
...SELAMAT DATANG DI GERALD KANEđź–¤...
...SEBELUM MULAI MAU TANYA KABAR KALIAN GIMANA HARI INI? HAPPY KAN? OH YA KALIAN UDAH FOLLOW IG FANBASE KAN? UDAH PSTI KAN YAA.....
...DAN YANG BELUM YUK BISA DI FOLLOW AKUN YANG EMANG SELALU AKTIF WALAU JARANG UPDATE....
...@ARCELLAQUEENZIEG...
...@ARCELLAQUEENZIEG...
...@ARCELLAQUEENZIEG...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...@THEYCALLME.QUEEN...
...DI TUNGGU YAA!!!...
...BANYAK BACOT BANGET KAN AKU SENGAJA SI WKWK YAUDAH LANGSUNG AJA YUK YUK KE CERITANYA....
...KALIAN INGAT YA INGATTTT!!! AKU SELALU MANTAU KALIAN MAU DI IG ATAU KOMENTAR HEHEH JADII TERIMA KASIH BANGETT KALAU KALIAN JUGA AKTIF MAU IG ATAU KOMENTARđź–¤...
Papa Gilbert dan mami Lauren yang baru saja mendapat kabar tentang kejadian di Malay tadi langsung panik, hanya mami aja si papa Gilbert enggak biasa aja sok cool.
“Hikss maafin mami hiks nanti
mami ganti mobil kamu
asalkan pulang dengan
selamat hikss” tangis mami Lauren
video call dengan Gerald.
^^^“Janji ya?” Kesempatan dalam^^^
^^^ kesempitan ini namanya Gerald.^^^
“Iya sayang janji”
“Bodyguard udah pada otw sana.
Gimana kondisi yang lain?
Terutama kondisi kakek” tanya papa Gil
^^^“Kepisah, kakek lagi di kamar istirahat” ^^^
“Tumben sekali”
^^^“Kayak gak tau aja” ucap Gerald ^^^
Kakek tak mungkin bisa tidur, ya bisa si tidur cuman agak gelisah sedikit dan pasti dia juga gak bakal tinggal diam untuk permasalahan kali ini.
...TIN TIN...
^^^“Relga dan Rian baru datang” ucap Gerald.^^^
“Yasudah,
kamu urus jangan sampai ada
yang terluka lagi”
^^^“Ya pa” ^^^
...Panggilan berakhir,...
“Huahhh gila” Relga seakan bernafas lega saat duduk di sofa,
“Dapet dua” ucap Rian sambil terhengal-hengal juga.
__ADS_1
“Dimana?”
“Bagasi mobil”
“Bawa ke gudang Ka, gue yang eksekusi” perintah Gerald.
“Baik bos”
“Gue laper” gumam Relga
“Pesen aja, gue bayar” sahut Gerald
“Mahen Nata otw sini?” Tanya Rian
“Sepertinya tidak tuan, karna terakhir mereka menghubungi tadi bilang lebih baik mereka berada di markas sana dulu agar tidak ketahuan” ucap Gentala
“Ohh, Kakek mana?”
“Istirahat” ucap Gerald yang baru kembali dari kamar mengambil barang miliknya.
“Ck, si anj” gumam Rian
“Coba cara baru Ger, potong dari langit-langit mulut sampe tembus” ucap Relga
“Jijik” ucap Gerald
“Syalan, tapi keknya asik cok”
“Psikopat lo berdua anj”
“Kek lo enggak aja” sahut Relga,
“Hubungi Nata minta mereka ke sini”
“Okee” ucap Rian
Gerald menuju gudang untuk mengintrogasi tawanan dan sedikit bermain-main untuk melampiaskan emosi Gerald.
Note : harusnya pake bahasa Inggris ya tapi aku jadiin bahasa Indonesia aja biar mudah.
“LEPASIN KITA!!!”
“Badjingan kalian!!”
“Keluarkan kami”
“Tuan muda” sapa penjaga
“Laporkan” perintah Gerald.
“Mereka masih bungkam dan tadi mereka mencoba untuk bunuh diri dengan mengigit racun yang sudah mereka siapkan di mulut mereka”
Gerald menatap dua orang itu, pantas saja darah bercucuran di mulut merek ternyata anak buahnya memaksa melepaskan gigi yang ada.
“Siapa yang mengirim kalian” tanya Gerald
Mereka tetap bungkam, Gerald jika sudah marah tak akan ada belas kasihan di dirinya. Dia akan menjadi orang yang paling tega membunuh manusia di hadapan manusia lainnya.
“Apa di sini tidak ada samurai?” Tanya Gerald,
“Hanya ada pedang tuan”
“Gue perlu gunting kebun” pinta Gerald,
“Hah? Ya?”
“Sekarang!”
“Baik tuan”
Gerald mematikan ponselnya menunggu kabar dari orang suruhan papa Gilbert untuk mencari tau siapa dalangnya namun sepertinya cukup susah karna orang-orang ini terlatih dan dapat mereka duga kalau orang ini salah satu anggota pembunuh bayaran.
