
setelah hampir satu minggu mengurung diri di dalam kamar nya, kini penampilan nya sudah sangat berantakan bagaimana tidak begitu jika setiap hari yang dia lakukan hanya berbaring di tempat tidur nya sambil menangis menyalahkan diri nya karena kematian ibunya. bahkan dia baru menyadari jika selama dia berdiam diri di kamar nya selalu ada makanan yang akan dia makan bahkan dia saja tidak bergeser sedikit pun dari tempat tidur nya. siapa yang memberikan makanan itu pula dia tidak tau
flash back on
setelah sadarkan diri, silvi bergegas untuk mengurus segala sesuatu yang di butuhkan untuk memakamkan jenaza sang ibu dengan di dampingi oleh febrian dan juga giofan yang dengan senang hati membantu nya. ketika semua nya telah selesai di persiapkan, kini jenaza sang ibu akan segera di makam kan dan untuk terakhir kalinya silvi mendekap erat tubuh kaku sang ibu seakan enggan untuk di lepas kan
febrian segera menenangkan nya dan ketika dekapan nya terlepas, tubuh kaku sang ibu segera di makam kan. sementara itu silvi memberontak dan meminta untuk ikut di makamkan juga bersama ibunya namun febrian segera memeluk silvi dengan erat dan menenangkan nya namun karena lelah memberontak tapi tidak kunjung lepas karena kekuatan nya tidak sebanding dengan febrian membuat dia tidak sadarkan diri untuk ke sekian kalinya
ketika merasa tidak ada lagi gerakan membuat febrian melonggarkan pelukan nya dan menatap silvi namun dia terkejut ketika melihat mata silvi tertutup
" dek bangun dek, kamu kenapa?" ucap febrian sambil menepuk pelan wajah silvi namun tidak ada respon sama sekali
" fan tolong fan, silvi pingsan lagi" teriak febrian sambil menggendong silvi ala bridal still
" kenapa lagi yan? kok dia bisa pingsan lagi?"
" cepat bawa masuk ke mobil gue, kita ke rumah sakit sekarang" ucap giofan sambil membuka pintu mobil nya
ketika hampir sampai ke rumah sakit, tiba - tiba silvi membuka matanya dan seketika matanya bersitatap dengan mata febrian yang saat ini sedang mendekap nya. rasanya sangat nyaman saat ini di dalam dekapan sosok pria yang sudah menjadikan dia sebagai adiknya. dia merasakan hangatnya dekapan seorang kakak yang belum pernah dia rasakan.
" kamu udah sadar dek? kakak khawatir dengan kondisi kamu"
" apa kamu membutuhkan sesuatu?" ucap febrian lembut ketika melihat silvi membuka matanya
" aku dimana ka? kok ada kakak? "tanya silvi
__ADS_1
" kamu tadi pingsan dan kakak mau bawa kamu ke rumah sakit"
" ka bian, ayo kita ke rumah sakit sekarang aku takut lama - lama ninggalin ibu sekalian aku mau ngenalin kakak sama ibu, pasti ibu senang kalau ketemu kakak" ucap silvi dengan mata berbinar
" kamu harus kuat dek, ibu kamu udah meninggal dan kita baru saja dari pemakaman nya" ucap febrian sambil mengusap punggung silvi yang meringkuk dalam dekapan nya
" jadi itu beneran ninggalin aku ka?"
" berarti aku ngak mimpi?" tanya silvi
" iya dek, ibu kamu udah tenang di alam sana jadi kamu ngak boleh sedih terus kaya gini lagian kamu kan masih punya kak dan kamu harus semangat demi kebahagiaan mu. pasti orang tua mu akan bahagia dan bangga melihat mu dari atas sana."
" ka, aku mau pulang aja ke rumah"
" hmmmm"
" fan, kita ke rumah silvi aja ngak usah ke rumah sakit. silvi minta di antar pulang" ucap febrian setelah menempuk pundak sahabat nya itu
" okey deh kalo gitu" ucap giofan pasrah
(" kok gue jadi kaya sopir gini sih? dasar autor kejam, masa gue udah ganteng kaya gini di cuekin ama silvi sih, enak banget tuh sih febrian pelukan sama silvi bikin emosi aja deh") gerutu giofan pada autor
autor " emang enak, sukurin lo he he he"
lanjut ke cerita
__ADS_1
akhirnya setelah sampai di depan rumah nya, silvi pamit untuk masuk
" makasih ka, udah bantuin aku dan udah mau repot - repot juga buat antar aku pulang. sekali lagi makasih ka" ucap silvi sambil menunduk dan membuka pintu mobil tersebut
" dek, kamu ngak boleh bilang kaya gitu karena itu sudah seharusnya kakak lakukan, lagi pula kamu kan adik kakak jadi kakak ngak bakalan merasa di repotkan" ucap febrian lembut setelah berdiri di depan silvi
" makasih ka"
"iya, kamu disini sama siapa?"
"aku cuma tinggal berdua sama ibu selama ini"
" kalau begitu kamu jangan tinggal di sini lebih baik kamu ikut kakak pulang ke rumah orang tua kakak. bahaya kalo tinggal sendiri"
" ngak usah ka, lebih baik aku di sini saja"
" kamu yakin?"
"iya ka"
" kalau begitu kakak pergi dulu, kamu hati - hati yah di sini"
keesokan harinya giofan menelfon seseorang untuk mengantarkan makanan ke rumah silvi pagi, siang dan malam tanpa ada yang tau kalau itu dari dia
flash back off
__ADS_1