Gairah Cinta Adik Ipar

Gairah Cinta Adik Ipar
Melamar Dadakan


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Gibran merasakan suasana yang begitu menegangkan, sampai dia merasa gugup dan berkeringat dingin, tangannya begitu gemeteran, dia menatap dengan tatapan serius kepada kedua orang tua Ghea yang sedang duduk di hadapannya.


Sementara dia membiarkan dirinya duduk bersimpuh di lantai untuk meyakinkan mereka bahwa betapa dirinya sangat serius untuk meminang putri tercinta mereka yang cantik itu.


Suasananya terasa sangat menegangkan untuknya seolah-olah dia sedang bersimpuh di hadapan para algojo yang akan menentukan nasibnya bagaimana.


Gibran menghela nafas sebentar, dia memposisikan dirinya dengan raut wajah yang terlihat sangat serius, "Saya datang kesini untuk melamar putri pak Herman dan bu Fara, Ghea, emmm... maksud saya Vanya."


Pak Herman dan Bu Fara terkejut mendengarnya , begitu juga Ghea, dia tidak menyangka Gibran akan seberani itu. Apalagi Gibran melamar Ghea hanya seorang diri.


"Melamar? Bukannya Pak Gibran dan Vanya ini dulu iparan ya?" tanya Bu Fara, sebenarnya dia tau dari Kia kalau Ghea sangat mencintai Gibran dari dulu. Tapi dia tidak pernah membayangkan kalau Gibran akan melamar anaknya.


"Iya, Bu. Tapi kami saling mencintai... "


Ghea menghela nafas dan mendeliki Gibran saat Gibran mengatakan kata kami seakan Ghea juga menginginkan itu.

__ADS_1


"Memang hubungan kami ini rasanya sulit sekali diterima. Dan saya juga baru merintis usaha, tapi saya pastikan akan membuat Ghea bahagia, saya harap ibu Fara dan Pak Herman menerima lamaran saya."


Jadi begini rasanya melamar seseorang, lebih menegangkan dari pada nonton film horor. Bahkan jantung berdetak tak beraturan. Semua kata-kata mutiara yang sudah dia ancang-ancang dari tadi hilang seketika, dia mendadak lupa apa saja ucapan yang harus di keluarkan dari mulutnya itu.


"Lalu bagaimana dengan Pak Reza, apa dia menyetujuinya?" Pak Herman merasa Pak Reza tidak mungkin menyetujui hubungan mereka.


"Emmm... itu..." Gibran tak bisa melanjutkan perkataannya, tandanya Pak Reza tidak mungkin menyetujui hubungan mereka.


Pak Herman menyayangkan hal itu, "Berat sekali rasanya untuk menjalani rumah tangga tanpa restu. Lalu bagaimana menurut mu, Vanya? Apa kamu mau menikah dengannya?" Pak Herman ingin mengetahui jawaban dari Ghea yang sesungguhnya.


Bu Fara jadi teringat dulu dia bersimpuh seperti itu kepada ayahnya agar direstui menikah dengan ayahnya Ghea. Dia tau rasanya percintaan yang penuh perjuangan dan rasanya di tentang oleh ayahnya dulu, rasanya sangat menyakitkan. "Hmm... jika kalian menang saling mencintai mama merestui kalau kalian memang mau menikah."


Perkataan Bu Fara itu membuat semua yang ada disana terkejut mendengarnya.


Tentu saja Gibran tercengang sekaligus senang mendengarnya, begitu leganya dia, sungguh tak bisa menafsirkan rasa bahagianya itu. Dia tersenyum lebar penuh rasa bahagia.

__ADS_1


"Tapi saya harap kamu meminta restu dulu kepada ayahmu juga... " Pak Herman memberi saran kepada Gibran.


Gibran mengangguk, "Iya, Pak."


Gibran tersenyum lega menatap Ghea, dia melihat Ghea yang tersenyum malu-malu.


Mengapa aku jadi ikut senang? Bagaimana bisa aku menikah dengannya yang baru saja bertemu lagi dua kali setelah sekian lama kita tidak bertemu? Hati Ghea bertanya-tanya.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...

__ADS_1


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...


__ADS_2