
"Akh... Gibran!" Ghea ingin memprotes apa yang dilakukan Gibran itu, membuatnya sangat geli dan menggeliat.
"Ayo terus mendesah sayang! Aku suka! " Gibran semakin senang jika mendengar suara desahannya membuatnya semakin bersemangat untuk melanjutkan aksi bi-ra-hinya.
Gibran masih ingin menikmati dua bulatan itu, dua buah benda asing yang indah dan baru berkenalan dengannya malam ini, dia terus menghisap di bagian puncaknya dan melu-mat-nya.
Kini mulutnya mulai menyerang bagian ceruk leher Ghea menghujaninya dengan kecupan demi kecupan panas, seluruh jiwa Ghea terbang melayang membawa seluruh hati dan perasannya sampai sebuah desa-han itu lolos lagi keluar dari mulutnya, "Akh..." Begitu malunya Ghea saat ******* keluar lagi.
Gibran tersenyum puas, dia telah berhasil membuat Ghea terlena oleh setiap sentuhan olehnya, dia kembali mencium bibir Ghea, dan membiarkan tangannya berkelana menyentuh seluruh bagian tubuh yang mulus itu, memuja keindahan di setiap lekuk tubuhnya .
Kemudian jemarinya bergerak ke bawah dan menyelinap masuk ke dalam kain yang masih di pakai Ghea dibagian bawah tubuhnya, jemarinya perlahan-lahan menulusuri kelembutan di pangkal paha, dan berhasil menyentuh sesuatu yang sangat lembut dan lembab hingga keduanya sama-sama membelakan matanya karena sentuhan itu.
Melihat reaksi Ghea yang sudah semakin hanyut dan begitu menikmati sentuhannya, Gibran jadi ingin membuat Ghea semakin terpedaya olehnya, dia segera membuka semua kain yang menutupi area bagian bawah tubuh Ghea.
Tubuh polos Ghea kini terpampang begitu nyata, Gibran tertegun menatap tubuh Ghea yang putih dan mulus, sangat indah! Sungguh begitu indah dan mempesona sampai membuat gairahnya semakin tersulut oleh api bira-hi.
Wajah Ghea begitu sangat merah merona saat Gibran memperhatikan tubuh polosnya, dia meraih selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya,sungguh membuatnya malu. Dia seorang janda yang begitu sangat polos dan lugu.
"A-aku malu!" Ghea mengerutkan keningnya.
Gibran tertawa geli, "Bagaimana bisa kita bermain kalau semua tubuhmu kamu tutupi?"
Gibran menarik selimut itu, tubuh Ghea kembali polos, Gibran memberikan kecupan demi kecupan di mulai dari rambut Ghea, lalu mengecup wajah cantiknya, mengecup bibirnya, kemudian turun ke lehernya membuat Ghea menggerinjal kegelian, dia kembali mengu-lum bagian pucuk bulatan indah di dada Ghea membuat Ghea mendesah dan mendesah lagi.
******* itu semakin menjadi-jadi saat kecupan itu menghujani perutnya, Gibran sungguh menbuatnya tak berdaya dengan semua kenikmatan yang dia berikan kepadanya.
Kini kecupan itu turun ke paha dan terus menelusuri ke bawah sampai ke ujung kakinya yang bersih, Ghea pandai merawat dirinya, hingga seluruh tubuhnya terlihat begitu sangat indah dan mempesona.
__ADS_1
Kecupan itu naik lagi menelusuri betis jenjangnya dan sampai ke paha, kini matanya terfokus ke bongkohan indah yang terletak di antara dua paha, dia mencoba untuk mengecupnya dan bergerilya disana membuat angan Ghea semakin terbang mendayu-dayu tak tentu arah
Ghea merengek karena dia merasakan kegelian dibawah sana sampai dia menggeliatkan badannya beberapa kali, "Ughh... geli! Hentikan Gibran!" Dia berdenyut hebat merasakan basahnya bibir Gibran saat me-lu-matnya.
