
Akhirnya Romi dan Dona menikah, mereka menikah dengan begitu sederhana, hanya di hadiri oleh keluarga saja.
Dan Gibran tidak hadir ke sana.
Seharusnya malam itu jadi malam yang indah buat mereka namun sikap Romi begitu cuek pada Dona.
"Kamu ini kenapa sih? Kamu sudah berubah total gak seperti dulu lagi!" protes Dona.
"Aku capek, aku mau istirahat." Romi merebahkan badannya di atas kasur.
Dia sangat frustasi, itu artinya makin tipis harapannya untuk kembali lagi bersama Ghea.
Ternyata penderitaan Dona bukan selesai disini saja, kupingnya harus kuat seperti baja menghadapi mertua yang cerewet.
Dona kamu harus begini... , dulu Ghea gak begini!
Dona kamu harus begitu... , dulu Ghea gak begitu!
Dona sebagai seorang istri kamu harus bisa memasak, dulu Ghea suka memasak dan masakannya sangat enak!
Dona mama gak suka kalau kamu terlalu sering belanja, hemat dong kaya' Ghea!
Dona... Dona... Dona... Dona... Dona
Berapa kali Bu Rosa memanggil namanya itu, membuat kepala Dona pening, apalagi dia sedang hamil.
Selalu saja dia dibandingkan oleh ibu mertuanya dengan Ghea. Sampai dia merasa frustasi di buatnya, sementara sang ayah mertua tidak pernah sekalipun mengajaknya bicara.
Rumah megah yang dia pikir sebagai surga itu nyatanya seperti neraka dunia. Namun dia harus bertahan demi bayi yang ada di dalam kandungnya itu.
Kini Dona jadi merasakan posisi Ghea yang dulu seperti apa, sikap Romi yang dulu sangat perhatian kepadanya kini tidak dia rasakan lagi. Malah sikap Romi begitu dingin kepadanya.
"Apa gak bisa pulangnya agak siangan? Aku butuh perhatian kamu, anak kita ini ingin sekali diperhatikan sama kamu."
"Aku capek , jangan nuntut aku seperti itu!"
"Aku gak nuntut, tapi itu kewajiban kamu. "
"Bisa gak sih gak mengajak aku berantem?" Romi jadi kesal karena baru saja pulang, Dona sudah mengomelinya. "Kamu itu berbeda sekali dengan Ghea, dia selalu sabar dan selalu menyambut aku dengan tersenyum saat aku pulang, gak pernah nayain apa-apa"
"Kenapa di rumah ini pada bandingin aku dengan Ghea? Kamu juga sama aja. Apa karna sekarang perut aku membucit jadi gak menarik lagi buat kamu?"
Jadi seperti ini rasanya menikahi Dona, wanita yang dulu ingin dia perjuangan sampai rela tidak pernah menganggap keberadaan Ghea, tapi Dona tidak pernah berusaha untuk memperhatikannya, yang ada dia selalu menuntut ini itu padanya.
****************
"Bagaimana? Apa kamu sudah dapat sedikit saja info tentang Ghea?" tanya Gibran kepada kelima detektif yang disewanya.
"Belum, pak." jawab detektif 1 .
"Saya sudah mencarinya kemana-mana, tapi sulit sekali mendapatkan info tentangnya." kata detektif 2 .
__ADS_1
"Apa mungkin dia ganti identitas?" kata detektif 3.
Ya benar, Ghea sudah ganti identitas. Sekarang ini identitasnya adalah Vanya Carisa Oliva, jadi wajar kalau mereka sulit untuk mencari keberadaan Ghea.
Jawaban itu membuat Gibran kesal, kenapa sulit sekali untuk menemukan Ghea. Membuatnya frustasi.
Memulai bisnis dari nol itu tidak mudah, banyak rintangan dan ujian yang dia hadapi dalam menjalankan perusahaannya itu, tapi Gibran sangat bersyukur karena ada dua sahabat yang setia mendukungnya.
Reno yang terjun langsung membantu Gibran, dan Bram yang menjadi investornya. Mereka bergerak di bidang yang sama dengan TVC Media di bidang periklanan.
Reno masih bersikap agak dingin pada Bram karena dulu dia telah menyakiti Arumi.
"Ya ampun... Lu masih kaya' tutut aja tiap ketemu sama gue." Bram mencolek dagu Reno untuk menggodanya.Tapi Reno malah semakin mengerucutkan bibitnya itu.
Sementara Gibran masih fokus mencari info klien di laptopnya. "Lu serius gak jadi nikah, Bram?"
"Wah kenapa jadi bahas itu lagi..itu udah lama! " Bram masih teringat dengan tamparan demi tamparan yang dia dapatkan dari Arumi dan Kia.
