Gairah Cinta Adik Ipar

Gairah Cinta Adik Ipar
Calon Pacar VS Calon Istri


__ADS_3

Roy sedang menikmati jus segar di dekat area titik pendaratan, rupanya syuting iklan hari ini sudah selesai dengan baik, dia sudah tidak sabar ingin menunggu jawaban dari sang manager Adva nanti.


Dia terkejut saat melihat Ghea dan Gibran sedang berjalan beriringan.


"Bagaimana asyik kan?" tanya Gibran.


"Lumayan," jawab Ghea singkat.


"Semalam tidurmu nyenyak sekali, bahkan memeluk badanku begitu erat, apa kamu kedinginan?" Gibran menceritakan itu sambil tersenyum-senyum.


Ghea jadi salah tingkah mengingat kejadian semalam itu, "Jangan membahasnya!"


"Akui saja kalau sebenarnya kau nyaman denganku!"


Ghea tidak tau bagaimana memperlakukan pria yang sedang bersamanya ini, karena dia tau Gibran buka tipe orang yang gampang menyerah. Sementara Ghea bukan tipe orang yang mementingkan soal perasaannya sendiri, walau tau dirinya memiliki perasaan pada Gibran, tapi dia begitu kuat bergelut dengan perasaannya.


Dia melihat Roy datang menghampiri mereka, Roy sudah lama memperhatikan mereka dengan perasaan cemburu.


"Kalian main paralayang juga?" tanyanya.


"Iya, kita bermain paralayang bersama." jawab Gibran seolah sedang memamerkan kedekatannya dengan Ghea.


Roy terlihat kesal mendengarnya, dia tau seperti apa perasaan Ghea pada Gibran, karena itu dia tidak boleh hilang kesempatan untuk menagih jawaban dari Ghea, dia menarik tangan kanan Ghea, "Ayo kita membicarakan obrolan kita yang tadi, Vanya."


Namun Gibran menahan tangan kiri Ghea, "Tidak bisa! Ghea akan disini bersamaku." Dia tau kalau Roy akan menyatakan perasaannya.


"Ghea?" Roy merasa heran kenapa Gibran menyebut Ghea pada wanita yang sedang mereka perebutkan ini.


"Ghea itu adalah panggilan sayang dariku untuknya."

__ADS_1


Ghea merasa pusing dengan ulah mereka, dia mencoba berontak, dia seolah seperti sebuah barang yang sedang mereka rebutkan. "Lepaskan! Kalian apa-apaan sih?"


"Dia calon pacarku, sebentar lagi kita jadian. Jadi lepaskan tanganmu." Roy tidak mau kalah sampai menepis tangan Gibran yang memegang tangan kiri Ghea.


Namun Gibran memegang tangan Ghea dengan kuat, "Dia calon istriku... "


Roy tercengang mendengarnya, begitu juga Ghea.


"Jangan ngarang!" Roy terkekeh.


Gibran menyeringai, "Aku berkata jujur, bahkan saat di atas tadi kita berciuman, dan hari ini aku akan melamarnya. "


Perkataan itu membuat pegangan Roy terlepas, dia sangat kaget mendengarnya, sampai membulatkan matanya dan mematung.


Ghea mendelikinya, mengapa Gibran harus mengatakan hal itu kepada Roy.


Gibran tak berkata apa-apa, dia menarik tangan Ghea membawanya ke pergi ke area parkiran. Sementara Roy hanya terdiam pasrah, tidak ada lagi harapan untuknya.


"Gibran!"


"Kamu mau bawa aku kemana?" Ghea mencoba menarik tangannya agar Gibran mau melepaskan tangannya itu.


Namun Gibran semakin kuat memegang tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil, dia memakaikan sabuk pengaman pada Ghea lalu menutup pintu. Dan dia segera masuk ke dalam mobil melalui pintu yang lain.


"Gibran, kamu mau bawa aku kemana?" Ghea mengulangi pertanyaannya karena tak mendengar jawaban juga dari Gibran. Membuatnya cemas, gelisah dan takut.


"Aku akan melamarmu!"


Ghea terkejut mendengarnya, "Melamar? Kamu pikir menikah itu untuk main-main?"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak pernah main-main denganmu, karena itu kamu harus jadi istriku. Aku sudah bilang dari dulu bahwa aku akan menikahmu."


"Tapi bukan begini caranya... "


"Aku yakin kamu pasti akan berniat untuk pergi lagi agar aku tidak menemukanmu lagi. Karena aku harus mengikatmu."


Ghea terdiam mendengarnya. Memang pernah terlintas pemikiran seperti itu di benaknya.


"Kali ini aku tidak mau terlambat lagi, apalagi sainganku jadi bertambah."


Ucapan Gibran terdengar sangat serius, membuat hati Ghea bergetar, tapi menikah? Ghea sama sekali belum memikirkan hal itu lagi.


"Gibran, jangan bercanda! Menjalani pernikahan itu gak gampang... "


"Akan gampang jika kita menjalaninya bersama. Pilihan apa lagi yang harus kita pilih selain menikah? Apa kita harus berkencan? Aku rasa kita tidak perlu melakukan tahap berkencan karena kita sudah saling mengenal dan saling mencintai bukan ?"


"Lalu bagaimana dengan ayahmu?"


"Itu biar jadi urusanku."


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...

__ADS_1


__ADS_2