
Mendapat kesempatan untuk pergi, Geby pun pergi ke taman untuk menemui Ardikha.
Geby mencari-cari dan mendapati Ardikha sedang bicara dengan seorang lagi.
"Itu dia!" itu yang Geby dengan saat mereka berdua melihatnya datang.
"Geby? Kau benar-benar melupakan ingatanmu?" tanya Dikha langsung.
"Tenanglah!" ucap Ardikha menenangkan Dikha.
Dikha menghela Nafas menenangkan diri.
Dikha tak dapat berkata-kata, hancur sudah harapannya. Selama ini dia menghindari Geby karena tak ingin menjadi beban Geby yang selalu membela dirinya yang lemah ini, tapi sekarang.... Dia menyesal tak berada disampingnya dan membiarkan kembarannya ini mendekati pujaan hatinya. Pasalnya dia telah mengetahui jika Ardikha juga menyukai Geby. Itu saja membuatnya merasa sangat tak berguna bagi perempuan yang dia sukai, tapi demi nya apa pun akan dilakukannya meskipun membiarkannya bersama orang lain asalkan dia bahagia. Dia sadar berapa lemahnya dirinya, menjalani diri sendiri saja tak bisa, apalagi perempuan yang disukainya. Bisa-bisa perempuan yang disukainya yang selalu menjaganya, di ingat dari saat dia masih satu sekolah bersama Geby. Oleh sebab itulah dia pindah sekolah dan meminta Ardikha untuk menjaganya untuknya.
"Siapa?" tanya Geby bingung melirik ke Ardikha.
"Dia saudaraku juga temanmu saat SMA. Oh, malam pesta perpisahan satu bulan lalu aku menunggumu, tapi kau, Sasa serta keluargamu tak datang sampai pesta berakhir. Aku mencari tahu dan mendapati kalau kau serta keluargamu dikejar, dan setelah itu aku bertanya pada Sasa, dia berkata kau hilang dan sampai sekarang keluargamu masih mencarimu. Apakah kau tak ada niat untuk menemui mereka?" Ardikha.
Geby semakin bingung mendengar penuturan Ardikha, pasalnya dia benar-benar melupakan kejadian yang membuatnya hilang ingatan.
"Bicara tentang keluargaku. Apakah mereka tidak berhadir atau tidak di undang?" tanya Geby yang menyadari tidak berhadirnya keluarganya satu orang pun, pasalnya keluarganya itu keluarga terkaya nomor tiga di dunia bukan?
"Sepertinya paman telah mengatur dengan teliti masalah itu," ucap Dikha.
"Kau benar! Paman tak akan mungkin membiarkan keluargamu dapat bertemu denganmu. Aku sangat tahu sifatnya itu, segala miliknya tak akan bisa lepas kecuali dia sendiri yang ingin melepasnya," ucap Ardikha di angguki Dikha dan membuat Geby bergidik ngeri.
"Kau tak ingin pergi dari sini? Ku dengar dari Ardikha kau juga ingin pergi, tapi tak bisa karena paman kami?" ucap Dikha.
"Aku ingin! Bahkan sangat ingin pergi dari sini, aku merasa terpenjara disini, aku selalu diawasi, itu tidak nyaman. Tapi bisakah aku pergi dari sini? Bagaimana aku bisa pergi dirinya, yang kutahu dia adalah orang yang sangat berpengaruh didunia bisnis, akan mudah mendapat informasi," ucap Geby.
"Aku tahu akan begitu sulit kabur dari paman, tapi aku akan membantumu jika kau ingin pergi!" ucap Dikha.
"Mengapa kalian mau membantuku? Kalian kan keponakannya?" tanya Geby.
"Kau akan tahu kalau kau kalau ingatanmu kembali," ucap Dikha sambil tersenyum. "Bagaimana? Kau ingin pergi?"
"Ya aku ingin pergi, tapi saat aku berhasil keluar dari pulau ini pun aku tak akan langsung pergi ke keluargaku. Karena aku tahu, dia sudah tahu tentang keluargaku dan pasti akan mencari kesana," ucap Geby.
__ADS_1
"Kau pintar seperti biasanya!" ucap Ardikha dan diangguki oleh Dikha.
"Hah!" Geby.
"Tidak! Kalau kau ingin pergi, setelah selesai pesta ini dan penjagaan melonggar, pergilah ke kapal kami," ucap Ardikha.
"Tapi, bagaimana dengan orang tua kalian?" tanya Geby.
"Kau sembunyi saja, kau kan paling ahli dalam hal itu!" ucap Dikha.
