
Bahkan masalah bisnis diantara Bram dan Renata pun sedikit terlupakan mereka malah membahas masalah pribadi mereka.
"Jadi kamu dulu pernah nyakitin cewek?" tanya Renata.
Saat itu mereka sedang duduk di tepi pantai, mereka memilih tempat yang agak sepi karena takut ada yang melihat Renata, tapi Renata tak melepaskan maskernya untuk berjaga-jaga.
"Ya begitulah, makanya aku gak mau gegabah lagi. Aku tidak ingin menyakiti siapapun lagi, aku ingin seumur hidup aku hanya mencintai satu wanita saja seperti sahabat-sahabatku."
"Ceo Once itu Gibran kan?" Tiba-tiba Renata menanyakan itu.
"Hmm... iya, dia ceo yang pengalaman di bidang periklanan, dia sudah menikah sekarang."
"Syukurlah, dulu aku menamainya Ceo tampan saat itu dia merayuku agar bisa bekerjasama dengannya tapi setelah itu dia tidak pernah membalas pesanku bahkan sampai syuting iklan pun dia malah begitu dingin padaku."
"Dia memang dulu seorang playboy tapi sekarang sudah berubah."
"Syukurlah kalau begitu, sementara aku malah bertemu cowok brengsek seperti Dion, beraninya dia mempermainkan aku seperti ini. "
"Harusnya kamu bersyukur untung kamu gak sampai nikah dengannya, bagaimana kalau dia menghianati kamu pas kamu sudah menikah?
"Berarti mantan kamu bersyukur dong gak jadi nikah sama kamu." Renata malah membalikkan ucapan Bram.
__ADS_1
Bram menghela nafas, " Ya beda lah, padahal aku selalu bermimpi untuk menikah itu cukup satu kali saja dalam hidup aku, tapi dia tidak mempercayaiku."
Renata mencondongkan badannya sebentar ke Bram "Ya kalau aku jadi mantanmu, aku juga tidak akan mempercayaimu."
Bram terdengar patah hati mendengarnya, "Wah padahal aku sudah berubah lho."
Sekarang hati Renata jadi tenang, rasa sedih itu menjadi sedikit hilang, suasana pantai membuat hatinya sejuk apalagi ditemani pria yang baru ditemuinya itu tapi mampu membuatnya begitu nyaman dan sudah memberikan kejutan manis hari ini untuk nya.
"Jadi fix ya kamu bisa bekerjasama sama dengan Once."
Renata menghela nafas, "Hmm... aku belum menyetujuinya."
Mereka memandangi ombak yang datang silih berganti menyambut hari yang akan mulai menampilkan indahnya senja di sore hari.
"Dari tadi mantanmu terus memperhatikan kita yang sedang berdansa, kita berhasil membuatnya menyesal sudah menyakitimu." Bram mengatakan itu dengan tersenyum puas.
Renata tersenyum lebar mendengarnya.
Ternyata benar perkataan Bram, kini Dion malah terbakar api cemburu. Dia tidak terima ternyata Renata begitu gampang melupakannya. Apalagi dia mengingat tadi saat Bram dan Renata berdansa begitu mesra, hatinya begitu panas melihatnya.
Dan rupanya Bram berhasil menyogok para wartawan untuk tidak menyebarkan gosipnya dengan Renata tadi.
__ADS_1
...****************...
Gibran dan Reno memperhatikan Bram yang tersenyum-senyum sendirian memasuki kantor. Dia berjalan santai sambil bersiul.
"kenapa tuh anak?" Tanya Gibran.
"Kesambet kali." jawab Reno.
Bram yang baru saja datang langsung mencubit pipi Reno dengan gemas, "Wow akhirnya dia menyetujui untuk bekerjasama dengan kita."
Dengan sekuat tenaga Reno melepaskan diri dari Bram "Aish..."
"Dengan cara apa? Merayunya? Mengancamnya atau apa?" tanya Reno sambil memegang pipinya yang sakit.
"Dengan mengambil hatinya." Bram mengedipkan mata.
Gibran langsung menjabat tangan Bram, "Selamat! Akhirnya lu bakal lepas dari kutukan zomblo."
"Hahaha... " Mereka pun tertawa bersama.
Mereka ini memang seperti kembar siam, tidak bisa dipisahkan oleh waktu dan jarak bahkan saat mereka memiliki masalah serius pun persahabatan mereka masih tetap terjaga sampai sekarang.
__ADS_1