Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.9


__ADS_3

Geby keluar dari barisan antrian, tapi suara seorang gadis semakin membuat darahnya mendidih. Dia berbalik dan berkata "Cih, sepasang kekasih yang sangat serasi," decihnya. Setelah mengatakan itu dia. pergi meningkalkan mereka yang kalau tidak pergi dia tidak tahu apa yang akan di perbuatnya.


...


Jam menunjukkan di angka 10, tepatnya sekarang telah jam 10 malam.


Melihat sekeliling rumah, gelap, mungkin semua orang telah beristirahat. Geby dengan tergesa-gesa menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.


"Hah hah hah," mengatur nafas nya karena sehabis tergesa-gesa berlari menaiki tangga "Sial kenapa harus bertemu dengan orang-orang menyebalkan itu sih. Dan lagi, tadi juga ketemu sama Yoga, Farel? Aku tidak salah lihat bukan?" ucap Geby sambil berfikir.



Setelah pergi dari pasar malam Geby melajukan motornya terus dan terus, tanpa tahu jalan manakah itu. Dia terus melajukan motornya sampai dia tak sadar dia telah berada di tempat banyaknya orang berkumpul, lebih tepatnya para kaum muda-mudi nongkrong, tapi bukan pacaran atau apa tapi mereka asik bersorak. Hah bersorak? Untuk hal apa?



Geby memarkirkan motornya dan mendekati kerumunan itu.



Kepalanya celingukan mencari tahu apa sih yang mereka soraki? Tak lama suara deru motor terdengar semakin mendekat.



"Oh ternyata balapan," gumam Geby. "Seru nih, nanti aku bakalan ikut ah, saat motor sport ku sudah datang, kalau sekarang kan gak mungkin, pasalnya motor yang ku gunakan sekarang motor matic," batin Geby sambil menatap motornya cemberut.



"Hei Yog, keren, lo menang lagi," ucap seseorang. "Biasa aja," suara datar yang tak asing di pendengaran Geby "Suara yang tidak asing," Geby pun lebih mendekat dan sekali-kali berlindung di balik kerumunan.



Mata Geby terbelalak saat matanya melihat siapa itu. Dia adalah Yoga? "Sial kenapa dia di sini? Buaknkah tadi dia di rumah, tapi dia tidak keluar kamar, apa karena dia ada di sini?" umpatnya meruntuki kesialannya.



"Nih hadiahnya," ucap seseorang menyerahkan amplop.



"Ahhh kenapa ada dia juga," batin Geby. Dia 'Farel' "Hari ini memang sial, di pasar malam bertemu sepasang manusia pembuat mood buruk, dan ini...bertemu dua orang menyebalkan. Aku harus segera pergi, jangan sampai ketahuan oleh mereka bedua, bisa kena semprot nanti," **END**


Keesokan paginya seluruh anggota keluarga Pradita sedang sarapan pagi bersama. Tidak biasanya!


Sarapan pagi hampir selesai tak ingin membuang waktu lagi Geby pun mengutarakan keinginannya untuk membatalkan pertunangannya bersama Kenan.


"Ma ada yang mau Geby minta," ucap Geby.


Belum sempat Hana merespon ucapan putrinya, Danu menyelanya "Mau apa lagi, apa tak cukup semua yang ku dapat? Bahkan itu lebih banyak dari milik kedua kakakmu," ucap Danu dengan tatapan tak suka pada Geby.


"Ayah," tegur Hana.


"Benar kata ayah ma, kita tidak boleh terlalu memanjakannya dengan selalu menuruti permintaannya," ucap Yoga datar.


Hana tak habis fikir dengan fikiram suami dan putranya itu "Jangan berprasangka buruk dulu, kita dengarkan saja dulu, apa salahnya,"


"Ya ya, terserah saja, kita dengarkan saja," ucap Farel acuh.


Hati Geby terasa sakit, perih luka tak berdarah mendengar ucapan tak suka dari keluarganya, mungkin ini perasaan dari tubuh Geby.

__ADS_1


"Sayang katakanlah," ucap Hana.


"Aku harus mengatakanya sekarang, kalau tidak, nanti akan sangat terlambat," batin Geby. Dengan penuh tekad Geby berkata "Aku ingin memutuskan pertunanganku dengan Kenan Smith," menatap mata satu-persatu orang di depannya dengan penuh keyakinan.


