
"Apa ayah yang menyuruh Ghea pergi?" tanya Gibran kepada ayahnya dengan nafas terengah-engah, dari pagi sampai sore dia terus mencari Ghea bahkan dia menyuruh detective handal untuk mencari keberadaannya Ghea juga.
"Dia yang memilih untuk pergi dari rumah ini. Biarkan saja dia pergi, ayah tidak ingin kamu berurusan dengan dia lagi." jawab Pak Reza dengan santai.
"Kenapa ayah tega melakukannya? Bukannya ayah sangat menyayanginya?"
"Karena ayah menyayanginya, ayah menyuruhnya pergi. Ini untuk kebaikan kita bersama. Sampai kapanpun ayah tidak akan menyetujui hubunganmu dengan Ghea? Ghea itu kakak iparmu, walaupun Ghea dan Romi akan bercerai tapi kamu tidak pantas jika menjalin hubungan dengan Ghea nanti, akan jadi aib buat keluarga kita, buat perusahaan kita. Jadi kamu harus mengerti itu!"
Gibran menggeleng, dia tidak habis pikir dengan pemikiran ayahnya itu, begitu sangat kecewanya dia atas tindakan sang ayah, "Ini sangat tidak adil untuknya, bagaimana bisa ayah memperlakukan dia seperti itu hanya karena ayah sudah memberikan banyak hal kepadanya? Baik, kalau memang ini takut jadi aib, aku akan pergi dari rumah ini dan keluar dari perusahaan. "
Pak Reza tak terima jika Gibran pergi dari rumah apalagi kalau sampai keluar dari perusahaannya. "Tidak bisa! Kamu tidak boleh pergi!"
"Awalnya aku ingin memaafkan ayah karena ayah sudah membuat mama menderita, tapi kali ini ayah membuat aku kecewa lagi." Setelah berkata begitu, Gibran pun langsung pergi dari rumah yang dari kecil ditempatinya itu.
Pak Reza mencoba mencegahnya agar Gibran tidak pergi dari rumah "Gibran, jangan pergi! Kamu tidak boleh pergi!"
****************
Hari ini Bu Fara pergi ke panti asuhan itu sendirian karena dia tau suaminya sedang sibuk dengan pekerjaannya dan Kia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya.
"Ada keperluan apa ya ibu datang kesini?" tanya Bu Reni, saat itu mereka sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Emmm... apa dulu Ghea Anastasya tinggal disini?"
"Benar sekali bu, tapi ada apa ya?"
Bu Fara mulai menceritakan masa lalunya "Saya sudah lama kehilangan putri saya, karena itu saya ingin mengetahui segala hal tentang Ghea, karena saya merasa Ghea itu ada kemiripan dengan anak saya yang hilang."
Bu Alma yang mendengarkan cerita dari Bu Fara dari tadi, dia segera memberikan sebuah dus yang berisi pakaian yang dulu di pakai Ghea pertama kali kesini, dan juga kalung yang liontinnya berbentuk V itu. Tentu saja Bu Fara mengenal itu semua.
Bu Fara langsung histeris melihat itu semua "Oh ya ampun, ini milik Vanya, anakku!" Bu Fara mengatakan itu sambil tangisannya meledak. Akhirnya dia bisa menemukan anak yang selama ini dia cari, sampai rasanya begitu sesak.
"Aku dengar Ghea sudah tidak tinggal di rumah mertuanya, lalu sekarang dimana Ghea?"
Rupanya Ghea sedang berada di Kota C, butuh waktu lebih dari 6 jam untuk pergi kesana. Disepanjang perjalanan Bu Fara tak bisa berhenti menangis, dia tak menyangka akhirnya dia akan bertemu lagi dengan anak yang selama ini dicarinya, bahkan dia pernah bertemu dengan Ghea sekali.
Anakku...ternyata kita pernah bertemu, Nak.
Saat ini Ghea tinggal di rumah kecil yang berada di tepi pantai untuk menenangkan hatinya.
Dia berjalan di tepi pantai membiarkan kakinya basah diguyuri ombak.
Jadi seperti ini kah hidup bebas itu? Dia bisa bebas melakukan apa yang dia mau, tidak ada yang memerintah dan menekannya ini itu, tapi rasanya hatinya begitu kosong, mungkin karena dia sulit untuk melupakan Gibran di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Vanya!"
Ghea mendengarkan seorang wanita memanggil nama Vanya kepadanya. Ghea segera membalikan badan.
"Bu Fara?" Ghea terkejut ternyata yang memanggilnya Vanya adalah Bu Fara.
Tanpa basa basi Bu Fara langsung memeluk Ghea dengan terisak, membuat Ghea terbelalak dan mematung "Akhirnya mama menemukanmu, Vanya, anakku!"
Anakku? Apakah itu berarti Bu Fara adalaha ibunya? Hati Ghea bertanya-tanya seperti itu, dia jadi sulit mencerna kata-kata Bu Fara yang sudah jelas itu karena dia sangat shock tiba-tiba ada yang memaggilnya anakku.
Ghea tidak bisa menafsirkan perasannya sekarang ini, yang dia tau hanyalah air mata begitu mengalir dengan sangat deras. Bahkan suara desir ombak pun tak bisa mengalahkan suara tangisan mereka.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...
__ADS_1