"Baguslah kita bertiga memang harus jadi jomblo. Kita ketularan si Reno nih." canda Gibran.
Reno memainkan janggut Gibran yang belum di cukur juga, "Hhh... Gue gemes lihat janggut lu, gue untun ya."
Gibran menepis tangan Reno, "Diem lu!"
Bram hanya cengengesan melihat kelakuan mereka berdua. "Gue gak bisa lama-lama disini, gue kerja dulu ya." pamit Bram.
****************
"Bro, ada sebuah rumah makan yang ingin membuat jasa iklan di perusahaan kita." Gibran memberitahu Reno sambil membaca e-mail dari restoran tersebut.
Satu jam mereka baru sampai di rumah makan tersebut, ternyata rumah makan itu masih baru di bangun dan sebuah rumah makan yang sangat sederhana.
"Kira-kira bagusnya nama rumah makan kita ini apa ya?" Tanya pemilik rumah makan itu.
"Mmm... apa ya?" Reno dan Gibran berpikir sejenak sambil mengunyah kacang goreng yang disuguhkan oleh pemilik restoran itu.
"Rumah makan... Anti galau, nah bagus tuh!" kata Gibran dengan percaya diri.
Reno melempari kacang yang disuguhkan pemilik restoran itu ke arah Gibran.
Plukk!
"Ah elu mentang-mentang lagi galau!" Reno terdiam sejenak jadi ikut berpikir juga sambil mengunyah kacang itu "Rumah makan anti badai, gimana?"
Gibran berbalik melemparkan kacang itu ke Reno, "Lu pikir bulu mata, apa?" Gibran menoleh ke pemilik rumah makan, "Bisa juga diambil dari nama pemilik rumah makan ini Pak?"
"Nama saya Omen, istri saya Dapong."
"Hmm.. Rumah Makan Om... Ompong, unik tuh!" seru Reno.
Gibran menggeleng, "Gak setuju gue!"
__ADS_1
Mereka malah terus berdebat dan saling melempar kacang, membuat yang punya rumah makan itu jengkel. "Kalian ini datang kesini mau kerja atau mau ribut?"
"Hehe... " Mereka jadi terkekeh.
"Bagaimana kalau Rumah Makan Tirai Bambu?" Gibran mengusulkan sarannya kembali, "Kebetulan desain rumah makan ini banyak sekali menggunakan bambu dan begitu terlihat sederhana."
"Mmm... bagus sih Rumah Makan Tirai Bambu, manjakan lidah anda dengan cita rasa asli!" Reno menambahkan slogannya.
"Nah mantap tuh!" Gibran menyetujuinya ide Reno.
"Emmm.... bagus sih. " Pak Omen menyetujuinya.
"Iya, pasti menarik!" Gibran mencoba meyakinkan. "Nah kebetulan teman aku ini lagi santai bisa lah satu hari jadi model disini!" Gibran menepuk pundak Reno.
Reno mendelikinya, "Hhh... lebih bagus modelnya dua, bosku ini dulunya adalah sang Casanova yang ahli untuk memikat hati, cuma sekarang sudah tobat."
Pemilik restoran rumah makan itu tidak mempercayai ucapan Reno karena penampilan Gibran begitu amburadul. Dia teus mendeliki penampilan Gibran membuat Gibran tidak nyaman.
"Kalian atur sajalah masalah itu." Pemilik rumah makan itu tidak mau ambil pusing. "Saya juga punya anak seorang aktor tapi dia akan terlambat datang kesini."
Akhirnya Reno membawa Gibran ke salon, "Tolong permak sahabat aku ini."
Gibran merasa keberatan, " Ngapain sih di permak segala?"
"Terus lu mau memikat pelanggan dengan penampilan lu kaya manusia primirif kaya gini? Yang ada lu membuat orang kabur!"
Akhirnya Gibran pasrah saja....
Benar saja baru juga tiga jam di buka, semua menu di rumah makan itu hampir habis. dan pembelinya kaum hawa semua.
Dan tertera tulisan di dekat Gibran 'pesan dua porsi disini bisa foto bareng gratis sama si abang ini'
Cekrek... Cekrek...
Siapa lagi kalau bukan kerjaan Reno.
Gibran bersedia di foto dengan mereka tanpa merangkul mereka, dia hanya berdiri sambil tersenyum ke kamera.
"Wah ternyata makanannya sangat enak, modelnya ganteng lagi, nanti mampir lagi kesini ah." banyak yang mengatakan hal itu begitu mencicipi masakan disana.
"Mas, boleh minta nomor ponselnya?" tanya salah satu konsumen disana.
"Wah saya sudah punya istri, mbak." jawab Gibran.
"Hmm... sayang sekali!" Padahal wanita itu sangat cantik dan seksi.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat! ...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya. ...
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya! ...