Gairah Cinta Adik Ipar

Gairah Cinta Adik Ipar
Tidak Akan Melepaskanmu


__ADS_3

Ghea hanya mematung melihat sosok sedang duduk di sampingnya yang hanya terhalang jarak empat jengkal saja. Kaget, cemas, rindu, semuanya menyatu di dalam pikirannya. Dia terlihat gugup sekali, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Gibran kembali padahal dia sudah berusaha untuk tidak berurusan lagi dengannya.


"Aku rasa kita tidak bisa bekerjasama." Ghea tidak ingin terlibat dengan Gibran lagi.


Gibran menghela nafas "Kenapa? Bukankah kamu ini orang yang sangat profesional? Seharusnya kamu bisa membedakan kepentingan pribadi dengan pekerjaan."


"Bagaimana aku bisa bekerjasama dengan orang yang santai begitu, malah tidur di tempat kerja!" Rupanya Ghea menyinggung Gibran yang tengah tertidur tadi.


Gibran tertawa kecil, "Kamu lupa ya, sebentar lagi malam, ini sudah jam pulang dan kebetulan aku sering tidur disini. Kamu yang datang di waktu yang tak tepat."


Ah pantas saja sepi.. Kata-kata membuat Ghea malu, Ghea memang bekerja suka lupa waktu, dia menghela nafas sebentar, "hhh... baiklah... "


Dia segera menerangkan segala hal tentang kerjasama mereka. Saat itu jam sudah berdentang jam 18.00 sore.


Namun Gibran tidak fokus, dia terus memperhatikan di setiap inci wajah wanita yang sedang bersamanya itu, dia terus mendiktenya di mulai dari mata yang indah di sempurnakan dengan kornea matanya yang berwarna coklat itu, mata itu begitu membuatnya selalu membuat dia jatuh cinta lagi dan lagi saat mereka saling berpandangan. Turun ke hidungnya yang mancung membuat wanita itu semakin indah untuk dipandang. Lalu pindah ke pipinya yang lancip, dan teraktir dia melihat bibirnya tipis yang membuatnya candu ingin menciumnya.


Apa dia sedang bermimpi?


Gibran mencubit sedikit pipi Ghea. Membuat Ghea kaget sampai membulat matanya.


"Benar, ternyata bukan mimpi." Wajah Gibran begitu berbinar-binar.


"Hhhh... Apa kau dengar apa yang aku bicarakan tadi? " tanyanya dengan gelagapan karena tiba-tiba Gibran mencubit pipinya.


"Bagaimana kabarmu?" Gibran malah bertanya ke hal lain, dia tak bisa menghentikan matanya untuk selalu memandangi wanita yang di rindukannya itu.


Ghea tak ingin menjawab masalah pribadinya itu, "Bukannya kamu yang bilang kita harus profesional tadi. Aku datang kesini untuk mengajak kerjasama dalam pembuatan iklan jaket mountain Adva, untuk masalah model kami sudah memiliki modelnya."


Gibran tak menjawab, dia lebih tertarik terus memandangi wanita yang ada di dekatnya itu dibandingkan mendengarkan bisnis yang ditawarkan Ghea.

__ADS_1


Gibran tersenyum tipis, "Aku bersyukur ternyata kau hidup dengan baik. Sementara aku, aku sangat terpuruk dan selalu berusaha untuk mencarimu. Tega sekali!"


Ghea menghela nafas mendengarkah ucapan Gibran itu, "Aku datang kesini untuk membahas pekerjaan."


"Bukan kah kau bilang mencintaiku juga?"


"Ka-kapan aku bilang begitu?" Ghea tidak mau mengaku.


Gibran meronggoh ponselnya dan membacakan pesan dari Ghea, "Saat itu kamu mengirim pesan ini padaku...Emm... Maafkan aku, seharusnya aku mengatakannya secara langsung kepadamu. Terimakasih untuk semuanya, karena setelah bertemu denganmu aku merasa sangat bahagia. Dan aku tidak ingin hidup dalam penyesalan karena belum mengatakan ini padamu... aku mencintaimu juga, Gibran"


Ghea mengernyitkan keningnya dan menggigit bibirnya beberapa kali, dia pikir dulu mereka tidak akan bertemu lagi makanya dia berani menyatakan perasaannya.


"I-itu... itu... emmm... " Ghea tidak bisa mencari alasan.


"Aku akan menghubungi sutradara Sam masalah itu, besok juga bisa."


"Besok?"


"Tunggu sebentar," Ghea berjalan menjauhkan jaraknya dengan Gibran, dia harus memastikan dulu Roy bisa syuting besok apa tidak, dia segera menelpon Roy.


Roy yang sedang beristirahat di lokasi syuting, dia sumringah saat melihat siapa yang menelponnya, "Ada apa cantik?"


'Apa besok kamu ada acara?"


"Kenapa? Kamu mau mengajak berkencan denganku? "


Ghea menghela nafas mendengar ucapan Roy di seberang telepon sana, sementara Gibran dengan sabar menunggu kepastian dari sang model.


"Besok akan diadakan syuting iklan, apa kamu bisa?"

__ADS_1


Roy sedikit kecewa karena Ghea menelponnya selalu saja tentang pekerjaan, "Hmm... bisa, demi kamu apa sih yang nggak!"


Ghea sudah terbiasa mendapatkan gombalan seperti itu, "Ya sudah nanti aku hubungi kamu lagi mengenai info selanjutnya."


Ghea menoleh ke Gibran yang dari tadi memperhatikannya terus, lelaki itu tak pernah bisa membuatnya berhenti mempompa jantungnya berdetak hebat "Emm... baiklah besok aku akan ikut ke lokasi syuting nanti. Aku harus melihatnya secara langsung agar sesuai dengan keinginanku." Tanpa permisi Ghea segera melangkah untuk meningalkan kantor itu.


"Ghea!" Namun Gibran mencegahnya pergi.


Ghea mendelikinya "Aku masih banyak urusan, jangan bahas lagi... "


Gibran memotong pembicaraan Ghea "Tas kamu ketinggalan."


Aish... Pria ini tidak pernah berubah selalu membuat aku salah tingkah. Kata hati Ghea, wajahnya begitu memerah.


Dia segera berjalan kembali membawa tas itu dari tangan Gibran dengan perasaan malu, namun begitu dia menarik tasnya Gibran malah menarik tas itu kembali hingga tubuhnya jatuh dan terduduk di pangkuan Gibran.


Buuukk!!


"Gibran! "


"Sudah aku bilang aku tidak akan melepaskanmu." Gibran menatap dalam-dalam pada wanita yang terduduk di pangkuannya itu , tatapan itu sampai terasa ke ulu hati.


Terdengar suara gemericik hujan di luar sana, menciptakan sebuah hawa dingin malam ini. Seolah ikut terharu dengan pertemuan mereka dan ingin menyatukan dua insan yang saling mencintai tapi terhalang sebuah restu yang menjadi benteng di antara mereka.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...

__ADS_1


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...


__ADS_2