
Romi pergi ke kamarnya, dia melihat Ghea yang sedang mengemas seluruh pakaiannya ke dalam koper, malam itu juga untuk sementara dia akan tinggal di panti asuhan.
Romi berusaha untuk mencegahnya pergi, "Ghea, jangan seperti ini dong! Aku minta maaf!"
Ghea tak menggubris ucapannya. Sikapnya begitu dingin dan datar.
Romi memegang kedua pundak Ghea "Maafkan aku! Aku baru sadar ternyata selama ini aku menyia-nyiakan kamu, selama ini aku bukan suami yang baik buat kamu. Aku akan memutuskannya demi kamu! Aku akan berubah!" Romi mengatakan itu dengan matanya yang berkaca-kaca.
Ghea melepaskan kedua tangan Romi itu dan menatap dingin kepadanya "Jangan berani menyentuhku!"
"Ghea... "
Ghea sudah selesai mengemasi barangnya, dia segera pergi menarik koper itu. Romi masih berusaha mencegahnya.
"Tolong beritahu aku bagaimana caranya agar aku bisa memperbaiki semuanya! Jangan pergi seperti ini!" Romi tidak merasa malu untuk menangis.
Bu Rosa menahan badan Romi, "Ya sudah lah Romi jangan merendahkan kamu seperti ini. Dia sudah tidak mau lagi dengan kamu!" Bu Rosa sangat kecewa karena Ghea memilih untuk berpisah dengan Romi.
Sikap dan penyelasan Romi sama sekali tidak membuatnya luluh. Ghea segera masuk ke dalam mobil yang sudah standby dari tadi di halaman rumah, supirnya Pak Reza pun segera menjalankan mobil itu.
"Ghea!" Romi masih menangis.
Dia sama sekali tidak tau akhirnya akan begini, terlambat menyadari tentang perasaannya itu. Ternyata begitu menyakitkan melihat sang istri pergi meninggalkannya.
Disepanjang perjalanan Ghea berusaha untuk tetap tegar, dia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ini adalah keputusannya, dia harus siap menghadapi semuanya ke depan nanti.
Mobil itu pun berhenti di depan panti, Ghea menurunkan koper nya itu dari dalam mobil. Dia melihat ada Bu Reni yang berdiri disana sedang menunggunya seakan dia tau apa yang sedang terjadi padanya malam ini.
"Ghea!" Bu Reni memeluknya dengan terisak "Ibu minta maaf, ibu tidak tau kamu tertekan seperti ini. Ini semua salah ibu yang selalu mengingatkanmu untuk membalas semua kebaikan Pak Reza."
Ghea mengernyitkan keningnya penuh tanda tanya, dia tidak mengerti kenapa Bu Reni tau semua itu.
Bu Reni tau apa yang ada dipikiran Ghea saat ini. "Ada Pak Gibran di dalam, dia sedang memberikan hadiah untuk anak-anak."
Ghea terkejut mendengarnya, mengapa Gibran tau dia akan ke panti? Ghea segera masuk ke dalam, dia melihat anak-anak sangat terlihat bahagia menerima mainan yang diberikan Gibran.
"Makasih ya om!" kata para anak panti itu dengan kompak.
__ADS_1
Gibran tersenyum simpul, "Sama-sama," dia menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Gibran segera membalikan badan, "Ghea!?" sapanya dengan lembut.
"Ayo kita bicara!" Ghea ingin berbicara empat mata dengan Gibran, dia mengajak Gibran berbicara di halaman belakang panti.
Gibran jadi teringat dulu mereka main di tempat itu, bedanya sekarang sudah ada kursi buat duduk dan lahannya dulu masih berupa tanah, tapi sekarang sudah di paving block. Mereka duduk di kursi panjang itu.
"Aku dengar ayah menyetujui permintaan kamu untuk bercerai dengan kak Romi, karena itu aku kemari, aku tau tujuan kamu pasti ke sini."
Rupanya Gibran tidak tau kalau Pak Reza menyuruh Ghea pergi juah ke tempat yang tak bisa Romi dan Gibran menemukannya, dia begitu karena ingin melindungi keutuhan keluarganya.
"Dulu kita bermain disini ya!" Gibran memperhatikan lingkungan di halaman belakang panti itu.
Ghea mengangguk, "Iya,"
"Tapi kamu tidak akan berhenti jadi asistenku kan?"
Ghea hanya tersenyum kecut, itu artinya dia memang akan berhenti jadi asistennya. Gibran mencoba mengerti dengan semua itu.
