
Terik matahari mulai menembus jendela kamar, menunjukan jam 06.00 pagi hari, Ghea terbangun dari tidurnya, matanya masih lengket sulit untuk dibuka, dia terbelalak saat menyadari ada sebuah tangan kekar sedang melingkari badannya yang telanjang tanpa sehelai kainpun.
Dia mengusap wajahnya saat menyadari apa yang telah dia lakukan semalam bersama Gibran, entah berapa kali mereka melakukannya lagi sampai kelelahan seperti ini.
Ghea melepaskan pelukan Gibran yang masih tertidur lelap, dia memandangi wajah pria yang kini telah resmi menjadi suaminya, begitu tampan! Wajar saja jika banyak wanita yang menyukainya. Dia harus bersiap-siap menerjang ratusan pelakor yang mencoba mendekatinya.
Tanpa disadari dia telah mengecup bibir Gibran, membuatnya merasa malu pada dirinya sendiri karena seolah-olah sedang mencuri-curi kesempatan saat Gibran sedang tertidur.
Ghea segera bangkit, dia memandangi bercak darah di seprai, pantas saja dia masih merasa sakit di bawah sana, membuatnya mengingat lagi bagaimana permainan mereka semalam sampai membuat dia tidak suci lagi, Ghea terus menelan saliva mengingat itu. Dia pun pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya yang luas itu.
Dia merendamkan dirinya di dalam bathtub dalam waktu yang lumayan lama, membersihkan seluruh tubuh mulusnya. Namun di sela-sela tubuhnya yang mulus itu, dia melihat ada beberapa tanda merah di dadanya sebuah mahakarya yang dibuat oleh Gibran. Tubuhnya hanya di tutupi busa-busa sabun yang melimpah disana.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian lengkap, Ghea mencoba untuk membangunkan Gibran yang masih tertidur, dia duduk di samping Gibran yang masih tertidur hanya di baluti selimut dari pinggang ke ujung kaki, sementara badan atletisnya masih terlihat jelas membuat Ghea terpesona dengan dadanya yang bidang itu "Gibran, ayo bangun! Ini sudah siang lho!"
Gibran membuka matanya dengan perlahan, betapa beruntungnya dia karena wanita yang dicintainya itu yang pertama kali dia lihat saat membukakan mata.
Dia melebarkan senyumnya memandangi paras cantik Ghea, lalu mengusap wajah Ghea dengan lembut, "Ternyata bukan mimpi!"
"Ayo cepat mandi! Aku harus mengganti seprainya." Ghea menarik tangan Gibran untuk bangun.
"Aku masih ngantuk sayang." Gibran menguap karena masih ngantuk. Tapi melihat ekspresi Ghea yang menatapnya tajam membuatnya merinding. "Hmm iya, iya aku mandi."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Gibran yang sudah mandi dan hanya memakai handuk saja dari pinggang ke lutut, dia melihat Ghea yang sudah membereskan tempat pertempuran mereka semalam dan mengganti seprainya.
"Aku sudah siapkan baju untukmu. Mama Papa pasti sudah berangkat kerja, jadi aku akan memasak untukmu, kau mau makan apa?" tanya Ghea sambil merapikan bantal dan guling.
Gibran memeluk tubuh Ghea dari belakang, dia mencium wangi tubuh Ghea membuatnya sangat bergairah "Aku ingin memakanmu saja!"
Ghea kaget "Hhhh... Ini sudah pagi!"
Tapi Gibran malah menciumi leher Ghea dari belakang membuat Ghea kegelian, dia menjadi ketagihan ingin menikmati tubuh mulus istrinya itu "Ayo berolahraga pagi denganku!"
"Apa tidak puas dengan semalam?"
"Tapi... Mmmphhh... "
Gibran langsung menyumpal mulutnya dan menyatukan kedua mulut itu, dia melahap habis bibir manis Ghea, dia terus mengabsen setiap inci di rongga mulutnya, Ghae mulai membalas ciuman itu, dia memegang lembut wajah tampan Gibran sambil menautkan bibir mereka, saling membelitkan lidah dan bertukar saliva tiada henti.
Gibran menghempas tubuh Ghea ke kasur yang empuk dan menindih tubuhnya.
"Gibran!" protes Ghea. "Apa tidak nanti saja... "
__ADS_1
Tapi Gibran tak ingin mendengarkan protesnya. Bi-ra-hi susah menguasai dirinya.
Ciuman itu perlahan turun ke leher jenjang Ghea dan dia mengecup lehernya seraya menghisapnya sampai meninggalkan beberapa tanda merah di lehernya, lalu menghujaninya dengan beberapa kecupan panas.
"Gibrannn.. akh.... " Ghea tampak kegelian.
Gibran tersenyum puas melihat beberapa tanda cintanya membekas di leher Ghea, dia segera membuka baju Ghea yang baru saja dia kenakan beberapa menit yang lalu, kini harus dibuka kembali. Dan langsung mengangkat bra ke atas sehingga terlihat dua bulatan kenyal itu lagi yang berkenalan dengannya semalam.
Gibran melahap dengan rakus salah satu diantara dua aset kenyal itu.
"Akh... "
Ghea malu mengapa kata itu selalu keluar dari mulutnya. Suara indah itu membuat Gibran semakin bersemangat untuk berlama-lama bermain dengan kedua aset kenyal di dada Ghea, begitu terlihat indah! Sampai dia ingin meninggalkan tanda cinta juga di sana.
"Sakit! Kau benar-benar akan memakanku?" protes Ghea saat menerima gigitan kecil di dadanya.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...