Gairah Cinta Adik Ipar

Gairah Cinta Adik Ipar
Extrapart 15 Keluarga Bahagia


__ADS_3

Saat itu keluarga Pak Herman menginap di sebuah Villa, Gibran, Roy dan Pak Herman sedang lomba memancing ikan di kolam ikan besar yang ada halaman belakang Villa.


Sementara para istri menyemangatinya dari belakang.


"Semangat Gibran!" Ghea menyemangati suaminya.


"Ayo Roy kamu pasti bisa!" teriak Kia.


"Oh ayah kalian pasti yang menang," Bu Fara tidak mau kalah.


Galvin duduk di pangkuan Ghea sambil memainkan mobil mainannya, "ngeng... ngeeeng... "


Sementara Gisell dia memilih duduk di pangkuan tantenya, Kia, sambil memainkan bonekanya.


Yang pada akhirnya mereka pada berantem memperebutkan satu mainan.


"Ini punya aku!"


"Ini punya aku!"


Ternyata mereka sedang memperebutkan pop it.


"Loh pop it yang satu lagi mana, sayang?" tanya Ghea kepada kedua orang anak kembarnya.


"Galvin menghilangkannya. Ini punya aku." kata Gisell yang masih betah duduk di pangkuan Kia.


Sementara Galvin yang duduk di pangkuan Ghea mau menangis, "Hiks... hiks... "


"Ya sudah nanti mama beliin lagi ya, jangan nangis sayang!"


"Gisell juga mau Mah," Gisell juga gak mau kalah.


"Iya Gisell pasti dibelikan juga."


"Ya udah mending pop it nya buat tante saja ya biar gak berantem lagi, nanti mama Gisell dn Galvin mau membeli pop it yang baru." pinta Kia kepada Gisell.


"Ya udah ini buat tante Kia yang cantik." Gisell memberikan pop it nya kepada Kia.


Kia menyembunyikan pop itu di belakang punggungnya. "Nah sekarang Gisell dan Galvin gak usah berantem lagi."


"Wah oma di anggurin nih ceritanya, oma sedih ah!" Bu Fara menggoda Galvin dan Gisell, mereka pun berlarian untuk duduk di pangkuan Bu Fara.


Galvin dan Gisell berantem lagi.


"Aku yang duduk disini!"

__ADS_1


"Gak mau, aku yang duduk disini!"


Bu Fara merangkul kedua cucunya dengan lembut agar keduanya duduk di pangkuannya, "Nah kan kalian sudah duduk di pangkuan oma, sudah ya jangan pada berantem lagi. "


Gisell dan Galvin pun mengangguk.


"Ingat ya yang berantem itu temannya apa?"


"Nenek sihir.." jawab Galvin dan Gisell berbarengan.


"Nah iya nanti kalau kalian berantem lagi, nanti nenek sihir datang kesini terbang memakai sapu lidi, jangan berantem lagi ya."


"Iya oma."


Bu Fara pun mencium pipi kedua cucunya bergantian saking gemesnya.


Ghea hanya diam memperhatikan keluarganya yang begitu sayang pada Galvin dan Gisell, seumur hidupnya dia tidak menyangka bahwa dia akan bisa bertemu lagi dengan keluarganya lagi.


Lomba memancing pun selesai, ternyata yang menang sang mertua tercinta. Pak Herman mendapatkan ikan yang begitu banyak.


Sementara Gibran dan Roy memperdebatkan ikan yang mati, Gibran dapat enam dan Roy dapat lima, tapi ikan punya Gibran mati satu.


"Wah harusnya imbang dong, itu ikannya sudah mati!" canda Roy.


"Wah gak bisa, tetap saja harus dihitung." Gibran tau Roy sedang bercanda.


"Semoga tokcer" bisik Gibran, menyemangatinya.


"Hmm... kalian ngomongin apa sih?" Kia jadi penasaran.


"Gak apa-apa kok, kita belum istirahat, istrihat aja yuk, apalagi ini malam." ajak Roy kepada Kia.


"Mmm... ya udah."


"Kalian mau kemana? Kita mau makan bareng ! Katanya mau bakar ikan?" kata Pak Herman kepada Kia dan Roy yang tiba-tiba pergi.


