Gairah Cinta Adik Ipar

Gairah Cinta Adik Ipar
Perkelahian Hebat


__ADS_3

Drrrrttt... Drrrtttt...


Ponsel Gibran bergetar, dia segera menghentikan mobilnya saat tau siapa yang mengirim pesan untuknya.


[Dugaan lu benar, Bran. Abang lu memang selingkuh. Gue kirim 8 video sama lu]


Dia melihat semua video Romi yang selalu terlihat mesra membawa seorang wanita masuk ke dalam dan ke luar hotel, dengan pakaian yang berbeda-beda. Ternyata dari dulu mereka sering bercocok tanam disana.


"Hasstt ..!" Gibran kesal melihatnya, ternyata selama ini Romi sudah banyak membohongi Ghea. Sampai dia berkali-kali membawa wanita yang sama ke hotel .


"Kamu sedang melihat apa? Kenapa terlihat kesal seperti itu?" tanya Ghea karena melihat Gibran yang terlihat emosi saat sedang mengecek ponselnya.


Gibran tak menjawab, dia tidak ingin langsung membicarakan hal itu pada Ghea, dia takut Ghea jadi banyak pikiran. Dia mempercepat laju mobilnya itu. Dia ingin segera sampai ke rumah dan menghajar Romi.


brmmm.. brmmmmm...


"Gibran, ada apa sih?" Ghea jadi semakin penasaran mengapa Gibran terlihat sedang menahan amarahnya.


Ternyata keputusan aku untuk membuatmu lepas darinya itu benar. kata hati Gibran.


"Gibran, jangan ngebut gitu dong!" Ghea terlihat ketakutan karena Gibran mengendarai mobil dengan begitu cepat.


"Gibran!"


Gibran mengurangi lagi kecepatan laju mobil yang dikendarainya , dia tidak ingin Ghea menjadi ketakutan karenanya.


"Maafkan aku!" Tiba-tiba Gibran mengatakan itu dengan pandangannya lurus ke depan sambil menyetir mobil. "Kamu begini gara-gara aku, seandainya saat kita masih kecil tidak bertemu mungkin ayahku tidak akan begitu mengenalimu, dan mungkin juga kamu tidak akan berhutang budi kepada ayahku dan tidak akan dijodohkan dengan aku dan kak Romi."


Dia tahu seperti itu karena dia ingat saat itu ayahnya datang menghampiri mereka yang sedang bermain untuk mengajak Gibran pulang dan bahkan Pak Reza memfoto mereka dulu beserta anak-anak panti lainnya.


Ghea terdiam mendengar ucapan Gibran yang terdengar begitu tulus mengatakannya, sampai matanya berkaca-kaca menahan tangis.


"Juga seandainya aku datang waktu itu, mungkin aku pasti akan memperlakukanmu dengan baik. Saat itu aku tidak tau siapa yang akan dijodohkan denganku, aku benar-benar menyesal, Ghea." Gibran menggigit bibirnya mehanan air mata agar tidak terjatuh.


Sementara Ghea, dia tidak bisa membendung air matanya, dia segera menghapus air matanya dan membuang muka mengarahkan pandangannya ke jendela mobil. Hingga dia tidak kuasa bertanya mengapa tiba-tiba Gibran mengatakan itu padanya

__ADS_1


"Aku akan membebaskanmu, Ghea."


Ckiiittt...


Akhirnya mobil itu sampai di halaman rumah.


Romi menyambut kedatangan Ghea yang baru keluar dari dalam mobil "Kamu sudah pulang, sayang? Aku punya kejutan buat kamu! "


Tanpa aba-aba, Gibran yang baru keluar dari mobil langsung menyeret tubuh Romi menjauhi Gea dan melayangkan tinjunya beberapa kali.


"Brengsek lu!"


BUGH... BUGH.. BUGH...


Ghea terkejut dengan perlakuan Gibran itu, "Gibran! Berhenti Gibran!" Dia mencoba menahan tubuh Gibran.


"Arrghhhttt..." Tubuh Romi terjungkal, dia meringis kesakitan. Namun dia tidak terima mendapat hadiah dari adiknya itu, dia segera bangkit untuk membalas pukulan dari Gibran.


Namun Ghea menghalanginnya, "Jangan mas!"


Bu Rosa yang mendengar keributan itu segera ke luar dari rumah, dia langsung panik saat melihat anaknya babak belur begitu, "Oh ya ampun Romi, anakku."


Bu Rosa tak terima anaknya diperlakukan seperti itu tanpa basa basi dia menampar wajah Gibran dengan keras.


PLAKKK!!


Ghea terbelalak melihatnya, sampai dia menutup mulut dengan tangannya, tidak tega melihat Gibran di tampar seperti itu. Begitu terlihat jelas di depan matanya saat bu Rosa menampar keras wajah Gibran.


"Dasar anak kurang ajar! Seharusnya kamu jangan kesini kalau ingin membuat kegaduhan di rumah ini." Bu Rosa memaki-maki anak tirinya itu dan membantu Romi berdiri tegak.


Gibran malah nyengir, "Seharusnya kamu mengatakan itu kepada anakmu sendiri!"


Ghea tidak mengerti mengapa Gibran mengatakan hal itu, "Gibran," dia memanggilnya dengan lembut dia tidak ingin Gibran semakin terluka.


"Tolong didik dia dengan baik agar tidak nurun perlakuannya sama kayak ibunya!" Gibran berani mengatakan itu kepada bu Rosa.

__ADS_1


Romi tidak terima Gibran mengatai ibunya seperti itu, "Brengsek!" Dia bergidig dan menonjok muka Gibran.


BUGH...


Gibran tak mau kalah, dia membalas tonjokan itu.


BUGH...


Mereka saling menonjok dan memukul satu sama lain sampai wajah mereka babak belur. Bu Rosa dan Ghea berusaha memisahkan mereka, namun kewalahan karena tenaga mereka begitu kuat.


Akhirnya Pak Reza datang karena mendengar kegaduhan itu, dia terlihat marah dengan kelakuan kedua anaknya itu.


"Berhenti!" bentaknya, dia bergidig menghampiri Gibran dan Romi.


Gibran dan Romi pun langsung berhenti saling meninju saat mendengar suara sang ayah.


PLAKK!!


PLAKK!!


Dia menampar pipi Romi lalu menampar Pipi Gibran dengan keras.


"Ayah... " Teriak bu Rosa, dia tidak terima Romi di tampar oleh suaminya.


"Kenapa kalian bertengkar seperti anak kecil, heuh" Pak Reza begitu murka melihat kakak beradik ini yang tak bisa akur juga.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...

__ADS_1


__ADS_2