Gairah Cinta Adik Ipar

Gairah Cinta Adik Ipar
Paralayang


__ADS_3

Siang ini, proses syuting iklan Jaket Mountain Adva itu di lakukan di lokasi Bukit Paralayang. Keadaan cuaca dan kecepatan angin disana sangat mendukung untuk berlangsungnya proses syuting hari ini.


Sudah banyak para kru yang hadir disana, termasuk Ghea yang ingin melihat langsung proses pembuatan iklan itu.


Ternyata wanita yang berjubah jas waktu di rumah makan tirai bambu itu memang Ghea. bisik hati Gibran begitu dia melihat wajah Roy. Apalagi dia sudah tau dari Reno kalau Ghea itu anak dari pemilik perusahaan Adva, dan namanya di ganti menjadi Vanya.


Gibran duduk di dekat sutradara Sam untuk mengemukakan konsepnya seperti apa, sementara Ghea sibuk mengurus Roy beserta managernya, dia yang memilih sendiri jaket dan warna yang mana yang cocok untuk dipakai tubuh Roy yang atletis itu. Karena dia ingin jaket mountain Adva itu terlihat begitu sempurna di tubuh atletis Roy.


"Wah aku tegang sekali, sudah lama aku tidak berparalayang!" Roy terlihat gugup.


"Aku yakin kamu bisa, atau mau pakai peran pengganti saja saat berparalayang nanti?" Ghea harus memperhatikan keselamatan brand ambassador Adva itu.


"Oh tidak, rasanya malu sekali kalau harus memakai peran pengganti. Aku pasti bisa, dengan satu syarat?"


Ghea menghela nafas, "Apa?"


"Ayo kita berkencan!"


"Syarat seperti itu tidak ada dalam pekerjaan kita." tegas Ghea.


Gibran dari tadi terus memperhatikan mereka, hatinya begitu terasa panas, namun dia tidak boleh merusak proses syuting ini.


"Memang tidak ada dalam pekerjaan, tapi ini dari hati, aku akan menunggu jawabanmu setelah berparalayang nanti. Saat aku berada di atas aku aku berbisik pada Tuhan kalau kau lah yang harus jadi jodohku!" Kata Roy dengan sungguh-sungguh.


Gibran mual mendengarnya.


Ghea tak menanggapi ucapan Roy, dia malah mengalihkan pembicaraan "Nah mending kamu pakai jaket yang ini saja, ini cocok untukmu," Ghea memperlihatkan jaket mountain berwarna abu.


"Saingan lu berat banget bro!" Reno menepak punggung Gibran, agar Gibran bisa tabah.


"Hhh... " hanya itu jawaban Gibran dengan kesal menatap sangar kepada Roy seakan mau mencakarnya.


Dan syuting pun di mulai...


"Camera... Rolling... Action...!"


Semua kamera tertuju pada sosok lelaki yang menjadi salah satu aktor tertampan itu.


Roy berjalan santai di depan kamera yang fokus mengikuti pergerakannya, dia tersenyum menggoda ke kamera, sebuah senyuman yang membuat para kaum hawa jatuh cinta kepadanya, makanya tidak heran jika fansnya 90 % wanita yang mendominasi, dia memamerkan tubuh atletisnya di depan kamera, lalu mensleting jaket yang dia pakai sampai tubuh atletis itu tertutupi dengan jaket mountain Adva.


"Oke Cut!"


Gibran melihat tayangan ulang ackting Roy itu, actingnya memang tidak di ragukan lagi.

__ADS_1


"Gimana?" tanya sutradara Sam.


"Cukup!"


Part pertama sukses... sekarang yang kedua...


Seluruh kamera sudah standby, salah satunya beberapa kamera drone yang sudah beterbangan di atas sana.


Roy dibantu kru menggunakan helm dan flight suit, dan pasangkan parasut juga.


Beberapa kali dia tersenyum dan mengedipkan mata ke Ghea untuk membuatnya rilex.


Gibran hanya bisa membatin melihatnya karena Ghea begitu sangat memperhatikannya, maklumlah mungkin karena dia brand ambassador Adva!


Selalu saja ada penghalang lagi diantara kita, namun aku tidak akan menyerah. bisik hati Gibran


"Camera... Rolling... Action!"