"Benarkah? Aku ahli bersembunyi? Tapi aku meraskannya juga hehe," Geby.
Mereka bertiga kembali masuk ke ruang pesta. Untuk mengalihkan pehatian Adam Geby tak ke ruang pesta tapi langsung pergi ke kamarnya.
Bruakkk
Pintu dibuka dengan paksa, padahal tak dikunci.
Geby terkejut hampir terjungkal dan menatap marah sang pelaku, tapi tiba-tiba nyalinya menciut tatkal sang pelaku terlihat sangat marah, wajahnya memerah tatapan nya setajam pisau auranya sangat mengintimidasi.
"tidak dari mana-mana setelah bendansa tadi aku langsung ke kamar," elak Geby.
"Benarkah? Kau tidak berbohong?" ucap Adam tak percaya.
Punggung Geby telah diguyur dengan peluh yang terus mengalir membasahi punggungnya. Geby berusaha setenang mungkin, agar Adam percaya dengan perkataannya. "Ya, aku benar-benar disini dari tadi,"
"Huuuhhhh," Adam menghela nafas membuang rasa marah dan khawatir. "Baiklah! Kalau begitu kau beristirahatlah aku tak akan mengganggu lagi dan maaf untuk pintunya, aku akan segera meminta petugas untuk memperbaikinya," ucap Adam panjang lebar.
"Ok!" ucap Geby.
Fiuhh! Geby langsung lemas saat Adam telah pergi. "Oh astaga! Tadi hampir saja. Kalau aku tak cepat kembali aku tidak tahu apa yang dia lakukan,"
Pesta berakhir semua tamu satu-persatu meninggalkan pulau pribadi Adam, kecuali keluarga Williams.
Geby mulai menyusun rencana untuk dapat melewati keamanan yang ketat di pulau pribadi ini.
Seperti yang dikatakan Adam sebelumnya akan datang seseorang yang akan memperbaiki pintu Geby setelah selesai diperbaiki Geby langsung mengunci pintu dan bersiap-siap.
__ADS_1
Celana hitam selutut dipadukan dengan hoodie, Geby mulai bersiap untuk keluar melalui jendela kamarnya.
"Uh, lumayan tinggi. Tapi aku merasa ini tak asing untuku lakukan," ucap Geby sambil menyeringai kemudian dengan sangat cepat, tepat dan mudahnya Geby dapat turun dari lantai dua tanpa disadari oleh para penjaga dan juga CCTV yang terpasang disemua sudut.
Geby telah berhasil keluar dari rumah besar Adam dan langsung menuju pelabuhan. Dia tahu kalau semua keluarga Williams belum pulang dan untuk itu Geby sedikit menunggu. Mudah menemukan kapalnya, karena hanya ada beberapa kapal dipelabuhan dan pasti dua dari lima kapal besar itu adalah kapal keluarga Williams, tapi sayangnya Geby masih ragu tentang kapalnya keluarga Dikha dan Ardikha.
Setelah hampir lima belas menit, akhirnya keluarga Williams pun datang.
Semua orang masuk dan Geby pun masuk di kapal paling pojok kapal yang dimasuki oleh keluarga Ardikha serta kakek neneknya.
Geby bersembunyi di balik tembok menunggu salah satu dua beradik lewat.
"Hmp,"
"Suutt, ini aku!" ucap Geby pelan kemudian melepaskan bekapannya tehadap Dikha.
"Syukurlah kau berhasil," ucap Dikha tersenyum.
Lain disini yang senang, lain lagi ditempat lain yang sekarang sedang heboh karena hilangnya calon nyonya rumah.
Bruuakk, Adam melampiaskan kemarahnnya dengan membanting meja kehadapan para penjaga yang sebagian terkena pantulan puing-puing kayu yang hancur.
"Kalian memang bodoh! Menjaga seorang perempuan saja tak becus!"
Adam sangat-sangat marah pada saat ini, dia berusaha tenang dan berfikir bagaimana Geby dapat melewati penjagaan super ketatnya. CCTV pun tak dapat menangkap keberadaannya dan pergi kemana dia. "Cari sampai ketemu! Jai kau juga cari nyonya kalian!" perintah Adam.
"Baik tuan!" jawab semuanya.
Pagi telah datang dan keberadaan Geby masih tak ditemukan oleh Adam.
Semuanya kacau sampai beberapa hari selanjutnya. Semua penjaga dan anak buahnya di mafia dikerahkan untuk mencari keberadaan Geby tapi masih tak ditemukan.
Happy Reading
__ADS_1