Ghea mendesah beberapa kali. Membuatnya menggila merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dia menahan sesuatu yang lolos keluar dari area sensitifnya.
"Akh... " Rupanya dia telah mencapai pelepasan pertamanya.
"Kau menikmatinya, sayang?" tanyanya dengan tersenyum puas.
Gibran membuka seluruh kain yang menutupi tubuhnya dan memposisikan dirinya diantara kedua kaki Ghea dan menekannya ke dalam hingga membuat Ghea hampir menjerit menahan kesakitan dibawah sana.
"Sakittt... "
Shhttttt...
Gibran yang baru pertama melakukannya merasa kesulitan untuk menerobos pertahanan itu semakin dalam, dia mencoba menekan lebih dalam lagi.
Kali ini dengan hentakan kuat membuat dinding itu terkoyak, membuat Ghea semakin meringis menahan perih seperti merasakan ada yang robek dibawah sana.
"Ahhhtt... Gibran sakitttt... " Dia memeluk erat tubuh Gibran menahan rasa sakit dan perih di bawah sana, sampai dia mencakar punggung Gibran dan menggigit bibirnya menahan rasa sakit saat benda itu menerobos masuk ke dalam dirinya.
"Tahan sebentar! Sakitnya hanya sebentar sayang... "
Jiwa Gibran begitu terbang melayang saat merasakan dirinya terbenam sempurna di dalam diri Ghea sampai dia sedikit menengadah ke atas, sungguh sebuah kenikmatan yang luar biasa, yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya, denyutan dari Ghea membuatnya semakin terbang bebas menggapai cakrawala.
"aku akan melakukannya dengan pelan agar kamu tidak kesakitan lagi." katanya dengan nafas terengah-engah karena merasakn begitu nikmatnya denyutan saat miliknya berada di dalam diri Ghea.
__ADS_1
Gibran menggerakkan pinggul kekarnya dengan pelan agar Ghea tidak begitu kesakitan, lalu dia menghentakan lagi dan menghujamnya lagi dengan dalam hingga kedua tubuh itu saling terkoneksi menikmati tiap hentakan yang berirama.
Ghea mencoba memeluk tubuh kokoh itu menahan setiap pompahan mengguncang tubuhnya. Rasa sakit itu pun berubah menjadi sebuah kenikmatan tiada tara disetiap hentakan demi hentakan menghujami tubuhnya.
Gibran begitu kuat menguasai tubuhnya membuat mereka memandikan peluh keringat, saling bertukar saliva, sampai pelepasan demi pelepasan terjadi di dalam diri Ghea. Membuatnya terpekik tak berdaya terombang-ambing oleh sensasi yang luar biasa dia rasakan di bawah perutnya.
Hampir berjam-jam mereka melakukannya, Gibran menghentikan pergerakannya setelah terjadi pelepasan di dirinya dan keduanya sama-sama mengerang begitu sangat menikmati betapa nikmatnya saat merasakan gelombang hangat keluar dari milik mereka secara bersamaan.
"Arghttt.... " Gibran yang mengerang saat mengeluarkan benih cintanya di dalam diri Ghea.
Gibran melepaskan diri, Gibran melihat ada bercak darah di seprai sebuah bukti bahwa Ghea telah menyerahkan sesuatu yang paling berharga untuknya, Gibran memindahkan tubuhnya di samping Ghea dan menarik selimut menutupi tubuh mereka dan merengkuh tubuh Ghea untuk tidur ke dalam pelukanya.
Gibran mengecup kening Ghea dengan lembut.
"Kau, hatimu, dan semua yang ada di dirimu kini menjadi milikku sekarang! Dan aku juga milikmu seutuhnya!" Katanya sambil mempererat pelukannya. Dan Ghea juga membalas pelukan itu, dada bidangnya sungguh membuatnya merasa nyaman.
...****************...
...Vitamin di pagi hari dari author 😁😁...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...
__ADS_1