"Aku mengerti ayahku memang kadang dia bersikap baik seperti malaikat, kadang dia juga bersikap kejam tak punya hati. Tapi aku harap kamu jangan menghidariku, aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."
"Apa rencana kamu setelah mendapatkan gelar janda nanti?" tanya Gibran dengan candaannya.
Ghea tidak ingin bersikap jutek lagi pada Gibran di hati pertemuan terakhirnya. Apalagi terpancar kebahagiaan di wajah Gibran saat ini.
Ghea tertawa kecil mentertawakan dirinya sendiri, "Terasa aneh bukan? Orang lain memiliki cita-cita yang tinggi pastinya , sementara aku malah ingin bercita-cita menjadi janda. Sampai rasanya aku bermimpi meraih gelarku itu. "
Gibran tersenyum lebar melihat sikap Ghea yang menjadi seceria itu, "Tapi sayangnya itu hanya sementara, kamu akan mendapatkan gelar istri lagi setelah kalian bercerai nanti, menjadi istri Gibran Bastian Adelardo."
Ghea mengalihkan pembicaraan Gibran, dia melihat luka lebam di wajah Gibran yang tampan itu, dengan luka lebam seperti itu pun tetap saja tidak mengurangi kadar ketampanan Gibran, dia memang selalu terlihat menawan.
"Sepertinya luka kamu belum di obati?"
Gibran memegang pipinya yang membiru, "Oh ini, tidak apa-apa kok. Nanti juga sembuh sendiri."
"Kamu tunggu disini! Aku akan mengobati lukamu!" Ghea berkata seperti itu sambil pergi untuk membawa salep luka.
Tak lama hanya dua menit saja Ghea sudah sampai disana lagi, dia duduk di sebelah Gibran dan mengolesakan salep ke jari telunjuknya. Ghea mencondongkan badannya dan fokus mengoleskan salep itu ke pipi Gibran yang lebam.
__ADS_1
"Shhh.. a-a-akh pelan-pelan dong!" protes Gibran. Dia merasa kesakitan saat tangan Ghea menyentuh wajahnya.
Ghea tak menggubris protesnya itu, dia masih fokus mengoleskan salep di pipi Gibran itu.
Gibran memandangi wajah Ghea yang masih fokus mengobati luka di wajah Gibran, darahnya berdesir saat tangan yang halus itu mengoleskan salep di sudut bibir kirinya, sehingga kedua mata mereka bertemu dan mengunci mereka.
Ghea jadi salah tingkah, dia memilih untuk menegakkan kembali badannya menghindari Gibran.
Namun Gibran menarik tangannya sehingga wajah mereka semakin dekat. Ghea terbelalak dengan perlakuan Gibran, jantungnya berdetak kencang tak terkendali. Gibran masih menatap matanya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Ghea."
Namun tak ada jawaban terucap dari bibir manis Ghea. Dia tau akan seperti itu, tapi dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Ghea.
Gibran mengecup kening dengan lembut.
Ghea membulatkan matanya saat merasakan sentuhan lembut dikeningnya, sangat membuatnya terasa begitu nyaman, namun dia tersadar dia tidak boleh begini bersama Gibran, dia berusaha melepaskan diri namun Gibran menangkup wajahnya dan langsung menyatukan kedua bibir itu.
Ghea terpaku saat merasakan sentuhan lembut itu lagi di bibirnya. karena tak mendapatkan balasan dari ciuman itu Gibran menggigit sedikit bibir Ghea memancingnya agar membuka mulutnya sehingga dia bisa mempedalam ciuman itu, menerobos memasukan lidahnya, menikmati di setiap sudut bibirnya yang lembut itu.
Ciuman itu sungguh membius kesadaran Ghea, mungkin ini bisa saja adalah ciuman terakhir dan pertemuan terakhir mereka. Kini nalurinya bergerak menuntunnya secara perlahan membalas ciuman itu membuat Gibran menyunggingkan seulas senyuman di sela-sela ciuman itu dan memperdalam ciumannya lagi. Bahkan tangannya kini mulai memeluk punggung Gibran yang V-shape itu.
Saling memanggutkan bibir.
Saling memainkan lidah.
Setelah itu dia memeluk Ghea dengan erat, "Jangan pernah mencoba menghindariku atau pergi jauh dariku, karena aku pasti akan mencarimu kemana pun kau pergi."
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...
__ADS_1