"Ih ya udah biarin aja, mereka mau istirahat, kan capek habis menggelar acara pernikahan langsung kesini. " kata Bu Fara, dia masih memeluk kedua cucunya . Pak Herman emang gak peka.


Gibran duduk disebelah Ghea, "Aku juara dua, nanti hadiahnya ya." bisiknya.


"Hhh... hanya dapat enam."


"Ya enam juga kan lumayan. Apalagi aku gak bisa mancing ikan, bisanya mancing hati kamu." Gibran mengedipkan matanya.


Ghea hanya tersenyum samar mendapatkan godaan dari Gibran.

__ADS_1


Gibran menatap kedua anaknya yang sedang duduk di pangukuan Bu Fara, "Galvin, Gisell, ayo kesini!"


Galvin pun duduk di pangkuan Gibran dan Gisell duduk di pangkuan Ghea.


"Pop it nya hilang ya? " tanya Gibran kepada kedua anaknya.


"Punya Galvin yang hilang papa, " Gisell yang menjawab.


"Ya sudah nanti papa belikan pop it lagi dan mainan yang lebih banyak lagi!"


"Horeee!" Galvin dn Gisell pun bersorak dengan riang gembira.


****************


Berbeda dengan di sebuah kamar, mereka sedang asik menikmati masa dimana mereka merasa bahwa mereka kini saling memiliki dan ingin saling memperkenalkan bahasa tubuh mereka.


Roy terus mencium bibir Kia sambil berjalan mendekati sofa di dalam kamar itu, ciuman mereka awalnya begitu terasa mesra lembut, namun perlahan-lahan ciuman itu berubah menjadi panas dan menggebu.


Roy menangkup wajah Kia, dia ingin lebih dalam menyusuri setiap inci di dalam rongga mulutnya, semakin ingin memperdalam lagi ciuman mereka. Kia tak bisa mengimbangi belitan liar yang dilakukan Roy, sungguh menbuatnya terasa memabukan.


Roy memojokan Kia di sofa dan menindihnya tubuh Kia sambil menciumi lehernya, lalu mencecapi leher jenjang itu, Roy merasakan seakan ada magnet kuat sehingga dia ingin terus melekat pada tubuh Kia.


Kia merasa geli dan menggeliatkan tubuhnya. "Roy!"


Hawa panas kini membakar tubuh mereka ingin segera di puaskan dan dibebaskan, Roy membopong tubuh Kia ingin memindahkannya ke atas kasur agar mereka bisa bergerak dengan bebas.


Jemarinya mulai menelusuri tubuh indah Kia mendamba disetiap keindahan tubuhnya, dengan cepat dia membuka gaun yang di pakai Kia hanya meninggalkan pakaian dalam saja. Begitu indah bahkan dia tidak percaya bahwa istrinya ini adalah seorang manusia, mungkin kah dia jelmaan bidadari?


Roy mulia membuka ikatan br* Kia dan mulia menciumi di bagian dadanya, menghisapnya dan dan terus memainkan lidahnya disana.


"Ah Roy.. " Kia mulai mendesah.


"Kau menyukainya?" bisik Roy.


Kia hanya mengangguk pasrah dan mendesah.


Kemudian Roy membuka kain yang menutupi Kia di bagian bawahnya dan bergerilya disana dengan lidahnya.


"Ahhh Roy!" Lidah itu membuatnya tidak nyaman tapi malah membuatnya melayang-layang.


Sampai dia mencapai pelepasannya, jiwanya bergetar begitu hebat.


Dan sekarang ke bagian intinya, Roy mulai memasukannya dengan lembut, Kia meringis menahan sakit dibawah sana, tangannya meraih apa saja yang bisa di raih untuk menahan rasa sakit.


Perlahan-lahan Kia mulai menikmati permainan Roy, Roy bergerak dengan lembut agar Kia merasa tidak kesakitan lagi. Roy menciumi dada Kia lagi dan memainkan lidahnya disana.

__ADS_1


"Akh.." Beberapa kali Kia mendesah karenanya.


Dan akhirnya mereka sampai di puncaknya, mereka mengerang bersama-sama saat mereka mencapai pelepasannya dan memuntahkannya di dalam secara bersamaan.


__ADS_2