
Karena letaknya kantor Once dan TVC Media gak begitu jauh, Reno selalu setia menunggu Arumi pulang di halte bis. Mereka menumpangi bus yang sama, kebetulan kursi disana banyak yang kosong jadi mereka kebagian tempat untuk duduk .
"Bagaimana? Apa mereka sudah bertemu?" tanya Arumi.
"Sudah, mungkin mereka sedang bersama. Kenapa gak bilang dari dulu kalau kamu sering komunikasi sama Ghea?"
"Hmm... Gue sudah terlanjur janji sama Ghea,yg penting kan sekarang gue udah bilang hehe.."
"Ini hampir empat bulan lho, Arumi."
"Ghea itu ternyata anaknya pemilik perusahaan Adva."
Reno memelototkan matanya, "Wah serius lu?"
"Mantannya Bram itu adiknya Ghea."
Reno semakin terperanjat mendengarnya "Tapi lu gak apa-apa kan.?"
"Gak lah, gue udah gak mikirin Bram lagi." kata Arumi sambil menguap, mungkin karena dia sangat lelah banyak pekerjaan, membuatnya ngantuk.
"Syukurlah, gue seneng kalau lu udah bisa move on dari... " Reno tak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba kepala Arumi bersandar di bahunya, rupanya dia sudah tertidur. Membuat Reno jadi gugup sampai tangannya sedikit gemeteran.
Gak bisa gitu lu buka hati buat gue, Mi?
Perlahan Reno sedikit mencondongkan kepalanya untuk mencium Arumi yang sedang tertidur sampai bibir itu semakin dekat.
Dia tesadar dia tidak boleh mencuri kesempatan dalam kesempitan, Reno mengurungkan niatnya untuk mencium Arumi.
Gak, gak boleh. Gue gak boleh mencuri kesempatan dalam kesempitan
****************
Malam itu...
Hujan turun mengalir begitu deras, seakan menjadi saksi bisu bagaimana dua insan sedang di mabuk asmara, meluapkan seluruh rasa kerinduan mereka. Mereka masih saja saling bercumbu mesra menjelajahi di setiap rongga mulut mereka, walaupun yang satu mencoba untuk melepaskan diri, yang satu menahannya dengan kuat, namun tubuhnya berkata lain, sesungguhnya dia juga menikmati ciuman panas itu.
__ADS_1
Gibran menghentakan tubuh Ghea ke dinding, dia mengunci tubuhnya dengan kedua lengan kokohnya agar tidak berontak. Kedua bibir itu tak pernah dia biarkan terlepas, bibir manis yang begitu membuatnya candu, dia memagutnya tiada henti. Ghea mencoba untuk melepaskan pagutan itu tapi nihil. Tangan Ghea sudah dicekal dan dagunya sudah dipagut oleh Gibran.
Dia mendorongnya lebih dekat lagi dan memperdalam lu..ma..tannya pada bibir Ghea.
Gibran mencumbunya dengan penuh gairah. Membuat Ghea tak sadar memasuki pusaran gairah itu, bibir itu terasa hangat di sela-sela udara yang begitu terasa sangat dingin.
Gibran memberikan gigitan-gigitan kecil di dalam ciuman itu, ketika bibir Ghea terbuka tidak segan-segan lidahnya masuk menelusuri seluruh bagian mulut Ghea. Tangannya mulai bergerak pada tubuh Ghea.
Gibran mempererat dekapannya, menenggelamkan kepalanya ke lengkukan leher Ghea, menghirup wangi aroma tubuhnya dalam-dalam. Tubuh Ghea bergetar hebat merasakan kecupan itu dilehernya. Seakan dia mulai ikut terhanyut di setiap sentuhan yang dia rasakan. Gibran menyatukan kembali kedua bibir itu. Namun tetap saja rasa rindu masih menggebu semakin ingin menjelajahinya lebih luas.
Sampai mereka tidak sadar bahwa kini telah berada di tepi kasur. Gibran memang sering tidur di kantor miliknya karena itu disana ada tempat khusus untuk tidur. Di bagian belakang kantor.
"Gibran .... mmmphhh... " Ghea mencoba protes, namun Gibran tak membiarkannya berbicara, ia tiada henti memanggut bibir manis itu. Tengan kekarnya melingakari punggung Ghea dengan kuat.
Oh No... Kita tidak boleh seperti ini.
