Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.36


__ADS_3

Pendengaran dan intuisi Geby yang sangat baik, membuatnya mendengar sesuatu yang biasa dia dengar dalam misi penyelamatan.


Tit...tit...tit...


Srek...srek...


Geby mencoba membuka pintu mobil, tapi sayangnya terkunci dari dalam.


"Cepat pecahkan kaca mobil itu," desak Geby kepada Sasa.


"Baik!" sahut Sasa langsung. Dia tak bertanya, karena dia tahu kalau sikap Geby menjadi serius berarti ada yang gawat.


Sasa mencari-cari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk memecahkan kaca mobil. Melihat kesudut jalan, dia melihat batu besar. dia mengambilnya, membawanya mendekati mobil dan...


Pranggggg


Kaca mobil depan berhasil di pecahkan.


"Astaga," dia terkejut, pasalnya dia melihat sepasang suami istri paruh baya dengan kedua anaknya yang diperkirakan seusia dengan Geby dan Sasa dan satunya lebih tua terikat dan mulut mereka tersumpal.


"Jangan bengong, cepat keluarkan mereka. Di bagasi mobil masih terdapat bom yang aktif," teriak Geby.


Sasa langsung sadar dan buru-buru masuk melalui kaca depan dan membuka kunci.


Satu persatu Sasa mengeluarkan mereka, pertama anaknya yang kemudian Sasa melepas ikatan serta sumpalan dimulutnya.


"Bantu aku mengeluarkan kedua orang tuamu dan saudaramu," ucap Sasa pada laki-laki yang pertama kali di tolongnya.


Mereka berdua pun mengeluarkan yang tersisa dan melepaskan ikatan serta supmpalan mereka. Sedangkan Geby sedang berkutat dengan bom di bagasi mobil yang tak lama lagi akan meledak.


"Pergi jauh dari sini! Bom akan meledak sebentar lagi, dan aku tidak yakin bisa menonaktifkannya,"


Sasa langsung pergi menuju mobil yang mereka kendarai tadi.


"Masuk!" teriak Sasa pada satu keluarga itu, dan setelah semua masuk dia menuju arah Geby yang masih mengutak-atik bom.


"Geb, cepat! aku sudah memastikan dalam 30 menit tidak akan ada yang melewati jalan ini," ucap Sasa yang tadi sempat memerintahkan pada anggota BS untuk memblilokir jalan yang mereka lewati baris sejauh satu kilometer dari belakang dan depan.


Geby masuk ke kursi depan. "Cepat, 20 detik lagi bom akan meledak," ucap Geby yang membuat Sasa langsung tancap gas.


Wuusshh....


Dengan kecepatan sangat tinggi Sasa mengendarai mobil itu dan...


Booommm


Tepat setelah mereka menjauh sejauh 200 meter bom meledakan mobil dan puing-puing mobil berterbangan kesana kemari untungnya Sasa dapat menghindarinya.


Setelah dirasa cukup jauh, mobil pun menepi. "Minumlah," ucap Geby seraya menyerahkan masing-masing satu botol air mineral yang selalu tersedia di mobilnya.

__ADS_1


"Terimakasih!" ucap satu keluarga itu.


"Haaahh," lega Geby setelah minum. "Ini," ucap Geby menyerahkan botol minumnya pada Sasa. Ya mereka biasa seperti itu, meski botol air minum itu masih tersisa banyak di mobil Geby.


Setelah cukup tenang, meredakan ketegangan pria paruh baya yang di tolong Geby dan Sasa pun berkata.


"Kami sangat berterimakasih dengan bantuan kalian berdua. Kami tidak tahu akan bagaimana nasib kami kalau kalian tidak ada atau terlambat menyadari keberadaan kami," ucapnya.


"Benar nak, kami sangat-sangat bersyukur masih diberikan kesempatan hidup," ucap wanita paruh baya.


"Sama-sama, kami juga kebetulan lewat, jadi bagaimana kami bisa mengabaikan kalian yang membutuhkan bantuan? Kita sesama manusiakan harus saling membantu kalau mengalami masalah. Tapi om tante, kenapa kalian bisa terikat di dalam mobil dengan dipasang bom?" tanya Geby penasaran. Sasa juga setelah dia menyelesaikan minumnya dia mengangguk.


"Perkenalkan dulu nama bapak Heryanto dan ini istri bapak Sundari, dan mereka berdua putra kami Bagas dan Bayu," ucap pak Hery.


"Saya Geby dan dia Sasa teman saya," ucap Geby memperkenalkan.


