
Saat itu Gibran mengetahui Kalau Adva sudah memutuskan kontrak dengan TVC Media dari Reno dan Reno tau berita itu dari Arumi, jadi ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan klien lagi, apalagi setara perusahaan berkelas seperti Adva.
Dia meminta Pak Herman untuk makan siang dengannya di sebuah restoran terkenal.
"Jadi Pak Gibran ini sudah pindah dari TVC Media ya?"
"Iya, pak."
"Bukannya TVC Media itu milih ayah pak Gibran sendiri?"
"Saya ingin mandiri, Pak. Ingin bekerja keras hasil usaha sendiri."
Pak Herman manggut-manggut, dia memang dari dulu mengagumi Gibran dan ingin bekerjasama dengannya lagi tapi dia bingung karena sudah tau semua masa lalu tentang Ghea dari Kia, karena Ghea sering berbagi cerita dengan Kia.
"Hmm... bagaimana yah?" Pak Herman berpikir sejenak. "Biar nanti saya pikirkan lagi ya"
"Iya, siap, pak. Saya harap kita bisa bekerjasama lagi." Setidaknya kata itu ada sedikit kesempatan walau cuma 1 %.
"Oke.. "
****************
"Apa ini, Mi?" tanya Ghea kepada Arumi, saat itu Arumi memberikan sebuah alamat perusahaan periklanan kepada Ghea.
Arumi tak langsung menjawab, dia lagi menyeruput dulu jus jeruknya, saat itu mereka sedang berada di Cafe. "Itu perusahaan Once, perusahaan itu kualitasnya bagus lho dalam periklanan dan promosi. Sebentar lagi kan Adva mau lounching produk baru ya."
"Hmm... iya sih, tapi kenapa kamu merekomendasikan Once kepada ku? Padahal kamu kerja di TVC Media!"
"Ya karena aku tau kamu gak mungkin mau berurusan lagi dengan TVC Media, makanya aku merekomendasikan Once, kamu tau kan aku sangat ahli dalam menilai kualitas iklan yang baik dan menarik."
Pekerjaan Arumi memang tidak di ragukan lagi.
__ADS_1
"Apalagi aku kenal sama pemilik perusahaannya."
"Hmm... ya sudah biar nanti aku cek dulu kesana."
Maaf Ghe, lama-lama aku tidak tega mendengar tentang Pak Gibran dari Reno. kata hati Arumi.
****************
Saat itu Ghea sedang menyetir mobil, dia memandangi sebuah kartu alamat once yang di berikan Arumi tadi. Dia rasa tidak ada salahnya dia mendatangi kantor Once hari ini juga karena kebetulan dia sudah mengunjungi beberapa perusahaan periklanan tapi tak ada yang cocok untuk di ajak kerjasama.
Perlahan dia memarkir mobil sedan berwarna merah itu di area parkiran. Dia berjalan dengan santai memasuki area kantor Once itu, ternyata Once bukan sebuah perusahaan besar bahkan luas kantornya pun berukuran kecil dibandingkan perusahaan-perusahaan lainnya yang dia kunjungi. Tapi buat Ghea tidak masalah, yang penting asal kinerjanya yang menjanjikan.
Tap... tap... tap...
Suara high heels terdengar begitu nyaring.
Ghea mengedarkan pandangannya memperhatikan area di sekitar kantor Once, begitu sangat sepi seperti kota mati bahkan tak terdengar suara nafas manusia disana , Apa Arumi tidak salah merekomendasikan Once kepadanya? Bagaimana kalau perusahaan ini tidak menjanjikan? Bagaimana kalau hasil iklannya nanti tidak memuaskan?
Ghea melihat ada seorang lelaki sedang tertidur dengan menengadah ke atas dan mukanya ditutupi buku sambil menyilangkan tangan.
"Permisi!" kata Ghea dengan sedikit meninggikan suaranya.
Namun pria yang tertidur itu tidak bergerak sama sekali bahkan suara nafasnya pun tidak terdengar.
"Dia itu tidur apa mati? Seperti mayat hidup?" Dia jadi teringat dengan Gibran, dulu dia tidurnya seperti itu.
Ghea mencoba mengetuk meja.
Tok.. Tok... Tok..
"Permisi!" Suara Ghea begitu keras.
__ADS_1
Pria itu pun sedikit terperanjat mendengar suara yang tak asing baginya, sampai buku yang menutupi mukanya terjatuh ke lantai, Dia membelalakan matanya saat melihat siapa yang ada di hadapannya itu, yang hanya dihalangi sebuah meja. Begitu juga Ghea, sama terkejutnya dia.
"Ghea?" Gibran mengucek-ngucek matanya. Mungkin saja itu hanya bayangan Ghea.
Ghea jadi gelagapan, sampai dia sedikit menganga, sungguh tak menyangka ternyata pria itu adalah Gibran.
Ah dasar Arumi!
Haruskah dia berlari?
Tidak mungkin!
"A-aku...aku dari Adva ingin mengajak kerjasama dengan Once, tapi kenapa kamu disini?"
"Adva? Harusnya aku yang bertanya kenapa bisa kamu ada di Adva?"
Mulutnya terasa berat untuk menjawab pertanyaan Gibran, dia sangat terlihat gugup. Jantungnya berdegup begitu kencang tidak mampu melihat wajah Gibran.
"A-aku rasa tidak tepat waktu untuk datang kesini, aku pergi dulu!" Ghea memilih pergi saja.
Gibran segera berlari dan menghalangi jalannya, "Tidak bisa! Kamu tidak boleh pergi."
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...
__ADS_1