Sungguh hanya wanita ini yang membuatnya menggila seperti ini, bahkan jika ada wanita lain telanjang di depannya pun tidak akan mempan untuknya. Hanya Ghea yang berhasil menerobos memasuki relung hatinya.
Ghea mencoba melepaskan diri dari lelaki yang sudah dirajai rasa rindu yang menyiksanya itu. Sampai kedua tubuh itu terhempas ke atas kasur yang empuk.
Gibran memagut kembali bibir Ghea yang berada di bawahnya dengan nafas berderu, dan melu...mat.. nya dengan habis. Ghea mengigit bibir Gibran dengan keras sehingga ciuman itu terlepas.
"Kamu mau apa sih? Lepaskan!" Ghea mencoba protes dengan segala perasaan yang ada di benaknya... takut, cemas, rindu, cinta, gairah, naf-su, semuanya dia rasakan.
Namun Gibran memeluknya dengan erat "Tidurlah disini!"
"Apa? Kamu gila ya! Kita belum menikah!"
Gibran tersenyum geli dengan nafas tersenggal-senggal seperti menahan sesuatu yang sangat mendesak tubuhnya "Baiklah aku akan menikahimu secepatnya, jadi aku akan menahan gairahku sampai kita menikah nanti."
"Bu-bukan begitu..." Ghea mencoba untuk bangkit , namun Gibran menariknya hingga Ghea tertidur disampingnya kembali.
"Aku tidak akan macam-macam asal kamu diam!" Gibran menghentakan tubuh Ghea semakin merapat padanya, wajah Ghea berada di dada bidang Gibran yang masih dibaluti kemeja putih yang kancing sedikit terbuka, terdengar suara detak jantung Gibran berdetak dengan begitu keras.
"Kenapa kamu selalu memaksaku?"
__ADS_1
"Jika aku tidak begitu, sulit untuk mendapatkanmu!" Gibran semakin memperat pelukannya.
Sekarang aku harus apa? Jika aku mencoba pergi apa dia akan nekad melakukan itu padaku. Tenggorokan Ghea terasa sangat kering memikirkannya.
Sebenarnya ciuman malam ini membuat sekujur tubuh Ghea terasa begitu panas, tapi akal sehatnya selalu mengalahkan hasratnya, dia ingin melakukannya dalam ikatan pernikahan.
Apalagi Gibran saat ini dia pasti lebih tersiksa menahan sesuatu desakan di dalam dirinya, ya sebuah gairah cinta yang begitu dalam untuk wanita yang ada di dalam dekapannya itu. Namun dia harus menahannya, demi Ghea.
****************
Pagi menyapa dengan cahaya matahari membiaskan cahaya ke lorong ruangan itu, Ghea perlahan-lahan membuka matanya, dia terkejut begitu menyadari dia sedang berada di atas kasur yang terasa asing buatnya.
Dia tersadar semalam dia tidur didalam dekapan Gibran.
Akh... Dia memegang kepalanya. Dia merasa lega seluruh pakaiannya masih utuh tak meninggalkan satu helai kainpun.
Mengapa aku bisa tertidur dengan situasi menegangkan seperti itu?
Ghea keluar dari ruangan yang dijadikan kamar oleh Gibran, ruangan itu terletak di bagian paling belakang kantor. Dia berjalan perlahan-lahan agar tak terdengar oleh Gibran, namun tak sengaja dia berpapasan dengannya.
Pagi itu tubuh Gibran hanya di baluti handuk saja dari pinggang sampai ke pahanya. Sepertinya dia habis mandi.
So sexy... begitu terlihat otot-otot perut yang kekar itu, membuat Ghea terbelalak memelototkan matanya dengan melebar. Menelan saliva berkali-kali.
Gibran hanya bisa nyengir melihat reaksi Ghea seperti itu, "Bersabarlah sebentar, semua ini milikmu nanti." dia malah meledeknya sambil memasuki ruangan yang dijadikan kamarnya itu.
Ghea baru menyadari perkataan Gibran yang tadi, dia ingin meluruskan pemikirannya namun Gibran sudah terlanjur masuk ke dalam, dia tidak mungkin ikut masuk juga, sangat berbahaya baginya. Ini kesempatan untuknya melarikan diri, dia tidak mungkin datang ke lokasi syuting dengan penampilan seperti itu, setidaknya dia harus mandi dan berganti pakaian.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...