"Baiklah! Bapak akan menceritakan kenapa kami bisa seperti yang kalian lihat," ucap pak Hery.


Pak Hery pun menceritakan bahwa mereka itu merupakan seorang pengusaha yang berurusan batu berlian. Karena dalam dua bulan ini bisnis mereka lancar dan para pemain lainnya iri jadi mereka melakukan banyak hal untuk menjatuhkan mereka dan paling parah yaitu ingin membunuh mereka, tapi mereka membuat seolah-olah itu kecelakaan mobil yang meledak.


"Dari mana bapak tahu, kalau mereka yang merencanakan itu?" tanya Geby.


"Saat itu bapak tidak sengaja mendengar mereka berbicara tentang kerjasama menjatuhkan perusahaan bapak, tapi rencana mereka selalu gagal karena bapak sudah mengetahuinya, tapi rencana terakhir mereka ini bapak tidak tahu mereka kapan melakukannya dan dimana dan akhirnya bapak lengah dan terjadilah seperti ini," jelas pak Hery.


"Hmmm, aku mengerti. Apakah bapak sekeluarga perlu bantuan untuk membalas mereka, karena sepertinya aku tahu mereka menyewa siapa untuk mencelakai bapak serta keluarga bapak," ucap Geby percaya diri kemudian menatap Sasa yang juga tersenyum penuh arti.


"Emmm, bukannya apa nak, tapi apakah kalian...," perkataan pak Hery terpotong saat Sasa menyela.


"Benar sih, tapi bagaimana kalian mengatasinya, jika kami memang memerlukan perlindungan? Karena mereka pasti tak akan melepaskan kami setelah mengetahui kami masih selamat," ucap Pak Hery.


"Bapak tak perlu memikirkan bagaimana kami akan mengatasinya, yang terpenting bapak serta seluruh keluarga bapak aman," ucap Geby.


"Baiklah kalau begitu! Lalu bayarannya?" ucap pak Hery.


"Tak perlu memikirkan itu, karena mereka merupakan yang kami cari juga," ucap Geby lagi.


Setelah hari itu, Geby, Sasa serta anggota BS lainnya melakukan misi melindungi keluarga pak Hery serta memberantas para oknum organisasi ilegal dan membuat resah.


Setelah misi selesai pun Geby dan Sasa masih berhubungan baik dengan pak Hery serta kelurganya.


Flashback off


"Mereka sungguh anak-anak yang luar biasa meskipun hanya perempuan. Aku harus terus mengingatkan kedua putraku untuk tidak mempermainkan gadis. Kita tidak tahu bagaimana dalam sebenarnya seorang gadis," gumam pak Hery.



Geby dan Sasa telah selesai berfoto dan mengambil almamater dari ruang administratif kampus.


__ADS_1


Saat mereka berdua berjalan menuju kelas mereka berpapasan dengan Bagas anaknya pak Hery yang tertua.



"Eh Kak Bagas?" ucap Sasa malu-malu. Ya pasalnya Bagas ini tampan loh.



Bagas tersenyum menanggapi. "Sudah selesai mengurus semua hal dan bertemu ayah?" tanyanya.



"Iya," sahut Sasa, sedangkan Geby hanya mengangguk dan mengalihkan pandangannya keseluruh penjuru kampus.



Lagi-lagi mereka jadi pusat perhatian tatkala berbincang akrab dengan Bagas yang notabennya anak rektor, tampan, cerdas, pokoknya perfect deh.



Bagas yang sedari tadi sudah menatap Geby meski tatapannya tak dibalas, langsung mengalihkan pandangannya setelah tatapannya bertemu dengan tatapan Geby. Tatapan Geby berhasil membuat jantung Bagas berdetak kencang.



"Kenapa jantungku berdetak kencang setelah tatapannya bertemu dengan tatapanku?" batin Bagas seraya memegang dadanya.



Sasa terus memanggil Bagas tapi yang di panggil masih terpaku akan sesuatu.



"Hei kak," panggil Sasa seraya menepuk pundak Bagas, membuat Bagas hampir oleng karena terkejut.



"Iya ada apa?" ucap Bagas panik.



"Tidak ada! Hanya saja kenapa kakak melamun? Aku panggil-panggi gak direspon," ucap Sasa.



"Maaf maaf, tadi lagi mikirin tentang tugas. Kalau begitu aku akan ke kelasku dulu ya," ucap Bagas yang ingin cepat-cepat pergi dari sana menjauhi dua gadis itu yang membuat jantungnya lari maraton.



"Oh baiklah!" ucap Sasa.

__ADS_1



Happy Reading


__ADS_2