makan. Yang lain? Yoga saja yang ikut makan, yang lainnya lagi hanya nyemil.
Hari dimana Geby dan Sasa bersiap untuk menempuh pendidikan selanjutnya, yaitu kehidupan mahasiswa/i kampus, di General University.
__ADS_1
Memakan waktu satu jam untuk sampai di General Universitas, karena letak universitasnya yang terletak di tengah-tengah kepadatan kota.
Geby dan Sasa sebagai mahasiswa baru di tahun ajaran baru seharusnya mengikuti masa orientasi, tapi karena mereka berdua masuk setelah satu minggu masa libur selesai, jadi mereka tak mengikutinya lagi.
Sebuah mobil sport berwarna merah berhenti di parkiran khusus mahasiswa
Siapa lagi kalau bukan mobilnya Geby dan Sasa, mereka berdua sengaja datang pagi-pagi untuk mengurus kartu kemahasiswaan mereka yang tak sempat mereka uris diawal, pasalnya yang mengurus hanya Sasa, dan kartu kemahasiswaan iti perlu foto mahasiswanya sendiri.
Mahasiswa dan mahasiswi yang juga ada jam kuliah pagi, yang melihat kedatangan mobil sport merah itu pun berbisik-bisik berubah menjadi gaduh saat Geby dan Sasa keluar dari mobil sport mewahnya.
Mereka menjadi pusat perhatian semua mahasiswa kampus, tapi bukan Geby namanya kalau meladeni mereka semua yang merasa iri, sinis, memuji dan lainnya kepada mereka berdua. Tapi berbeda dengan Sasa yang tebar pesona sana sini.
"Cantiknya,"
"Mahasiswi baru ya?"
Ucap kagum para mahasiswa.
"Cm, makin banyak nih saingan,"
"Sombong,"
Ucap Mahasiswi yang tak suka.
"Sa, cukup! Jangan membuat masalah di awal. Kau tahu bukan dimana saja pasti akan ada orang yang sirik dan marah dengan orang baru yang merebut gelar dan keeksisan mereka. Kau dengar kan tadi!" tegur Geby pada Sasa.
Sasa pun berhenti melakukan kebiasaannya itu dan menuruti perintah Geby yang sudah menjadi pelayannya sejak pertama kali bertemu.
Mereka berdua menuju ruang rektor.
Tok...tok...tok...
"Come ini," ucap suara berat terdengar dari dalam ruangan yang Geby ketuk pintunya.
Geby dan Sasa pun masuk. Setelah rektor itu melihat siapa yang memasuki ruangannya, di langsung menyambutnya.
__ADS_1
"Silakan masuk," persilahan rektor kampus.
"Ah Pak Hery? Bapak rektor di General University ini?" Tanya Geby yang sendikit terkejut dengan rektor kampus yang ternyata dikenalnya. "Kau tak mengatakannya padaku sa?"
"Kau tak tanya! Saat aku ingin menjelaskan informasinya pun kau tak mau mendengarnya, jadi begitulah," ucap Sasa kesal sendiri.
"Oh, hehe maaf... Bapak tidak perlu sesopan itu pada kami pak!" ucap Geby.
"Benar kata Geby pak, kami ini sekarang murid bapak bukan! Akan aneh kalau bapak bersikap seperti ini kepada kami. Jadi anggap kami seperti mahasiwa/i biasanya, " ucap Sasa membenarkan.
"Haaah, kalian ini selalu saja baik," ucap Rektor. "Baiklah, semua persiapan telah siap, kalian hanya tinggal berfoto di ruang administratif," ucap pak rektor.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi," ucap Sasa.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan rektor meninggalkan pak Hery yaitu rektor sendiri di ruangannya mengingat masa dimana Geby dan Sasa menolongnya serta keluarganya.
**Flashback On**
"Eh Sa, kau lihat mobil hitam itu," ucap Geby menunjuk sebuah mobil hitam yang tergeletak di pinggir jalan. Kebetulan jalanan itu sunyi dan jalan ini pula satu-satunya jalan menuju mension Geby yang berada di dekat hutan dan kebun.
"Ya, aku lihat! Tapi mengapa mobil itu berhenti disitu?" ucap Sasa penasaran.
"Tidak tahu juga, kan aku juga baru liat, jadi kita cek saja," ucap Geby membuat Sasa jengah.
Mereka berdua menepikan mobil mereka yang tadinya berjalan lambat. Mereka mendekati mobil dan mengecek di dalamnya melalui kaca mobil berwarna hitam.
Sedikit sulit melihat karena kaca mobilnya lumayan tebal dan termasuk kaca yang gelap.
Tapi pendengaran Geby dan intuisi Geby saat itu tak dapat di remehkan, dia mendengar....
Tit...tit...tit...
Srek...srek...
__ADS_1
Happy Reading