
Setelah pulang dari kantor, Arumi dan Reno menumpangi Bus yang sama, mereka terpaksa berdiri karena kursi penumpangnya penuh.
Ternyata di depan mereka ada ibu hamil yang berdiri juga seperti mereka, sementara yang sedang duduk kebanyakan anak muda. Arumi merasa kesal melihatnya.
Dia menepak pundak pemuda yang sedang asik bermain game sambil duduk santai. "Mas, gak lihat apa? Ini di sebelah mas ada ibu hamil? Ayo mengalah dong!"
Reno hanya bisa nyengir melihat sikap Arumi, ya seperti itulah Arumi, wanita yang sangat disukainya.
Pemuda itu hanya mendelik, "Gak bisa! Suruh orang lain aja!"
Arumi jadi kesal di buatnya, dia sedikit berteriak, "Hei kalian gak malu apa membiarkan ibu ini berdiri sementara kalian enak-enakan duduk santai begitu?" Arumi mengatakannya sambil menujuk ibu hamil itu.
Tapi tak ada yang bergeming merasa tesentuh dengan ucapan Arumi itu.
Reno menunjuk seorang pemuda bertato yang tempat duduknya gak jauh dari mereka, "Nah elu, berdiri bro! Hadeehh malu lah sama tatto lu!"
Pemuda itu dengan kesal segera berdiri.
"Nah Bu ada kursi kosong, silahkan duduk!" Arumi menunjukkan kursi kosong pada bumil itu.
Bumil itu sangat berterimakasih sekali pada Arumi, "Makasih banyak ya mbak," Dia memang merasa pegal karena dari tadi berdiri.
"Sama-sama,"
Bumil itu dengan senang hati duduk di kursi kosong itu.
Reno menatap takjub pada Arumi.
Arumi dan Reno dulu disebut dua sahabat gesrek oleh teman-teman di sekolahnya. Mereka bersekolah di SD dan SMP yang sama. Tapi mereka bersekolah di SMA yang berbeda. Reno satu SMA dengan Gibran dan Bram kala itu, Reno tidak melanjutkan kuliahnya. Sementara Arumi dia dulu kuliah sambil bekerja dan bertemu Ghea waktu itu.
__ADS_1
Setelah turun dari Bus, Reno dan Arumi memutuskan untuk berjalan kaki karena jarak ke rumah mereka lumayan dekat.
"Kok lu gak bilang ke gue sih elu mau kerja di perusahaan Pak Gibran?" tanya Arumi, mereka lagi jalan beriringan menuju rumah mereka.
"Gibran nawarin kerjaannya juga secara dadakan,"
"Tapi gue seneng sih jadi ada temen buat berangkat bareng dan pulang bareng hehe.. "
Reno ikut nyengir juga, langkah mereka terhenti saat melihat Bram sedang berdiri di depan rumah Arumi. "Hai, No!"
Dia dan Bram saling mengadukan tinju, "Hai, bro. Kemana aja sih lu? Susah banget dihubungi?"
"Biasa, pekerjaan gue banyak, No."
Arumi hanya terdiam karena masih merasa kecewa sudah beberapa hari Bram tidak merespon pesannya.
"Udah tadi. Ada si Gibran tuh di rumah lu, kita habis ngobrol-ngobrol tadi di rumah lu."
Reno tercengang mendengarnya, dia pun segera pergi memasuki rumahnya. dia sudah terbiasa menahan rasa sakit hati begini setiap melihat Bram bersama Arumi, dia sudah tidak menganggap rasa sakit itu.
Reno melihat Gibran sedang main game bersama adiknya, dan ayahnya sedang memperhatikan mereka sambil menikmati martabak rasa coklat yang di bawa Gibran selain martabak ada juga makanan lainnya yang tesimpan banyak di meja.
"Hahaha... Gibran kalah terus!" Ayahnya mentertawakan Gibran yang dari tadi kalah melawan adiknya Reno.
"Muka lu kenapa, bro? Kok bonyok gitu?" Reno memperhatikan wajah Gibran. Lalu dia ikut memakan martabak bersama ayahnya.
"Biasalah, jagoan memang begini." jawab Gibran dengan santai. "Lah kok baru pulang sih? Ngadate dulu ya.." goda Gibran.
Reno tersenyum kecut, "Habis cari makan di luar dulu,"
__ADS_1
Malam ini Gibran menginap di rumah Reno, dia sewaktu SMA memang sering menginap disana karena sering bertengkar dan berkelahi dengan Romi, belum ayahnya yang lebih condong membela ke Romi dulu. Dia sudah muak dengan keadaan di rumahnya.
Gibran membaringkan tubuhnya di kamar Reno yang cuma tersedia kasur lantai yang lebar itu. "Sepertinya gue harus cari apartemen, gue sudah malas tinggal di rumah. Apalagi Ghea sudah tidak tinggal di rumah lagi."
Reno terbelalak mendengar ucapan Gibran, "Ghea minggat apa gimana? Gara-gara rekaman CCTV itu ya?"
Gibran terduduk kembali sambil nyengir, "Mereka mau bercerai,"
"Tapi bokap lu menyetujui permintaan Ghea gitu aja tanpa syarat apapun?"
"Syarat gimana maksud lu?"
"Ya siapa tau dia nyuruh Ghea apa gitu soalnya ... maaf ya... gue tau bokap lu itu galak banget, agak sadis juga."
Gibran termenung sebentar, "Biar nanti gue cari tau tentang itu."
"Emmm... Sebenarnya ada yang mau gue sampaikan tentang si Bram, dia nyuruh gue untuk membicarakan ini sama lu." Dengan ragu-ragu Gibran mengkatakan itu pada Reno.
"Aneh banget tuh anak, memangnya ada apa?"
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...
__ADS_1