
"Aku sangat merindukan bibirmu yang manis ini," Gibran mengatakannya dengan pelan seraya menyeringai lalu mencium lagi bibir wanita yang sudah sah jadi istrinya.
Hati Ghea masih bertanya-tanya dari mana Gibran tau kalau dia masih perawan? Tidak salah lagi pasti Arumi.
Gibran semakin menekan tubuhnya pada Ghea yang yang masih berdiri dan bersandar di dinding itu, semakin mengikis jarak diantara mereka. Dia masih ingin menikmati ciuman kerinduannya, meneroboskan lidahnya masuk mengabsen disetiap inci di dalam rongga mulut.
Ghea membalas ciuman itu dengan setiap emosi yang dia miliki. Begitu membuat sudut-sudut jiwanya bergelora.
Dia menelan saliva berkali-kali saat Gibran membuka kancing kemejanya satu-persatu sampai terlihat jelas otot-otot perut yang begitu terbentuk dengan sempurna, begitu indahnya tubuh yang maskulin itu. Gibran kembali me-lu-mat bibir Ghea, dia masih belum bisa lepas dari bibir manisnya sambil merengkuh pinggang Ghea membawanya kedalam pelukannya.
Begitu terasa hangat saat Ghea berada di dalam pelukan tubuh telanjang dada itu, Aroma tubuhnya begitu wangi. Kini bukan ciuman lembut lagi yang dia rasakan, tapi ciuman itu berubah menjadi ganas dengan nafas berderu Gibran me-lu-mat dan menjelajahi mulut Ghea sampai Ghea tidak bisa mengimbanginya dan hampir terjatuh, tangannya berpegangan pada sebuah punggung yang sudah telanjang itu.
Hingga terasa gesakan keras dibawah sana, rupanya sudah mulai terbangun, terangsang dengan ciuman panas mereka. Apalagi Gibran memeluknya begitu erat tak terhalang satu centimeter pun, sampai gesekan itu begitu terasa oleh Ghea, Ghea sedikit terbelalak kaget merasakannya.
Gibran tau saat ini Ghea sangat gugup, sama seperti dirinya, namun karena naf-su sudah mengusai dirinya rasa gugup itu sudah terganti dengan bi-ra-hinya yang menggebu, yang ada dipikirannya sekarang adalah ingin menjelajahi dan mengenal lebih jauh dari ujung kepala sampai ujung kaki di tubuh indah mantan kakak iparnya itu.
Dia memegang wajah Ghea dengan lembut tapi tatapannya sudah di penuhi dengan naf-su. "Jangan tegang! Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan!" Dia langsung membopong tubuh yang ramping itu dan membaringkannya di atas kasur yang lebar dan empuk.
Ghea sangat gugup saat tubuhnya berada di atas kasur, tempat yang biasanya dijadikan tempat untuk tidur dengan nyaman, kini kasur itu terasa begitu panas dan menegangkan.
__ADS_1
Gibran memposisikan dirinya berada di atas tubuh Ghea dengan kedua tangan sebagai tumpuan.
"Aku mencintaimu, Ghea. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu." Gibran mengatakan itu dengan nafasnya yang berat sudah di kuasai naf-su.
Ghea menatap dengan dalam lelaki yang berada di atasnya itu, "Aku... A-ku juga. " katanya dengan malu-malu, sedikit memejamkan matanya saat mengatakan itu.
Gibran tersenyum geli mendengar jawaban Ghea yang kurang jelas itu, "Aku apa?"
Ghea mencoba mengatur nafasnya dulu untuk mengucapkan lebih jelas perkataannya itu, "Aku juga mencintaimu, Gibran."
Hati Gibran terasa sedang di taburi bunga-bunga, dia semakin semangat untuk melanjutkan aksi bi-ra-hinya, dia kembali menyatukan bibirnya dengan wanita yang berada di bawah kungkungannya itu.
Dia tidak membiarkan tangannya berdiam diri, jemarinya mulai meraba-raba dengan lembut dan pelan menjelajahi di setiap lukuk tubuh indahnya Ghea.
Jemarinya mulai menyelinap masuk ke dalam baju Ghea, dia memegang salah satu bulatan bagian kiri aset berharganya, Ghea terpekik kaget saat menerima sentuhan didadanya, apalagi Gibran langsung memilin-milin bagian pucuknya.
Begitu terasa geli.... tapi tidak rela jika tangan itu menghentikan aksinya.
Untuk pertama kalinya Gibran menyentuh dua buah bulatan yang lembut itu, tapi sukses mumbuat bi-ra-hinya semakin memuncak.
__ADS_1
Gibran menyeringai melihat reaksi Ghea dengan wajahnya kini semakin merah merona sampai dia menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah.
"Ini baru satu sentuhan pertama, sayang." Bisiknya. Dengan cepat dia membuka baju yang di pakai Ghea, kini hanya terlihat satu helai kain saja di atas perutnya.
Gibran membulatkan matanya, melihat bagian perut Ghea yang rata, sangat mulus, putih dan bersih, membuat jakunnya naik turun silih berganti dan tangan itu perlahan membuka kain yang menutupi dua bongkahan indah hingga terlihat jelas betapa indahnya dua benda yang bulat dan kenyal di dada Ghea.
Gibran jadi ingin tau seperti apa rasanya, Gibran menjilatnya seperti sedang menjilati ice cream membuat Ghea kegelian dan mengerinjal seperti tersengat listrik menikmati sentuhan basah itu di dadanya.
"Akh.. Gibran!" Ghea ingin memprotes apa yang dilakukan Gibran, membuatnya sangat geli dan menggeliat.
"Ayo terus mendesah sayang! Aku suka!"
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...