“Ini tuan” Gerald menatap lalu mengambil gunting tersebut, basah. Guting itu sepertinya habis di cuci dan Gerald tak mempermasalahkan itu.
“Apa kalian masih mau bungkam?”
“Prsetan dengan kalian!!”
“Kami akan tetap akan diam!!!” Gerald tersenyum.
__ADS_1
“Oke, gue cuman perlu satu orang” ucap Gerald lalu mendekat ke salah satu yang sedari tadi banyak diam di antara keduanya.
...KREAKKKK...
“Akhhhhhhhhhhh arghhhhh arghhhhhhhh!!!” Teriaknya kesakitan karna tanpa bius atau apapun salah satu telinganya di potong hingga lepas dari kulit kepalanya.
“Masih mau tutup mulut?” Yang banyak bicara itu diam melihat rekannya yang masih kesakitan dan darah dari telinga yang terpotong itu masih keluar tanpa henti.
“ARGHHHHHHH!!!” Kini daging di paha nya di gunting Geral, seperti tengah menggunting kertas seperti itulah Geral menggunting paha tersebut sangat slay.
“Amp arghhh ampunnn ampunn hikss”
“Siapa yang mengirim kalian?”
“Tak menjawab? Oke!”
“Ighhhhhhhh eughhhhhh amp argh ampunnnnnn!!!” Gerald memotong daging di paham yang lainnya seakan yang di potong ini kertas Gerald sangat biasa saja responnya.
“Kat!! Katakan ughh katakan saj hikss arghh!!!”
“Amp arghhh ampun!!!”
“Tol hufftt hufft amp eughhh ampun tolo hikss tolong!!!”
“Masih mau bungkam?” Tanya Gerald lagi terakhir kalinya.
“Aku akan memberitahu semuanya, tapi berjanjilah untuk mengobati nya dan melepaskan kami”
“Terlalu banyak permintaan kalian, pilih salah satu” perintah Gerald.
“Bebaskan kami”
“Oke”
“Tepatilah janji mu anak muda!”
“Jangan terlalu bertele-tele syalan!”
“Tidak tau siapa yang meminta yang jelas target kami adalah Mahendra Saputra orang itu meminta kami untuk membunuh Mahen dengan bayaran sekitar 800juta rupiah”
“Alasannya?”
“Tidak tau, mereka hanya meminta kami membunuhnya dan mengirimkan bukti bagian tubuh manapun agar dapat di percaya dan kami menerima bayaran ”
“Kalian ada berapa orang?"
“Sepuluh terbagi tiga kelompok. Karna misi kali ini gagal sepertinya mereka berpencar untuk bersembunyi dan merencanakan ulang apa yang terjadi”
“Kalian membocorkan informasi ini sama saja seorang pengkhianat. Apa yang akan kalian lakukan setelah kami lepaskan?” Tanya Rian
“Yang pertama mengobati rekan ku dulu dan meninggalkan misi juga organisasi kami. Karna berkhianat sama saja bunuh diri bagi kami jika kembali”
“Siapa target mereka” tanya Relga yang menyusul Rian ke ruangan ini.
“Mahen” ucap Rian
...PRANGGG...
“Urus! Obati jangan biarkan mereka pergi sebelum gue bilang kita di zona yang aman!!” Gerald melempar gunting kebun tersebut dan memberikan perintah lalu pergi meninggalkan ruangan yang bau amis darah segar tersebut.
“Kenapa diam? Segera lakukan pengobatan!” Perintah Rian ke anak buah yang berjaga.
Anak buah Ouranos itu selain sebagai bodyguard juga sebagai dokter dadakan, mereka memiliki sertifikat kedokteran dan bela diri, juga hukum negara. Sudah di bilang siapapun yang mau jadi anggota Aquila bakal memiliki hidup tentram walau ada sisi brutal juga seperti saat ini. Gak paham kan maksud nya sama aku juga hehehe.
Tanpa sadar Gerald membiarkan mereka hidup, sebenarnya Gerald berniat membunuh salah satu dari mereka tetapi membunuh mereka terlalu cepat untuk mereka bertemu dengan Tuhan.
“Dimana mereka!!” Tanya Gerald, mereka yang di maksud adalah Mahen dan Nata karna belum juga datang sudah hampir dua jam di tunggu.
“Tuan Mahen berkata kalau di sana aman dan lebih baik berpisah seperti ini dulu untuk sementara waktu” lapor Arka.
“Siapkan mobil”
“Baik tuan” Gerald berjalan menuju lantai dua dimana kakek tengah beristirahat.
Gerald membuka pelan pintu kamar kakek, gelap karna semua celah cahaya masuk di tutup bahkan lampu juga dimatikan. Hanya lampu tidur yang sedikit redup menerangi kamar ini,
Setelah mengecek keadaan kakek, Gerald kembali turun dan langsung mengambil kunci mobil. Relga dan Rian hendak ikut namun Gerald memerintahkan mereka untuk menjaga kakek karna kita tak tau musuh bisa saja menyerang mereka kapan saja.
...đź–¤JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENđź–¤...
__ADS_1