Roy berlari dengan cepat sampai parasut itu terbentang, membiarkan tubuhnya melayang di udara dan berhasil diabadikan di dalam kamera aksi yang menakjubkannya itu. Dan akhirnya dia semakin terlihat jauh dari lokasi syuting.


Ini kesempatan untuk Gibran mendekati Ghea, "Apa kamu mau berparalayang juga?"


"Aku tidak berani!"


Ghea sebenernya penasaran, tapi dia ingin menjaga jarak dari Gibran. Dia masih terlihat gugup mengingat ciuman panasnya semalam, apalagi mereka tidur bersama walaupun tidak melakukan apa-apa tapi rasanya berdebar-debar mengingatnya.


Tanpa menunggu persetujuan Ghea, Gibran memanggil kru paralayang dan meminta formulir, dia meminta Ghea untuk mengisinya. "Tolong isi ini!"


Ghea mendeliki Gibran "Aku belum menyetujuinya!"


"Lihat itu para kru sudah menunggu kita, masa tidak jadi? Aku sudah membayarnya!"


"Hhh... " Ghea terpaksa mengisi formulir itu.


Kita hanya bermain paralayang saja, tidak apa-apa.


Gibran tampak senang melihatnya, dia memperhatikan Ghea yang sedang mengisi formulir.


Para kru pun membantu Ghea dan Gibran memakai helm dan flight suit sebelum parasut itu di pasang.


"Kau tidak boleh tegang, kan ada aku!" Gibran menyemangatinya. Gibran berdiri di belakang Ghea yang hanya bersekat flight suit yang berbentuk seperti ransel besar.


Gibran memberi aba-aba pada Ghea untuk berlari bersama, keduanya pun berlari kecil menuju ujung landasan terbang. Sampai tubuh mereka terangkat dan terbang...

__ADS_1


"Wah!" Ghea sedikit ketakutan, jantungnya seperti sedang dihantam dengan sebuah benda dengan keras.


Gibran mencoba untuk menenangkan Ghea, "Coba penjamkan matamu sebentar lalu menarik nafas dalam-dalam ,setelah itu lihat ke bawah sana, pemandangannya sangat indah!"


Ghea menurut semua yang diperintahkan Gibran, dia memejamkan mata sambil menghirup udara, lalu menghembuskannya kembali, dia perlahan-lahan melihat ke bawah sana.


Ghea melihat sebuah perkebunan yang terhampar begitu luas dan bahkan pepohonan dibawah sana seperti miniatur kecil, sangat indah! Pemandangan indah itu mengurangi rasa takutnya.


Bahkan hembusan angin memberikan rasa kesegaran, menerpa wajah, Ghea tersenyum menikmati kegiatan paralayang bersama Gibran yang dari tadi memperhatikan Ghea dari belakang.


"Indah sekali!" Ghea begitu menggagumi indahnya ciptakan Sang Penguasa.


Dia sudah tidak peduli lagi sedang bersama siapa sekarang ini.


Gibran hanya terdiam tak berhenti memandangi Ghea yang berada di depannya itu, dia penasaran bagaimana raut wajah Ghea yang terdengar sangat senang itu, sudah lama dia tidak melihat senyum manis wanita yang dicintainya itu.


"Ghea!"


Ghea menoleh ke belakang, "Apa?"


Dan Ghea mendapatkan kejutan lagi hari ini, secara tiba-tiba Gibran mengecup bibirnya sampai kedua bibir itu menempel dengan sempurna saat Ghea menoleh ke belakang, Ghea terkesima mendapatkan kecupan dadakan itu.


"Aku merindukanmu!"


Ghea tak menjawab ucapan Gibran itu, dia segera menghadapkan pandangannya ke depan lagi, sambil menggigit bibirnya dan mengerutkan keningnya, Gibran memang pandai mencuri ciuman darinya.


Sementara Gibran menyunggingkan seulas senyuman sambil memandangi pemandangan dibawah sana.


"Tuhan, tolong jodohkan aku dengan wanita ini!" Gibran mengatakan itu dengan lantang di atas sana sambil menengadah ke langit yang cerah.


Ghea terkejut mendengarnya, "Gibran!"


"Apa kamu sadar kenapa kita dipertemukan dari kecil? Sekeras apapun kamu menjauh dariku, kita pasti bertemu lagi! Karena apa? Karena kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Jadi jangan buang-buang waktu dan tenagamu untuk menjauhiku lagi!"


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...

__ADS_1


__ADS_2