Sedangkan semua orang di meja makan itu mebatap Geby bingung, tak percaya dan sebagainya, pasalnya pertunangan ini terjadi karena permintaan paksa dari Geby sendiri.


"Kamu yakin sayang?" Hana.


"Ya ma, aku yakin. Setelah kecelakaan itu aku sadar, jika aku tak boleh egois, jadi aku ingin membatalkan pertunangan ini," ucap Geby dengan serius. Tidak ada jejak keraguan maupun tak rela di matanya.


"Bagus jika kau sadar akan hal itu," ucap Farel sinis.


"Hah," Hana membuang nafas pasrah "Baiklah, nanti mama akan membicarakannya dengan kedua orang tua Kenan,"


"Terimakasih ma," Geby.


"Sama-sama," Hana.



Geby telah berada di kelasnya, duduk melamun dengan earphone berada di kedua telinganya.



Di sampingnya ada Dikha yang sedang menatapnya intens, entah apa yang di fikirkannya dengan menatap perempuan di sampingnya itu.



Bel masuk berbunyi, guru mata pelajaran pun juga datang. Dikha menyenggol lengan Geby memberitahukan akan hal itu.



Dua mata pelajaran berlalu dan karena ada rapat para guru, akhirnya pelajaran selanjutnya ditiadakan dan para siswa/i di perbolehkan untuk pulang, karena tidak tahu akan berapa lama rapat akan berlangsung.




"Dimana sih tu anak, kok gak ada nongol-nongol dari tadi," gerutu Geby.



"Ah cariin aja deh, sekaliam bawain tas nya," Geby pun mencari Dikha dan menyusuri koridor dan berhenti di toilet pria. Geby celingak-celinguk, mau masuk ragu, kan aneh apa kata orang jika di masuk ke toilet pria. Dia memanggil Dikha pelan sampai nyaring tapi tak ada sahutan dari dalam. "Apa dia gak ada di sini? Lalu kemana dia?"



Saat fokus dan mondar-mandir, ada satpam yang menghampirinya.



"Nak kenapa masih di sekolah? Gak pulang?"



"Oh pak, ini saya nyari teman saya, dari tadi gak nemu dia, terakhir dia ijin ke toilet, tapi tidak ada sahutan saat saya panggil,"



"Oh, coba bapak cek ya,"

__ADS_1



"Baik pak, tolong ya,"



Pak satpam pun masuk ke dalam toilet dan terdengar dari ruangan bapak itu sedang berbicara dengan seseorang, tapi tak terlalu jelas.



Geby sangat penasaran dan tanpa ragu masuk ke dalam toilet pria tersebut, toh tidak ada orang lagi selain pak satpam dan satu orang yang memang berada di dalam.



"Dikha," Geby sangat terkejut dengan keadaan Dikha yang sangat mengkhawatirkan.



Geby langsung menghampiri Dikha yang duduk berjongkok di lantai.



"Kamu kenapa? Kok bisa gini?" tanya Geby sambil memeriksa keadaan Dikha yang sangat mengkhawatirkan, tanpa menunggu jawaban Dikha Geby segera bertindak "Pak, tolong bantu bawa dia ke motor saya ya,"



Pas satpam itu pun langsung membantu.



**Skip**



Sekarang Geby dan Dikha telah berada di rumah sakit terdekat untuk mengobati luka-luka Dikha.



Setelah selesai diobatiboleh dokter, Dikha di bawa oleh Geby ke Cafe terdekat untuk minta penjelasan.



"Apa yang terjadi sebenarnya?" menatap tajam ke mata Dikha.



"Emmm, i-itu a-aku hanya terjatuh," gugupnya.



"Jatuh bagaimana? Badan sudah biru-biru gitu hanya jatuh? Jangan bohong," Geby.



Semakin di tatap tajam, Dikha semakin gugup. "Ekhem cepat jelaskan," paksa Geby.



Dengan gugup dan terhadap Dikha mulai menceritakan kronologi dan siapa yang membully nya "Se sebenarnya tadi saat aku keluar dari toilet aku bertemu dengan dua orang geng kapak, murid kelas 12. Aku di pukul karena tidak memberikan mereka uang, saat mereka meminta uang padaku, karena pada saat itu aku tak membawanya," jelas Dikha berbelit-belit karena gugup.

__ADS_1



Happy Reading


__ADS_2