
[Sayang, kamu kemana? Kok gak pernah ngabarin aku ]
[Sayang, kok gak di bales sih!]
Dona beberapa kali mengirim pesan pada Romi tapi tidak ada jawaban juga, sungguh membuatnya kesal, "Dia kenapa sih?"
Dona merasa sikap Romi mulai berubah padanya, dia sudah tidak perhatian lagi seperti dulu, bahkan dia sudah jarang memberi pesan kepadanya.
Saat itu Dona sedang makan baru beberapa suap, tiba-tiba dia merasa perutnya sedang di aduk, terasa sangat mual sampai semua yang ada di dalam perut berdesakan ingin keluar, Dona segera berlari ke wastafel dan menumpahkan segala yang ada di dalam perutnya, "Howeek.. howeek!"
Kepalanya terasa berat. Dia teringat selama beberapa bulan ini dia tidak memakai pengaman saat melakukannya bersama Romi.
Dona segera mengecek kalender, kapan terakhir dia datang bulan, dia merasa cemas saat menyadari rupanya dia belum kedatangan tamu bulan ini, dia tampak panik seperti orang ling lung. Dia bergegas untuk membeli testpack di apotik terdekat.
"Nggak! Aku gak boleh hamil dulu! Gak boleh!" Pikiran Dona menjadi tidak tenang.
Dia segera membeli testpack di apotik itu, "A-aku beli testpack tiga, mbak!" Dona mengatakan itu sambil bergetar, dia sengaja memakai masker ke apotik itu karena takut ada yang mengenalinya.
Setelah sampai ke dalam rumah lagi, dia segera mengecek testpack itu dengan air ur*nenya, dia menunggu beberapa menit untuk menunggu hasilsnya dengan perasaan dag dig dug.
Dona tampak shock sampai mulutnya terbuka saat testpack itu memperlihatkan dua garis tanda merah.
__ADS_1
"Tidak! Tidak mungkin!" Dia begitu terkejut saat melihat hasil dari testpack itu.
Dona mencoba lagi dengan dua testpack itu, ternyata hasilnya sama, dia positif hamil.
Dona begitu kebingungan dan panik, "Nggak! Gak mungkin, gak mungkin aku hamil!" lirihnya, dia terus saja berjalan mondar mandir , dia mencoba menelpon Romi.
Tuttt... tuttt.. tuttt..
Romi tidak mengangkat teleponnya.
Pikiran Romi sedang kacau saat mengetahui Pak Reza memutuskan untuk menyetujui permintaan Ghea untuk bercerai dengan Romi.
"Kenapa ayah menyetujuinya? Yang menjalankan pernikahan itu aku, bukan ayah!" Romi mengucapkan kata itu dengan nada tinggi.
Romi menyeringai, "Seharusnya ayah sadar, kita begini gara-gara ayah. Ayah yang selalu memaksakan kehendak kepada kita. Sekarang aku sudah mau menerima Ghea, tapi kenapa ayah membuat keputusan diluar kehendakku?"
Pak Reza hanya terdiam dengan tatapan matanya yang begitu dingin, tak bergeming.
Tanpa terasa air mata Romi mengalir, "Aku selalu menuruti perintah ayah, aku selalu berusaha menjadi anak yang penurut dan membuat ayah bangga, tapi kenapa ayah melakukan ini padaku? Membawanya ke dalam kehidupanku lalu sekarang membiarkannya pergi? Kita bukan robot yang bisa ayah atur seenaknya!"
Bu Rosa mencoba menangkan Romi, "Sudah Romi, jangan seperti ini!"
__ADS_1
"Kenapa kita harus hidup di atur seperti ini, Mah? Apa karena hanya numpang disini?"
"Romi, jaga bicara kamu!" Bu Rosa tidak ingin suaminya marah mendengar ucapan anaknya itu.
Sementara Pak Reza hanya diam membisu, dia diam saja tampak menakutkan.
"Seharusnya mama sadar saat kita sudah tidak dibutuhkan lagi, dia akan membuang kita, sama seperti saat dia memperlakukan istri pertamanya!"
PLAKKK!!!
Pak Reza langsung menampar Romi. Dia sudah habis kesabaran mendengar anak tirinya mengoceh dari tadi. Dia juga sebenarnya sama terluka karena Ghea memilih pergi dari rumah ini.
"Salahkan diri kamu sendiri, seandainya kamu tidak berselingkuh dan bisa membahagiakannya, dia tidak akan meminta kamu untuk menceraikannya."
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...
__ADS_1
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...