
"A-aku... aku akan menikah, Arumi." Bram mengatakan hal itu dengan begitu gugup sampai dia mengeluarkan banyak keringat.
Arumi mengernyitkan keningnya, "Menikahi bagaimana maksudnya? Kamu mau menikahi ku?"
Bram menggeleng, dia mencoba mengatur nafas untuk bisa berbicara lebih jelas dengan Arumi, "Aku minta maaf, sebelum mengenal kamu, sebenarnya aku sudah punya pacar dan... dan sebentar lagi kita akan menikah... "
Perkataan itu membuat Arumi tersentak kaget bukan main, seperti tersambar petir, bagaimana bisa lelaki yang sangat dicintainya itu tega melakukan itu padanya.
PLAAKKK!!
Tamparan itu membuat Bram berhenti bicara. "Kamu sudah tau akhirnya aku yang akan tersakiti tapi kamu berani mendekati aku?!" Arumi mengatakannya dengan nafas terengah-engah, tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja, dia begitu sangat marah.
Bram menggelengkan kepala, "A-aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti kamu."
Arumi mengusap air matanya, rasanya sungguh terasa pedih, hubungan yang dia jalani selama empat tahun bersama Bram itu sia-sia padahal dia sudah jadi seorang kekasih yang sangat setia kepada Bram.
"Lebih baik kamu pergi dari rumah ini! Aku gak mau lihat muka kamu lagi!"
"Arumi... "
Arumi tak ingin menjelaskan apapun, dia segera masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu dengan keras.
BUGH!
Bram mencoba mengedor-gedor pintu itu, "Arumi, tunggu dulu dong! Kita harus bicara! Arumi!"
Arumi menangis sejadi-jadinya di dalam rumah karena dia tau di rumah itu tidak ada siapa-siapa. Arumi sudah yatim piatu, dia sudah jadi anak yatim dari SD karena itu Reno selalu siap siaga melindunginya, dan ibunya meninggal tiga tahun yang lalu.
Rasa sakit begitu menyayat hatinya, air mata mengalir deras seakan dia merasakan pedihnya seperti darah sedang menetas. Begitu sesak sampai Arumi memukul-mukul dadanya.
Akhirnya Bram memutus untuk pergi membiarkan Arumi menenangkan hatinya. Namun saat dia membuka pintu mobil, tanpa di duga ada seseorang meninju wajahnya dengan keras.
BUGH...
__ADS_1
"Bajingan lu! Brengsek!" Reno seperti sedang kerasukan setan.
Gibran berusaha menahan tubuh Reno agar tidak terjadi perkelahian diantar dua sahabatnya itu "Tahan No! Tahan! Lu jangan emosi kayak gini..."
Reno tak mendengarkan ucapan Gibran dan melepaskan tangan Gibran yang menahannya dengan kasar, dia terus melangkah lagi melayangkan tinjunya kembali ke Bram .
BUGH..
"Berani-beraninya lu nyakitin Arumi, heuh?! "
Bram terpancing emosi sehingga dia juga membalas pukulan keras dari Reno itu.
BUGH..
Sampai akhirnya mereka jadi saling adu jotos lagi. Gibran jadi kewalahan menghadapi mereka.
BUGH.. BUGH.. BUGH..
Namun perkelahian itu sulit untuk dipisahkan.
"Ini hukuman lu karena sudah nyakitin Arumi!"
BUGH..
"Harusnya lu gak usah ikut campur urusan gue dan Arumi!"
BUGH...
Gibran tidak tau harus berbuat apalagi untuk memisahkan mereka, tenaga mereka begitu kuat karena didorong dengan amarah yang menggebu. Akhirnya Gibran menonjok muka kedua sahabatnya itu satu-satu.
BUGH... BUGH...
"Gue bilang berhenti! Jangan berkelahi lagi!"
__ADS_1
Bram tak terima, dia membalas pukulan Gibran.
BUGH...
"Lu pikir lu udah hidup bener ! Hidup lu lebih ancur dari gue!"
Yang pada akhirnya mereka bertiga saling pukul memukul, saling melayangkan tinju mereka sampai mereka kelelahan. Ya seperti itulah uniknya persahabatan mereka.
Gibran, Reno dan Bram merebahkan badannya di kamar Reno, kebetulan ayahnya Reno sudah tidur jadi mereka tidak ditanya ini itu dengan kondisi muka mereka yang pada bonyok.
"Gue gak akan membela diri gue, karena gue yang salah. Gue sudah pacaran lama dengan Kia. Gue gak cerita sama kalian karena kita jarang ketemu, menjalani long distance itu membuat gue jenuh. Dan gue jatuh cinta pada Arumi saat pertama kali melihat dia. Jujur aja gue berat buat berpisah dengan Arumi. Tapi gue harus memilih Kia yang setia dari dulu sama gue. " Bram berbicara begitu dengan nafas terengah-engah.
"Seharusnya lu gak usah minta gue buat mengenalkan Arumi, brengsek!" Reno masih tak terima Bram membuat Arumi terluka.
Gibran yang posisinya berada di tengah-tengah berusaha menjadi penengah juga "Saran aja gue buat lu Bram, kalau memang pilihan lu itu adalah tunangan lu, lu harus mantapkan hati lu betul-betul. Jangan sampai tunangan lu bernasib sama kaya' Ghea ."
Bram pun terdiam mendengarkan ucapan Gibran itu.Ya betul dia harus bisa mencintai Kia dengan sepenuh hati.
"Dan elu Reno, gue gak minta lu buat maafin Bram. Tapi lu harus jaga Arumi dengan baik, saat ini Arumi butuh lu, sahabatnya. "
Begitu juga Reno, dia juga terdiam juga. Memang betul, Reno harus setia mendampingi masa-masa yang sulit dan menyakitkan buat Arumi.
Persahabatan mereka sudah begitu lengket dari kelas satu SMA, walaupun Gibran sudah jarang komunikasi dengan mereka karena kuliah di Amerika , dan Bram sibuk dengan pekerjaannya. Juga Reno yang kadang gak percaya diri saat bersama mereka karena kehidupannya yang gak setara. Tapi sesalah apa pun mereka, saat mereka berada dititik terendah pun mereka tidak berniat untuk mengakhiri persahabatan itu.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...
__ADS_1